Khutbah

Khutbah Jumat: 4 Hal yang Menghalangi Terkabulnya Doa Seorang Muslim

NU Online  ·  Kamis, 30 Juli 2026 | 11:30 WIB

Khutbah Jumat: 4 Hal yang Menghalangi Terkabulnya Doa Seorang Muslim

Khutbah Jumat (Magnific)

Doa adalah ibadah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Melalui doa, seorang hamba mencurahkan segala harapan, memohon pertolongan, serta mengakui bahwa hanya Allah Swt. yang mampu mengubah segala keadaan. Namun, mengapa ada doa yang terasa belum kunjung dikabulkan? Apakah terdapat amalan atau perbuatan yang menjadi penghalang terkabulnya doa?

 

Teks khutbah Jumat berikut berjudul “Khutbah Jumat: 4 Hal yang Menghalangi Terkabulnya Doa Seorang Muslim.”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat.

 

Khutbah I


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 


قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَࣖ

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,


Segala puji dan syukur bagi Allah Swt Tuhan semesta alam yang tak henti-hentinya menurunkan rahmat-Nya kepada kita sehingga kita masih bisa beribadah dan melaksanakan shalat Jumat dalam keadaan sehat wal-afiyat.

 

Shalawat beserta salam tak lupa semoga tercurahkan bersama kepada baginda kita, Nabi Muhammad saw, juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya. Aamiiin ya Rabbal ‘alamin.

 

Tak bosan pula, khatib juga mengajak pada jamaah sekalian sekaligus diri pribadi agar selalu meningkatkan takwa kepada Allah Swt dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,


Salah satu perintah Allah Swt. yang paling agung kepada umat Islam adalah berdoa kepada-Nya. Doa bukan sekadar rangkaian kata yang dipanjatkan, melainkan wujud penghambaan, pengakuan atas kelemahan diri, serta bukti bahwa hanya Allah tempat bergantung dan memohon segala kebutuhan.

 

Allah sangat mencintai hamba yang senantiasa mengangkat tangan dan memohon kepada-Nya. Sebab, setiap doa adalah tanda keimanan bahwa tidak ada kekuatan dan pertolongan selain dari Allah. Sebaliknya, enggan berdoa menunjukkan sikap merasa tidak membutuhkan pertolongan-Nya, sebuah kesombongan yang sangat dibenci oleh Allah.

 

Allah Swt. berfirman dalam Surah Ghafir ayat 60:

 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

 

Artinya: "Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan).' Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan hina." (QS. Ghafir: 60)

 

Ayat ini merupakan bukti kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah tidak hanya membuka pintu doa, tetapi juga menjanjikan untuk mengabulkannya. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh merasa ragu atau malu untuk memohon kepada Allah, baik dalam urusan besar maupun kecil.

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,

 

Mari kita merenung sejenak. Setiap dari kita memiliki doa yang dipanjatkan tiap harinya. Doa yang berisi harapan, keinginan, cita-cita dan kebaikan lainnya. Namun, seringkali doa yang dipanjatkannya tak kunjung dikabulkan. Lantas apa saja yang membuat sebuah doa terhalang atau tak terkabulkan?

 

Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad, mengatakan dalam kitab An-Nafaisul Uluwiyah fi Masailis Shufiyah halaman 197, bahwa di antara penyebab doa muslim terhalang ialah memakan dan menggunakan barang haram, berbuat zalim kepada sesama muslim, berdoa namun lalai terhadap perintah Allah, serta mereka yang memutus tali silaturahmi dengan saudara-saudaranya sesama umat Islam. 

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,

 

Pertama, mengonsumsi dan menggunakan harta yang haram. Salah satu penghalang terbesar terkabulnya doa adalah ketika seseorang membiarkan dirinya hidup dari sesuatu yang diharamkan Allah. Bukan hanya makanan dan minuman, tetapi juga pakaian, tempat tinggal, serta berbagai kebutuhan hidup yang diperoleh dari harta yang tidak halal.

 

Apa yang kita makan akan berubah menjadi darah, daging, dan tenaga yang menggerakkan tubuh. Begitu pula pakaian dan berbagai fasilitas yang kita gunakan setiap hari. Jika semuanya berasal dari harta yang haram, maka hal itu tidak hanya mengotori kehidupan lahiriah, tetapi juga menjadi penghalang antara seorang hamba dengan rahmat Allah. Lisannya mungkin khusyuk berdoa, tetapi ada penghalang yang membuat doanya sulit menembus langit.

