Daerah

Saat Korban Banjir Aceh Timur Menanti Huntara yang Tak Kunjung Ada Hingga Jelang Lebaran

Selasa, 10 Maret 2026 | 18:00 WIB

Saat Korban Banjir Aceh Timur Menanti Huntara yang Tak Kunjung Ada Hingga Jelang Lebaran

Warga Aceh Timur masih di tenda pengungsian menanti hunian sementara. (Foto: dok warga)

Aceh Timur, NU Online

Ramadhan terus melangkah menuju penghujungnya. Namun bagi ribuan korban banjir di Aceh Timur, suasana menjelang Idulfitri masih dibayangi kecemasan. Di sejumlah titik pengungsian, tenda-tenda darurat masih berdiri, menjadi tempat bertahan para penyintas di tengah keterbatasan.


Berdasarkan laporan terbaru pada Minggu (8/3/2026), sebanyak 2.326 jiwa dari 696 kepala keluarga masih bertahan di berbagai titik pengungsian yang tersebar di Kecamatan Pante Bidari, Serbajadi, dan Simpang Jernih. Mereka merupakan warga yang terdampak banjir bandang pada akhir November 2025.


Hingga kini, hunian sementara (huntara) yang diharapkan menjadi tempat bernaung belum sepenuhnya tersedia. Sebagian warga masih tinggal di tenda pengungsian, sementara lainnya terpaksa menumpang di rumah kerabat.


Di Kecamatan Pante Bidari terdapat tujuh titik pengungsian dengan jumlah 930 jiwa. Di Kecamatan Serbajadi, 936 jiwa tersebar di lima titik pengungsian. Sementara di Kecamatan Simpang Jernih, 460 jiwa masih bertahan dalam kondisi yang jauh dari kata nyaman.


Keprihatinan atas kondisi tersebut disampaikan Ketua Ansor Aceh Timur, Cak Damar. Ia menilai kenyataan bahwa ribuan korban banjir masih berada di pengungsian menjelang Idulfitri merupakan persoalan kemanusiaan yang tidak boleh dianggap biasa.


Menurutnya, hari raya bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga momen kebersamaan keluarga dan ketenangan batin setelah menjalani ibadah puasa. Karena itu, ketika masih banyak warga berpotensi merayakan Lebaran di bawah tenda, hal tersebut menjadi luka sosial yang perlu segera diatasi.


Cak Damar menyampaikan keprihatinannya atas lambannya penyediaan hunian layak bagi para korban banjir. Ia menilai negara harus benar-benar hadir, bukan hanya melalui pendataan atau koordinasi administratif, tetapi melalui kepastian tempat tinggal yang dapat segera dihuni masyarakat.


Bagi keluarga korban banjir, tenda pengungsian mungkin cukup untuk bertahan pada masa darurat. Namun ketika kondisi itu berlangsung berbulan-bulan, tenda tidak lagi menjadi solusi.


Di ruang sempit itulah anak-anak tidur dalam keterbatasan, para ibu menyiapkan kebutuhan keluarga dengan serba kekurangan, dan para orang tua menahan kecemasan sambil menunggu kabar baik.


Pemerintah Kabupaten Aceh Timur sendiri menyatakan terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait pembangunan huntara. Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan pembangunan yang dikerjakan vendor di bawah pengawasan BNPB.


Ia memastikan huntara harus segera selesai agar masyarakat dapat beristirahat dan beribadah dengan lebih tenang di tempat yang layak.


Namun di lapangan, warga masih menunggu realisasi yang nyata. Kepala Dusun Rantau Panjang, Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, Jahidin, menyebut bahwa perkembangan pembangunan huntara di wilayahnya baru sebatas masuknya material bangunan.


Harapan bahwa pembangunan akan dikebut dalam dua pekan ke depan memang memberi secercah optimisme. Namun waktu terus berjalan, sementara Lebaran semakin dekat.


Bagi para korban banjir, persoalan yang dihadapi bukan hanya soal tempat berteduh, tetapi juga soal martabat hidup. Idulfitri sejatinya dirayakan di rumah, dalam suasana aman dan menenangkan, bukan di bawah terpal darurat.


Karena itu, Cak Damar menilai percepatan pembangunan huntara atau bahkan hunian tetap harus menjadi prioritas pemerintah, baik pusat maupun daerah. Menurutnya, sisa waktu Ramadhan perlu dimanfaatkan secara maksimal agar masyarakat terdampak bencana tidak menyambut hari raya di pengungsian.


Ia juga mengingatkan bahwa jika huntara atau hunian tetap belum dapat selesai sebelum Lebaran, pemerintah perlu menyiapkan alternatif tempat tinggal sementara yang lebih layak dibandingkan tenda.


“Dalam situasi bencana, birokrasi yang panjang tidak boleh menjadi alasan untuk menunda kepastian hidup masyarakat,” ujarnya.


Menurutnya, yang dibutuhkan para penyintas adalah langkah cepat, tindakan nyata, dan keberpihakan yang benar-benar dirasakan.


Kini waktu menjadi ujian. Akankah para korban banjir Aceh Timur dapat merasakan Idulfitri di tempat yang lebih layak, ataukah takbir masih akan berkumandang di tengah barisan tenda pengungsian?


Bagi Cak Damar, persoalan ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan soal kemanusiaan, tentang bagaimana negara hadir memeluk warganya yang sedang terluka.