Khutbah

Khutbah Jumat: Belajar Menjadi Orang yang Amanah dan Profesional dari Rasulullah

Kamis, 20 Agustus 2026 | 12:03 WIB

Khutbah Jumat: Belajar Menjadi Orang yang Amanah dan Profesional dari Rasulullah

Khutbah Jumat (Magnific)

Rasulullah adalah teladan terbaik dalam hal ini. Bahkan sebelum diangkat menjadi nabi, beliau telah dikenal oleh masyarakat Mekah dengan gelar Al-Amin, yaitu orang yang dapat dipercaya.

 

Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul: “Khutbah Jumat: Belajar Menjadi Orang yang Amanah dan Profesional dari Rasulullah”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

 

Khutbah I

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ  قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ.: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

 

Marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Kita jalankan perintah-Nya dan kita tinggalkan apa yang dilarang-Nya. Sebab, takwa bukan hanya terlihat ketika kita berada di masjid, ketika kita salat, berzikir, atau membaca Al-Qur’an. Takwa juga terlihat ketika kita kembali ke rumah, ketika kita bekerja, ketika mencari nafkah, dan ketika menjalankan amanah yang diberikan kepada kita.

 

Allah SWT berfirman:

 


يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَۙ

 

Artinya: "Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS Al-Baqarah: 21)


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,


Salah satu bentuk ketakwaan yang kadang kita lupakan adalah bagaimana kita menjalankan pekerjaan. Apa pun pekerjaan kita, di dalamnya ada amanah. Petani memegang amanah. Pedagang memegang amanah. Buruh, karyawan, guru, pegawai, pejabat, dan para pemimpin, semuanya memegang amanah.

 

Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan kita untuk memiliki niat yang baik. Niat baik harus dibuktikan dengan perbuatan yang baik. Kita dituntut untuk bekerja dengan jujur, bertanggung jawab, dan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

 


Untuk memahami hal ini, marilah kita melihat teladan Rasulullah SAW. Jauh sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW sudah dikenal sebagai orang yang bekerja. Sejak usia muda, beliau berdagang dan mencari rezeki dengan usaha yang beliau lakukan sendiri.

 


Rasulullah SAW bersabda:

 


مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

 

Artinya: "Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik daripada makanan hasil usaha tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Dawud AS makan dari hasil usaha tangannya sendiri." (HR Imam Bukhari).

 


Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa mencari rezeki yang halal dengan bekerja adalah sesuatu yang mulia. Selama Allah masih memberikan kita kesehatan, tenaga, dan kemampuan, jangan biasakan diri hanya menunggu pemberian orang lain. Berusahalah. Bekerjalah. Carilah rezeki yang halal, karena rezeki yang diperoleh dengan cara yang halal akan membawa ketenangan dan keberkahan.

 

Namun, jamaah yang dimuliakan Allah, Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan kita untuk bekerja. Beliau juga mengajarkan bagaimana cara bekerja. Bekerja harus dilakukan dengan jujur, amanah, dan penuh tanggung jawab.

 

Ketika berusia sekitar 25 tahun, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dagang ke Syam membawa barang dagangan milik Sayyidah Khadijah RA dan ditemani oleh Maisarah. Dalam perjalanan itu, Rasulullah SAW menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Barang dagangan berhasil terjual dan menghasilkan keuntungan yang baik.

 


Maisarah menyaksikan sendiri bagaimana kejujuran dan akhlak Rasulullah SAW dalam berdagang dan selama perjalanan. Apa yang dilihatnya kemudian disampaikan kepada Khadijah RA. Khadijah tidak hanya mendengar bahwa Muhammad adalah seorang pedagang yang berhasil mendapatkan keuntungan, tetapi ia juga mengetahui bahwa Muhammad adalah seorang yang jujur, amanah, dan memiliki akhlak yang luhur.

 


Kejujuran dan amanah itulah yang membuat pribadi Rasulullah SAW semakin mulia di mata Khadijah RA. Kisah ini antara lain disebutkan oleh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum (2013, hlm. 62).

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

 

Dari sini kita belajar bahwa kejujuran adalah modal yang sangat berharga dalam kehidupan. Harta bisa habis. Jabatan bisa hilang. Popularitas bisa berubah. Tetapi nama baik dan kejujuran akan selalu menjadi kehormatan bagi seseorang.


Rasulullah SAW bersabda:

 


التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ


 

Artinya: "Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, orang-orang yang benar, dan para syuhada." (HR At-Tirmidzi)


 

Perhatikan baik-baik, jamaah sekalian. Rasulullah SAW tidak mengatakan bahwa pedagang yang paling kaya akan mendapatkan kedudukan tersebut. Beliau juga tidak mengatakan pedagang yang paling terkenal. Yang beliau sebut adalah pedagang yang jujur dan amanah.

 

Maka jangan pernah merasa rendah hanya karena pekerjaan kita sederhana. Jangan merasa malu menjadi petani, buruh, pedagang kecil, nelayan, sopir, karyawan, guru, atau pekerja apa pun yang halal. Kemuliaan seseorang bukan semata-mata karena besar kecilnya pekerjaan, tetapi karena bagaimana ia menjalankan pekerjaan tersebut.

 


Petani yang jujur adalah mulia. Pedagang yang tidak menipu adalah mulia. Karyawan yang tidak bermalas-malasan adalah mulia. Guru yang sungguh-sungguh mendidik muridnya adalah mulia. Seorang pemimpin yang tidak menyalahgunakan jabatannya adalah mulia. Selama pekerjaan itu halal dan dilakukan dengan amanah, insyaallah ada nilai kebaikan di sisi Allah SWT.

 


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,


 

Tetapi ada satu hal penting yang juga perlu kita ingat. Niat baik dan kejujuran saja belum cukup. Dalam menjalankan amanah, kita juga membutuhkan kemampuan.
 

 

Sebab, orang yang jujur tetapi tidak mau belajar bisa saja melakukan kesalahan. Orang yang memiliki niat baik tetapi tidak memiliki kemampuan dapat membuat keputusan yang keliru. Karena itu, menjadi amanah juga berarti mau belajar dan terus memperbaiki kemampuan diri.

 

Rasulullah SAW memberikan teladan dalam hal ini. Ketika berdagang, beliau tidak melakukannya secara sembarangan. Beliau memahami masyarakat, mengetahui kebutuhan mereka, memahami kebiasaan mereka, dan mengetahui bagaimana perdagangan dilakukan.

 

Allah SWT menggambarkan kebiasaan perdagangan orang-orang Quraisy dalam firman-Nya:

 


لِاِيْلٰفِ قُرَيْشٍۙ ۝١ اٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِۚ ۝٢


Artinya: "Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. (QS Al-Quraisy: 1-2)

 

Ayat tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat Quraisy memiliki kebiasaan melakukan perjalanan perdagangan pada musim dingin dan musim panas. Mereka mengenal perjalanan, mengenal perdagangan, dan memahami kebutuhan masyarakat yang mereka layani.

 

Dari sini kita belajar bahwa Rasulullah SAW bukan hanya memiliki niat yang baik. Beliau juga memiliki kemampuan. Beliau memahami pekerjaannya, belajar dari pengalaman, mengetahui kebutuhan masyarakat, dan menggunakan kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

 

Inilah yang hari ini kita kenal dengan istilah profesional. Sederhananya, profesional berarti berusaha melakukan pekerjaan dengan benar karena kita memahami pekerjaan tersebut dan memiliki kemampuan untuk menjalankannya.


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

 


Pelajaran ini berlaku untuk kita semua. Kalau kita menjadi pedagang, pelajarilah perdagangan dan jangan menipu pembeli. Kalau kita menjadi guru, teruslah belajar agar mampu mendidik dengan baik. Kalau kita menjadi petani, pelajarilah cara bertani yang lebih baik. Kalau kita menjadi karyawan, pahami pekerjaan kita dan lakukan dengan sungguh-sungguh.

 

Begitu pula bagi siapa pun yang mendapatkan jabatan dan tanggung jawab yang lebih besar. Tidak cukup hanya mengatakan, “Saya punya niat baik.” Niat baik harus disertai kemampuan. Sebab, ketika sebuah amanah diberikan kepada orang yang tidak mampu, akibatnya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri. Kesalahannya bisa merugikan banyak orang.

 

Rasulullah SAW mengingatkan kita:

 


فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ


Artinya: "Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah datangnya kiamat."
Seseorang bertanya, “Bagaimana amanah itu disia-siakan?”


Rasulullah SAW menjawab:


"Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya kiamat." (HR Al-Bukhari)


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,


 

Dari teladan Rasulullah SAW kita belajar bahwa niat baik, amanah, dan kemampuan harus berjalan bersama. Niat yang baik memberi kita tujuan yang benar. Amanah menjaga kita dari pengkhianatan. Kemampuan membuat kita mampu menjalankan tugas dengan baik.

 

Semoga Allah SWT menjadikan kita orang-orang yang baik niatnya, jujur dalam pekerjaannya, amanah dalam tanggung jawabnya, dan bersungguh-sungguh dalam meningkatkan kemampuannya. Semoga pekerjaan kita menjadi jalan memperoleh rezeki yang halal, kehidupan yang berkah, dan ridha Allah SWT.

 

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

 

Khutbah II

 

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ.  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر 


  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.  اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ  


 اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ،


 عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرْ


--------------
Ajie Najmuddin, Pengurus MWCNU Banyudono Boyolali