Raja Charles III Kunjungi Cambridge Central Mosque, Masjid Ramah Lingkungan Pertama di Eropa
Rabu, 22 Juli 2026 | 11:00 WIB
Jakarta, NU Online
Raja Charles III melakukan kunjungan ke Cambridge Central Mosque setelah pelantikan Andy Burnham sebagai Perdana Menteri Inggris yang baru, pada Senin (20/7/2026) sore waktu setempat.
Kunjungan tersebut menjadi salah satu agenda penting Raja Charles dalam memperkuat dialog antaragama di Inggris sekaligus menyoroti komitmennya yang telah lama dikenal terhadap isu keberlanjutan lingkungan.
Kantor Berita GB News melaporkan bahwa Raja Charles disambut sorak-sorai warga saat turun dari mobil Bentley berwarna maroon di depan masjid. Ia menjelajahi bangunan yang diakui sebagai masjid ramah lingkungan pertama di Eropa tersebut, lantas bertemu para tokoh di area taman berpavung yang dilengkapi air mancur sebelum masuk ke dalam dan melepas alas kaki untuk memasuki ruang salat utama.
"Kalau boleh saya katakan, saya sangat terkesan dengan kualitas desainnya, dengan segala perhatian dan ketelitian yang telah dicurahkan padanya," ujar Raja Charles, dikutip NU Online dari GB News, Rabu (22/7/2026).
Ia menambahkan bahwa keberadaan masjid tersebut memberikan kontribusi besar bagi komunitas Muslim juga masyarakat umum di Cambridge.
"Saya yakin, tidak hanya bagi komunitas Muslim tapi juga bagi Cambridge itu sendiri," ungkapnya.
Raja Charles turut berbagi momen ringan dengan sejumlah anak sekolah. Ia berharap kunjungannya saat itu tidak menganggu masa liburan mereka sebab hadir ke acara tersebut.
Ia juga menyampaikan harapan agar masjid tersebut terus meraih kesuksesan dan terus bekerja sama dengan pemeluk agama lain untuk menghadirkan contoh nyata kegiatan lintas iman yang terintegrasi, sebagaimana diberitakan oleh Kantor Berita Cambridge Independent,
Melansir media The National, Raja Charles turut menandatangani plakat yang menandai status masjid tersebut sebagai masjid ramah lingkungan pertama di Eropa.
Bangunan masjid tersebut telah meraih sejumlah penghargaan arsitektur, termasuk Riba National Award, dengan Cambridge Central Mosque Trust juga pernah dinobatkan sebagai klien terbaik tahun 2021 oleh organisasi arsitektur tersebut. Kala itu, penilaian lembaga arsitektur menyebut intervensi urban berupa pembangunan masjid berkapasitas 1.000 jamaah di lingkungan permukiman berlantai rendah, tanpa mendominasi kawasan sekitarnya, sebagai sebuah pencapaian yang luar biasa.
Media LBC mencatat bahwa dalam kunjungan tersebut Raja Charles turut meresmikan pembukaan Whittle Laboratory baru di Cambridge, sebuah pusat inovasi untuk teknologi penerbangan dan energi net-zero, yang terhubung dengan Sustainable Markets Initiative yang ia dirikan pada 2020. Raja Charles berharap agar laboratorium tersebut dapat mempercepat upaya menyelamatkan bumi dari bencana yang mengancam.
Peneliti sekaligus penulis asal Inggris, Abdul Hakim Murad, menilai kunjungan tersebut memiliki makna simbolis yang sangat penting bagi keberagaman di Inggris, khususnya di tengah maraknya ketidakpastian dan kesalahpahaman antarkelompok masyarakat.
"Sangat penting bagi komunitas Muslim di Cambridge untuk melihat diri mereka dikunjungi, dihormati, dan diakui oleh pimpinan negara," ujarnya dikutip dari Instagram Anadolu, Rabu (22/6/2026).
Menurutnya, keberadaan masjid kini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pelopor penerapan teknologi ramah lingkungan dan ruang terbuka yang menyatukan berbagai latar belakang warga. Kata Murad, masjid tersebut hadir sebagai ruang inklusif yang menyatukan berbagai komunitas, mulai dari Turki, Arab, hingga Nigeria.
"Apa yang mungkin dianggap asing oleh sebagian orang, sebenarnya adalah tempat di mana teknologi ramah lingkungan diterapkan dan dinamika sosial terbaik terjadi," pungkasnya.
Menurutnya, kehadiran tempat ibadah yang aktif merangkul tetangga dan menjadi ruang perjumpaan lintas budaya, dinilainya mampu memperkuat persatuan nasional serta mengikis perpecahan dan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Sebagai masjid ramah lingkungan (eco-mosque) pertama di Eropa, Cambridge Central Mosque dirancang khusus dengan memadukan arsitektur Islam tradisional dan prinsip berkelanjutan modern, seperti penggunaan energi terbarukan, pemanenan air hujan, serta struktur kayu ramah lingkungan.
Selain berfungsi sebagai tempat ibadah inklusif bagi seluruh elemen masyarakat Muslim, masjid yang diresmikan pada akhir 2019 tersebut juga difungsikan sebagai pusat komunitas terbuka yang secara aktif membangun dialog antaragama, merangkul warga sekitar, dan mempromosikan nilai-nilai keanekaragaman serta kelestarian lingkungan di Inggris.