Waled NU: Idul Fitri Momentum Suci untuk Memaafkan dan Menjaga Kebaikan Selepas Ramadhan
Senin, 23 Maret 2026 | 18:30 WIB
Rais Syuriyah PWNU Aceh Tgk Nuruzzahri atau Waled NU. (Foto: tangkapan layar kanal Youtube NU Online)
Banda Aceh, NU Online
Momentum Idul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai perayaan kemenangan setelah sebulan menjalani ibadah puasa Ramadhan, tetapi juga sebagai proses kembali kepada fitrah serta memperbaiki hubungan antarsesama manusia.
Rais Syuriah PWNU Aceh Tgk H Nuruzzahri menegaskan bahwa Idul Fitri merupakan momentum suci yang harus dimaknai secara mendalam, tidak hanya secara lahiriah tetapi juga secara rohani. Hal tersebut disampaikannya dalam momentum Idul Fitri, Senin (23/3/2026).
Menurutnya, di antara esensi utama Idul Fitri terletak pada kesucian hati dan sikap saling memaafkan, sebagai buah dari proses panjang pendidikan spiritual selama Ramadhan.
“Esensi Idul Fitri itu saling memaafkan. Tidak ada manusia yang tidak pernah salah, baik antara orang tua dan anak, suami dan istri, maupun dalam kehidupan sosial,” ujar ulama yang akrab disapa Waled NU itu.
Secara literal, Idul Fitri bermakna kembali kepada fitrah, yakni kondisi suci manusia sebagaimana saat dilahirkan, bersih dari dosa dan kesalahan. Kondisi ini merupakan hasil dari proses pendidikan ruhani selama Ramadhan, yang oleh para ulama disebut sebagai madrasah Ramadhan.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Hadis tersebut menegaskan bahwa Ramadhan merupakan sarana pembersihan diri, sehingga Idul Fitri menjadi momentum kembalinya manusia dalam keadaan bersih.
Namun, makna fitrah tidak hanya sebatas kesucian lahiriah. Para ulama juga memaknai Idul Fitri sebagai kembalinya manusia kepada kondisi awal penciptaannya, yakni sebagai makhluk yang bertauhid.
Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan, “Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah."
Hal ini menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk mengenal dan menyembah Allah swt. Dengan demikian, Idul Fitri menjadi momentum untuk kembali kepada kesadaran tauhid tersebut.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran ulama yang menyebut bahwa Idul Fitri secara genuin merupakan kembalinya manusia kepada komitmen awal, yakni bertauhid dan mengesakan Tuhan.
Dengan demikian, Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk kembali kepada jati diri sebagai hamba Allah yang harus hidup dalam ketaatan dan nilai-nilai kemanusiaan.
Waled NU menjelaskan bahwa pemahaman tauhid tersebut memiliki implikasi sosial yang sangat kuat, yakni mendorong manusia untuk saling menghormati dan memperlakukan sesama secara setara.
“Kalau kita benar-benar kembali kepada fitrah, maka tidak ada lagi sikap merendahkan orang lain. Semua manusia adalah ciptaan Allah dan harus diperlakukan dengan baik,” tegasnya.
Dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13, disebut, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
Ayat tersebut menegaskan prinsip kesetaraan dalam Islam, bahwa tidak ada keunggulan seseorang atas yang lain kecuali dalam ketakwaan.
Pemahaman ini juga membawa konsekuensi bahwa segala bentuk diskriminasi dan ketidakadilan bertentangan dengan nilai dasar ajaran Islam. Manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kedudukan yang sama sebagai hamba Allah.
Dalam konteks sosial, nilai-nilai tersebut tecermin dalam tradisi halal bihalal yang berkembang luas di Indonesia. Tradisi ini menjadi sarana untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan yang sempat renggang.
Waled NU menilai bahwa halal bihalal memiliki makna mendalam sebagai upaya mengurai persoalan dalam kehidupan sosial.
“Halal bihalal itu mengurai yang kusut, menyambung kembali silaturahmi, dan menghilangkan dendam di antara sesama,” ungkapnya.
Tradisi ini sejalan dengan ajaran Rasulullah saw yang mendorong umat Islam untuk menjaga hubungan baik dengan sesama. Dalam sebuah hadis lain yang diriwayatkan oleh dua periwayat utama, yakni Imam Bukhari dan Imam Muslim, disebutkan, “Tidak halal bagi seorang Muslim untuk memutus hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari.”
Hadis di atas menunjukkan pentingnya menjaga silaturahmi dan segera memperbaiki hubungan yang rusak.
Lebih jauh, Waled NU mengingatkan bahwa nilai-nilai kebaikan yang telah dibangun selama Ramadhan tidak boleh berhenti setelah Idul Fitri. Ia menekankan pentingnya istiqamah dalam menjalankan ibadah dan berbuat baik.
“Setelah sebulan kita dididik dalam Ramadhan, maka kebaikan itu harus berlanjut. Jangan berhenti setelah Idul Fitri, tetapi harus dijaga secara istiqamah dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Dalam pandangan ulama, istiqamah merupakan tanda diterimanya amal seseorang. Imam Hasan al-Bashri pernah mengatakan, “Tanda diterimanya amal adalah adanya kesinambungan dalam kebaikan setelahnya.”
Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan Ramadhan tidak diukur dari seberapa meriah Idul Fitri, tetapi dari sejauh mana seseorang mampu mempertahankan kebaikan setelahnya.
Selain itu, nilai kesalingan dalam kehidupan juga ditegaskan oleh ulama sufi Syeikh Syamsi Tabrizi, “Alam semesta dibangun atas prinsip kesalingan. Setiap kebaikan akan dibalas, dan setiap keburukan pun akan mendapatkan balasannya.”
Prinsip tersebut menunjukkan bahwa apa yang dilakukan manusia akan kembali kepada dirinya sendiri.
Oleh karena itu, Idul Fitri menjadi momentum untuk menanam kebaikan, memperkuat silaturahmi, serta membangun kehidupan yang lebih adil dan harmonis.
Waled NU berharap momentum Idul Fitri dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memperbaiki diri, memperkuat nilai tauhid, serta membangun kehidupan sosial yang lebih baik.
“Idul Fitri harus menjadi titik awal perubahan. Kita kembali kepada fitrah, menjaga hubungan dengan Allah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia,” pungkasnya.