Massikiri, Tradisi Pujian Nabi dari Maros yang Terancam Kehilangan Generasi
Senin, 7 September 2026 | 10:00 WIB
Tradisi Massikkiri di Dusun Lalang Tedong, Maros, Sulawesi Selatan. Selasa (4/9/2026). (Foto: dok istimewa)
Maros, NU Online
Tradisi Massikiri atau Zikkiri Loppo menjadi salah satu bentuk ekspresi keislaman masyarakat Bugis-Makassar yang masih hidup di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Tradisi ini dilakukan dengan membaca bait-bait syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW dalam kitab Syaraful Anam secara bersama-sama.
Pembacaan Zikkiri Loppo dilantunkan dengan langgam Bugis-Makassar. Langgam tersebut menjadi warna lokal dalam pembacaan syair tanpa mengubah lafaz yang terdapat dalam teks.
Namun, di tengah perkembangan zaman, keberadaan tradisi ini menghadapi tantangan regenerasi. Minat sebagian generasi muda untuk mempelajari Massikiri dinilai semakin berkurang.
Dg Sappe, salah seorang tokoh masyarakat di Dusun Lalang Tedong, Desa Ampekale, mengatakan generasi muda perlu kembali dikenalkan dengan tradisi tersebut.
“Tradisi sikkiri semakin hari banyak anak muda yang tidak mau belajar zikkiri, padahal ini adalah salah satu tradisi untuk mensyiarkan pujian-pujian kepada Nabi,” kata Sappe, Sabtu lalu.
Menurutnya, Massikiri tidak hanya berkaitan dengan seni melantunkan syair, tetapi juga menjadi salah satu media masyarakat untuk mengekspresikan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Perlu Pendekatan bagi Generasi Muda
Persoalan regenerasi juga dirasakan oleh kalangan remaja masjid. Karim, salah seorang remaja masjid di Dusun Lalang Tedong, berpandangan bahwa pelestarian tradisi membutuhkan pendekatan yang lebih dekat dengan karakter generasi muda.
“Perlu ada pendekatan yang lebih inovatif agar anak-anak muda NU di dusun ini tertarik kembali belajar Zikkiri' sebab di dalamnya ada banyak syair yang dalam dan penuh makna.”
Karim menilai generasi muda NU dapat mengambil peran dalam memperkenalkan kembali Zikkiri' Loppo melalui kegiatan keagamaan dan ruang-ruang kreatif yang mereka miliki.
Upaya tersebut penting agar Massikiri tidak berhenti sebagai tradisi yang hanya dikenang oleh generasi tua. Generasi muda perlu diberi kesempatan untuk mempelajari teks, memahami kandungan syair, sekaligus mengenal langgam yang menjadi ciri khas masyarakat Bugis-Makassar.
Bagi masyarakat NU di Maros, merawat tradisi seperti Zikkiri Loppo juga berarti menjaga salah satu khazanah keislaman lokal yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat.
Pelestarian tidak harus berarti mempertahankan bentuk lama secara kaku. Yang tidak kalah penting adalah memastikan nilai, pengetahuan, dan makna yang terkandung di dalamnya tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dengan demikian, Massikiri bukan sekadar lantunan syair. Tradisi ini menjadi ruang yang mempertemukan budaya lokal, kecintaan kepada Nabi, dan ikhtiar regenerasi anak muda NU di tengah perubahan zaman.