Karhutla Meluas di Wonosobo Jateng, Banser Berjibaku Padamkan Api di Medan Terjal
Rabu, 30 September 2026 | 11:00 WIB
Jakarta, NU Online
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Perhutani Wonosobo, Jawa Tengah, meluas hingga sekitar tujuh hektare. Kondisi medan yang sulit, angin kencang, dan kepulan asap pekat menjadi tantangan bagi relawan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang terlibat dalam upaya pemadaman.
Pada 23 dan 24 September 2026, kebakaran meluas di sejumlah wilayah. Angin yang bertiup cukup kencang membuat api lebih mudah menyebar, sementara pepohonan yang tumbang menambah kesulitan dalam proses pemadaman.
Kebakaran terjadi di Kecamatan Wadaslintang yang meliputi enam desa, yakni Desa Trimulyo, Somogede, Kaligowong, Kumejing, Ngaliyan, dan Kalidadap. Selain itu, kebakaran juga terjadi di Desa Ngadisono, Kecamatan Kaliwiro.
Wakil Ketua Bidang Sosial dan Pemberdayaan Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Wonosobo, Wahab Abdillah, mengatakan Bagana (Banser Tanggap Bencana) Wonosobo terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonosobo dalam penanganan karhutla.
“Setelah kami turun langsung untuk membantu memadamkan api di Kecamatan Kaliwiro dan Kecamatan Wadaslintang, ini terjadi lagi tapi di wilayah yang berbeda yaitu Kecamatan Kalikajar,” ujarnya kepada NU Online, Rabu (30/9/2026).
“Kebakarannya itu terjadi di daerah yang dekat Gunung Sumbing. Kita sedang menunggu laporan dan akan kita usahakan turun. Bagana Wonosobo ini terus berkoordinasi dengan BPBD Wonosobo untuk penanganan kebakaran hutan ini,” lanjutnya.
Ia menyampaikan, koordinasi dilakukan setelah Bagana menerima informasi dari kader Ansor yang berada di desa-desa. Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada BPBD untuk menentukan langkah penanganan.
“Kami kalau mendapatkan infromasi dari para kader di desa-desa,” ujarnya.
Wahab mengatakan, kebakaran hutan menjadi persoalan yang kerap muncul ketika musim kemarau tiba. Kondisi kekeringan membuat vegetasi mudah terbakar, sementara ketersediaan air untuk pemadaman juga terbatas.
“Kalau di Wonosobo itu ketika musim kemarau tiba, ada aja di desa itu terjadi kebakaran hutan,” katanya.
Menurutnya, penyebab kebakaran tidak selalu sama. Sebagian terjadi karena kesengajaan, sementara lainnya dipicu aktivitas masyarakat yang tidak diawasi.
“Selain itu memang ada faktor lain yaitu ada yang kasusnya sengaja dibakar, tapi ada juga yang karena membakar sampah jadi kemana-mana apinya,” ungkapnya.
Wahab menyampaikan, pemadaman dilakukan dengan sejumlah metode, antara lain gepyok, penyemprotan air, serta berbagai upaya manual lainnya. Metode gepyok dilakukan dengan memukul atau menekan sumber api menggunakan peralatan sederhana untuk menghentikan penyebarannya.
“Tantangan yang kami hadapi itu medannya memang sulit karena di tebing gitu ya jadi curam,” ungkapnya.
Selain medan terjal, ia mengatakan kepulan asap yang cukup pekat turut mengganggu pernapasan, penglihatan, dan pelaksanaan operasi pemadaman.
Wahab mengimbau masyarakat Wonosobo tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama saat musim kemarau.
“Kami menghimbau masyarakat Wonosobo jangan asal membuang puntung rokok dan membakar sampah yang tidak diawasi, karena kalau asal bakar, asal buang puntung rokok itu potensi menyebar apinya lebih besar,” pungkasnya.