Kesehatan

Penularan Campak Naik di Awal 2026, Dokter Ingatkan Vaksinasi Anak

Rabu, 11 Maret 2026 | 16:30 WIB

Penularan Campak Naik di Awal 2026, Dokter Ingatkan Vaksinasi Anak

Ilustrasi penyakit campak. (Foto: Freepik)

Jakarta, NU Online

Penularan penyakit campak dilaporkan kembali meningkat di Indonesia pada awal 2026. Tenaga kesehatan mengingatkan masyarakat, khususnya orang tua, untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi guna mencegah risiko penularan dan komplikasi penyakit.


Dokter Umum Puskesmas Lasem, Windhi Dayanara, menjelaskan bahwa campak disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus. Virus tersebut masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan, terutama lewat percikan droplet saat batuk, bersin, atau berbicara.


“Virus yang terkontaminasi akan masuk melalui hidung atau mulut, kemudian menginfeksi sel epitel pada saluran napas. Setelah itu virus menyebar ke kelenjar getah bening regional dan berkembang biak sebelum masuk ke aliran darah,” ujar Windhi kepada NU Online, Rabu (11/3/2026).


Setelah berada di aliran darah, virus kemudian menyebar ke berbagai organ target, seperti kulit, saluran pernapasan, hingga konjungtiva pada mata. Kondisi ini menyebabkan gejala campak dapat muncul dalam berbagai bentuk.


Menurut Windhi, campak termasuk salah satu penyakit yang sangat menular. Virus ini memiliki basic reproduction number (R0) sekitar 12-18, yang berarti satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada 12 hingga 18 orang lain dalam populasi yang belum memiliki kekebalan.


Sebagai perbandingan, Covid-19 varian awal memiliki angka R0 sekitar 2-3 orang, sedangkan influenza berkisar 1-2 orang.


Penularan campak bahkan dapat terjadi beberapa hari sebelum ruam muncul. Virus juga dapat bertahan di udara atau pada permukaan benda selama beberapa jam di ruangan tertutup.


Gejala dan Ciri Khas Ruam Campak

Windhi menjelaskan bahwa gejala awal campak biasanya muncul setelah masa inkubasi sekitar 10-14 hari sejak paparan virus. Fase awal ini disebut fase prodromal yang ditandai dengan demam tinggi hingga 39-40 derajat Celsius, batuk, pilek, mata berair, tubuh lemas, serta berkurangnya nafsu makan.


Beberapa hari kemudian biasanya muncul bercak putih kecil pada mukosa pipi bagian dalam, sekitar dua hingga tiga hari sebelum ruam kulit terlihat.


Ruam campak memiliki ciri khas berupa kombinasi bercak merah datar (makula) dengan sedikit penonjolan berwarna merah hingga kecokelatan yang dapat menyatu menjadi area lebih luas.


Penyebaran ruam biasanya dimulai dari kepala, terutama di belakang telinga dan garis rambut di dahi. Selanjutnya ruam menyebar ke wajah, leher, dada, punggung, lengan, hingga kaki.


“Ruam tersebut biasanya bertahan selama lima hingga tujuh hari sebelum memudar. Pada masa pemulihan, kulit dapat mengalami hiperpigmentasi sementara disertai pengelupasan halus yang umumnya akan membaik dengan sendirinya,” jelasnya.


Risiko Komplikasi

Selain menimbulkan ruam, campak juga dapat memicu komplikasi kulit akibat infeksi bakteri sekunder. Hal ini sering terjadi ketika anak menggaruk ruam yang terasa gatal, sementara sistem kekebalan tubuh sedang menurun akibat infeksi virus.


Infeksi sekunder tersebut dapat berupa selulitis ringan hingga dermatitis. Karena itu, orang tua perlu menjaga kebersihan kulit anak serta memastikan kuku anak tetap pendek selama masa sakit.


Anak dengan riwayat alergi kulit seperti eksim atau dermatitis juga berisiko mengalami gatal yang lebih berat karena kondisi pelindung kulit yang lebih lemah.


Untuk mengurangi iritasi, beberapa langkah yang dianjurkan antara lain menjaga kelembapan kulit menggunakan pelembap khusus anak, menghindari bahan iritatif seperti pewangi, serta memantau tanda-tanda infeksi sekunder.


Selain itu, terdapat sejumlah kondisi yang dapat memperparah penyakit campak, seperti anak yang belum mendapatkan imunisasi, mengalami malnutrisi, berusia di bawah lima tahun, memiliki penyakit penyerta, atau mengalami kondisi imunokompromais.


Kelompok berisiko tinggi lainnya termasuk anak dengan leukemia, penyakit keganasan, HIV, serta anak yang sedang menjalani terapi imunosupresan.


Pentingnya Imunisasi

Windhi menegaskan bahwa imunisasi campak merupakan langkah penting dalam mencegah keparahan penyakit. Vaksin campak umumnya diberikan saat bayi berusia sembilan bulan, kemudian dilanjutkan dengan booster pada usia 12 bulan.


Menurutnya, vaksin tidak selalu mencegah paparan virus, tetapi dapat mengurangi tingkat keparahan penyakit dan risiko komplikasi.


“Vaksin bekerja dengan melatih sistem imun untuk mengenali virus. Jika anak memiliki kekebalan yang cukup, maka ketika terpapar virus campak, gejala yang muncul diharapkan tidak seberat anak yang belum mendapatkan imunisasi,” ujarnya.


Selain melindungi anak, vaksinasi juga berperan penting dalam melindungi orang di sekitarnya. Karena itu, orang tua diharapkan memastikan anak mendapatkan imunisasi campak sesuai jadwal guna mencegah komplikasi penyakit yang lebih berat.


Terkait

ADVERTISEMENT BY OPTAD