 

Rasulullah Saw. telah memberikan peringatan yang sangat menyentuh melalui sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Nabi menceritakan tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh. 

 

Rambutnya kusut, tubuhnya dipenuhi debu, lalu ia mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berulang kali memohon, "Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku." Semua keadaan itu merupakan adab yang sangat dekat dengan terkabulnya doa.

 

Namun Rasulullah Saw. kemudian bersabda:

 

"Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari harta yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?" (HR. Muslim).


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,

 

Kedua, berbuat zalim kepada sesama. Ketiga, lalai menjalankan perintah Allah. Kedua sikap ini juga termasuk penghalang terkabulnya doa. Seorang muslim tidak cukup hanya rajin berdoa, tetapi juga dituntut menjaga hubungannya dengan Allah (ḥablum minallāh) dan dengan sesama manusia (ḥablum minannās). Ketika seseorang gemar menzalimi orang lain atau mengabaikan kewajiban yang diperintahkan Allah, maka ia telah membangun penghalang bagi doanya sendiri.

 

Kezaliman adalah dosa yang tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga mengotori hati pelakunya. Demikian pula sikap lalai terhadap perintah Allah, baik dengan meninggalkan kewajiban maupun membiarkan kemungkaran terus berlangsung tanpa ada upaya untuk memperbaikinya. Padahal, seorang mukmin diperintahkan untuk memulai amar makruf dan nahi munkar dari dirinya sendiri, kemudian mengajak orang lain kepada kebaikan sesuai kemampuan.

 

Rasulullah Saw. mengingatkan bahwa ketika amar makruf dan nahi munkar ditinggalkan, bukan hanya kerusakan sosial yang akan meluas, tetapi juga doa-doa yang dipanjatkan berisiko tidak dikabulkan. Nabi bersabda:

 

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

 

Artinya: "Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Jika tidak, Allah hampir saja menurunkan azab kepada kalian. Kemudian kalian berdoa kepada-Nya, tetapi doa kalian tidak dikabulkan." (HR. At-Tirmidzi).


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,

 

Keempat, berdoa untuk perbuatan dosa atau memutus tali silaturahmi. Doa adalah ibadah yang mulia. Karena itu, isi doa pun harus mencerminkan nilai-nilai yang diridhai Allah. Seorang muslim tidak dibenarkan memohon sesuatu yang mengandung maksiat, kezaliman, atau keinginan untuk memutus hubungan kekeluargaan dan persaudaraan.

 

Memutus tali silaturahmi merupakan perbuatan yang sangat dibenci dalam Islam. Ketika seseorang berdoa agar hubungan dengan saudaranya terputus atau memohon sesuatu yang mengandung dosa, ia telah menjadikan doanya sebagai sarana untuk keburukan. Padahal, doa seharusnya menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah, bukan alat untuk melampiaskan kebencian atau permusuhan.

 

Rasulullah Saw. bersabda:

 

مَا مِنْ أَحَدٍ يَدْعُو بِدُعَاءٍ إِلَّا آتَاهُ اللَّهُ مَا سَأَلَ أَوْ كَفَّ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهُ، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ

 

Artinya: "Tidaklah seseorang berdoa melainkan Allah akan memberikan apa yang dimintanya atau menghindarkan darinya keburukan yang sepadan dengannya, selama ia tidak berdoa untuk suatu perbuatan dosa atau memutus hubungan kekerabatan." (HR. At-Tirmidzi).


 

Dari uraian di atas, kita belajar bahwa terkabulnya doa tidak hanya bergantung pada kesungguhan saat bermunajat, tetapi juga dipengaruhi oleh kualitas kehidupan kita. Menjaga kehalalan rezeki, menjauhi kezaliman, menaati perintah Allah, serta memelihara tali silaturahmi merupakan bagian dari ikhtiar agar doa-doa kita lebih dekat kepada ijabah.

 

Semoga Allah Swt. membersihkan hati kita, melapangkan jalan bagi terkabulnya doa-doa kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa taat, rendah hati, serta istiqamah dalam kebaikan. Āmīn yā rabbal 'ālamīn.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ


Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ


أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
 

 اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
 

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

 

-------
​​​​​​​Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu