Khutbah

Khutbah Jumat: Berbagi Tanpa Pamer, Peduli Tanpa Sekat

Rabu, 25 Maret 2026 | 10:00 WIB

Khutbah Jumat: Berbagi Tanpa Pamer, Peduli Tanpa Sekat

Ilustrasi gorengan. Sumber: Canva/NU Online.

Dalam Islam, saling berbagi makanan merupakan satu hal yang sangat dianjurkan. Berbagi makanan bukan hanya tentang memberikan makanan kepada orang lain, tetapi juga tentang membangun hubungan kasih sayang, persaudaraan, dan kesetaraan.


Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul: “Berbagi Tanpa Pamer, Peduli Tanpa Sekat”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!


Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَوْضَحَ لَنَا شَرَائِعَ دِيْنِهِ وَمَنَّ عَلَيْنَا بِتَنْزِيلِ كِتَابِهِ وَأَمَدَّنَا بِسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَلِلّٰهِ الْحَمْدُ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ مِنْ هِدَايَتِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ مُبَيِّنًا عَلَى رِسَالَةِ الرَّحْمَنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ جَمِيْعًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مُوْقِنٍ بِتَوْحِيْدِهِ، مُسْتَجِيْرٍ بِحَسَنِ تَأْيِيْدِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ الْمُصْطَفَى، وَأَمِيْنُهُ الْمُجْتَبَى وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَّةِ الْوَرَى. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ اِتَّقُوا اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتُمْ وَأَتْبِعُوا السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقُوا النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ


قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering sekali dihadapkan pada perbedaan, entah perbedaan pendapat, ras, suku, agama, atau bahkan status sosial. Namun, itu semua tidaklah berguna di hadapan Allah Ta’ala, sebab Allah hanya melihat seseorang dari ketakwaannya, sebagaimana firman-Nya:


يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ


Artinya, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)


Oleh karena itu, dalam kesempatan yang penuh berkah ini, khatib berwasiat kepada seluruh hadirin sekalian untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya. Mari kita sadari bahwa hanya ketakwaanlah bekal terbaik untuk menghadap kepada Allah Ta’ala.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Mengetahui bahwa perbedaan status sosial bukanlah penghalang bagi seseorang untuk mendapat kemuliaan di sisi Allah Ta’ala, maka sudah sepatutnya bagi seorang Muslim untuk fokus memperbaiki diri dari sifat-sifat negatif, terlebih sifat yang dapat membuat jarak dalam status sosial, seperti gaya hidup hedonis, flexing, toxic, dan haus validasi.


Hal ini penting sekali untuk dimengerti, sebab dalam praktiknya, sadar atau tidak sadar, kita sering kali terbawa suasana bahagia hingga mengurangi kepekaan kita terhadap lingkungan sekitar.


Sebagaimana sering kita jumpai, orang-orang masih memamerkan hal-hal yang bersifat duniawi, seperti membeli barang-barang mewah, makan di restoran mewah, liburan di tempat-tempat mewah, dan lain sebagainya.


Hal tersebut sangat tidak etis mengingat masih banyak saudara-saudara kita di luar sana yang tidak mampu untuk itu semua. Jangankan untuk liburan di tempat-tempat mewah dan membeli pakaian mewah, untuk membeli makanan sehari-hari saja mereka kesulitan.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Dalam Islam, saling berbagi makanan merupakan satu hal yang sangat dianjurkan. Berbagi makanan bukan hanya tentang memberikan makanan kepada orang lain, tetapi juga tentang membangun hubungan kasih sayang, persaudaraan, dan kesetaraan.


Oleh karena itu, berbagi makanan memiliki kedudukan utama dalam agama Islam. Sebagaimana Nabi Muhammad menjawab pertanyaan salah satu sahabat yang diceritakan dalam riwayat Bukhari dan Muslim:


وعن عبدِ اللَّهِ بنِ عَمْرو بنِ العَاصِ رضي اللَّه عنهُما أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: أَيُّ الإِسلامِ خَيْرٌ؟ قال: تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ


Artinya: “Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu anhuma, bahwasanya ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: Manakah di dalam Islam itu amalan yang terbaik? Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Engkau memberikan makanan serta mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal.” (Hadits Muttafaq ‘alaih)


Maka, mayoritas ulama berpendapat bahwa mengadakan jamuan makanan adalah bagian dari sunnah Nabi Muhammad SAW, Imam Abu Ishak Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Fairuzzabadi asy-Syairazi dalam al- Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syafi’i (Damaskus: Dar al-Qalam, 1992), juz II, hal. 476 menjelaskan:


وَيُسْتَحَبُّ مَا سِوَى الْوَلِيمَةِ لِمَا فِيهَا مِنْ إِظْهَارٍ لِنِعْمَةِ اللَّهِ وَالشُّكْرِ عَلَيْهَا وَاكْتِسَابِ الْأَجْرِ وَالْمَحَبَّةِ


Artinya, “Mengadakan jamuan makan hukumnya sunnah karena di dalamnya terdapat pengungkapan terhadap nikmat-nikmat Allah, perwujudan rasa syukur, bentuk usaha untuk mendapatkan pahala, dan peningkatan rasa kasih antarsesama.”


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Alhamdulillah, di negara kita, Indonesia, berbagi makanan merupakan tradisi yang hampir ada di setiap lini kehidupan. Hal ini mencerminkan bahwa adat istiadat kita meninggalkan budaya yang amat luhur bagi kehidupan sosial.


Namun, pada praktiknya masih sering kita jumpai perjamuan-perjamuan makanan di situ terdapat akhlak-akhlak tidak terpuji, seperti memamerkan kekayaan, prestasi, pendapatan, dan lain sebagainya.


Bahkan hal ini dapat memicu adanya kesenjangan sosial, seperti yang sering terjadi, yaitu membedakan undangan orang kaya dan orang tidak mampu dalam suatu perjamuan makanan, membeda-bedakan kasta, dan seterusnya.


Padahal Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:


شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الوَلِيمَةِ، يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الفُقَرَاءُ، وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 

Artinya: “Sejelek-jeleknya makanan (tanpa berkah) ialah makanan walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya, namun melewatkan orang-orang fakir. Barang siapa meninggalkan (tidak menghadiri) undangan makan, maka sesungguhnya ia telah berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Maka, dalam kesempatan yang mulia ini, kami mengajak hadirin sekalian untuk lebih peka terhadap saudara kita yang kurang mampu. Jangan sampai secara sengaja atau tidak sengaja kita menyakiti mereka dengan terlalu memperlihatkan kebahagiaan yang sedang kita rasakan.


Demikian khutbah siang yang penuh berkah ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua dan mampu menjadi rambu-rambu kita untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar kita. Amiin ya rabbal ‘alamin.


بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى.


ثُمَّ اعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ


اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ


اَللّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Ustadz Abdul Karim Malik, Alumni Al-Falah Ploso Kediri, Pengurus LBM PCNU Kabupaten Bekasi, dan Tenaga Pengajar Pondok Pesantren YAPINK Tambun-Bekasi.