Khutbah Jumat: Bulan Maulid, Kembali Membaca Sirah Nabawiyah untuk Diteladani
Rabu, 26 Agustus 2026 | 13:49 WIB
Salah satu cara untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad saw di bulan maulid ini adalah membaca kembali sirah Nabawiyah. Di dalamnya, kita akan menemukan kisah kehidupan Rasulullah yang sarat dengan pelajaran dan keteladanan, baik dalam hal ibadah, akhlak, maupun dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat: Bulan Maulid, Kembali Membaca Sirah Nabawiyah untuk Diteladani”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَحْكَامَ لِإِمْضَاءِ عِلْمِهِ الْقَدِيمِ، وَأَجْزَلَ الْإِنْعَامَ لِشَاكِرِ فَضْلِهِ الْعَمِيمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بِالدِّيْنِ الْقَوِيمِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Baca Juga
Khutbah Menyambut Peringatan Maulid Nabi
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Sudah seyogianya kita lafalkan kalimat syukur alhamdulillahi rabbil alamin, atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita. Atas karunia-Nya, kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul di tempat mulia ini guna menunaikan kewajiban shalat Jumat. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw, beserta para keluarga dan para sahabatnya.
Selanjutnya, di tengah derasnya godaan dunia dan fitnah zaman yang beragam, tidak ada bekal yang lebih berharga bagi kita semua selain takwa. Dengan takwa, kita akan memiliki pegangan yang kuat dalam menjalani kehidupan dan tidak mudah terbawa oleh berbagai godaan.
Oleh sebab itu, mari kita senantiasa mempertebal ketakwaan kita dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Salah satu cara untuk menghidupkan bulan maulid adalah kembali membaca sirah Nabawiyah. Di dalamnya terdapat akhlak, perjuangan, dan teladan mulia Nabi Muhammad yang tidak hanya untuk kita ketahui, tetapi untuk kita teladani dan kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan membacanya, kita semua tidak hanya akan mengenal siapa beliau, tetapi juga akan tahu bagaimana kehidupannya, ibadahnya, perjuangannya, kesabarannya, akhlaknya, dan kesosialannya. Tidak hanya itu, kita juga akan mengenal sosok manusia terbaik yang diutus oleh Allah swt sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Sebab itulah, Al-Qur’an menegaskan bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan sempurna yang patut kita ikuti. Allah swt berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya, “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Ayat ini pada hakikatnya menegaskan bahwa Rasulullah Saw merupakan teladan terbaik bagi umat manusia. Keteladanan itu bukan sekadar untuk dikagumi, tetapi untuk diikuti dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Allah mengajarkan kepada kita agar menjadikan Rasulullah sebagai panutan, mengikuti jalan yang beliau tempuh, serta tidak berpaling dari ajaran yang telah beliau wariskan.
Hal ini sebagaimana dijelaskan Imam Abu Ja’far at-Thabari dalam Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Jilid XX, halaman 235. Ia menafsirkan firman Allah Swt:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ: أَنْ تَتَأَسَّوْا بِهِ وَتَكُونُوا مَعَهُ حَيْثُ كَانَ، وَلَا تَتَخَلَّفُوا عَنْهُ
Artinya: “Sungguh, pada diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang baik bagi kalian.” Maksudnya, hendaknya kalian meneladani Rasulullah, menyertainya di mana pun beliau berada, dan tidak berpaling darinya.
Dengan demikian, mencintai Rasulullah Saw tidak cukup hanya dengan mengungkapkannya melalui lisan. Cinta kepada beliau semestinya menemukan bentuknya dalam perilaku: bagaimana kita berbicara, memperlakukan orang lain, menjalankan keluarga, bermasyarakat, hingga menghadapi persoalan kehidupan.
Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Sirah Rasulullah Saw menyimpan begitu banyak teladan yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Keteladanan itu tidak hanya tampak ketika beliau berada di masjid, memimpin umat, atau menyampaikan wahyu. Justru di dalam rumah, di tengah keluarga, kita menemukan sosok Rasulullah sebagai manusia yang penuh kasih, rendah hati, dan ringan tangan.
Sebagai seorang suami, misalnya, Rasulullah Saw tidak menempatkan dirinya sebagai orang yang hanya menunggu untuk dilayani. Beliau justru turut membantu pekerjaan rumah tangga dan melakukan berbagai keperluan keluarganya.
Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah ra. Ketika beliau ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah Saw ketika berada di rumah, Aisyah menjawab:
كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ
Artinya, “Nabi biasa membantu pekerjaan keluarganya. Ketika waktu shalat tiba, beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari).
Mari kita bayangkan sejenak, jamaah sekalian. Rasulullah Saw adalah seorang Nabi, pemimpin umat, sekaligus manusia yang memiliki kedudukan sangat mulia di sisi Allah Swt dan di tengah-tengah manusia. Namun, kemuliaan itu tidak membuat beliau merasa tinggi hati ketika berada di rumah. Beliau tetap hadir sebagai seorang suami yang ringan tangan, dekat dengan keluarga, dan tidak segan membantu pekerjaan rumah tangga.
Karena itu, seorang suami yang membantu istrinya mencuci, membersihkan rumah, menyiapkan keperluan keluarga, atau mengerjakan pekerjaan rumah lainnya, sesungguhnya sedang mengikuti salah satu teladan Rasulullah Saw. Perbuatan yang tampak sederhana itu justru merupakan cermin akhlak kenabian: rendah hati, peduli, dan mau berbagi tanggung jawab dengan keluarga.
Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Keteladanan Rasulullah Saw tidak berhenti pada perannya sebagai seorang suami. Beliau juga memberikan teladan yang begitu indah sebagai seorang kakek. Di tengah kesibukan sebagai Nabi dan pemimpin umat, Rasulullah tetap menunjukkan kasih sayang yang hangat kepada cucu-cucunya.
Dikisahkan, suatu ketika Rasulullah Saw mencium Hasan bin Ali, cucu beliau. Al-Aqra’ bin Habis yang melihat pemandangan tersebut kemudian berkata bahwa ia memiliki sepuluh orang anak, tetapi tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.
Mendengar perkataan itu, Rasulullah Saw tidak lantas membenarkan sikap tersebut. Beliau justru mengajarkan sebuah prinsip penting tentang kasih sayang dengan sabdanya:
إِنَّ مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ
Artinya: “Sungguh, siapa saja yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Ahmad).
Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa kasih sayang bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, kasih sayang merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim. Rasulullah Saw menunjukkan bahwa anak-anak membutuhkan pelukan, ciuman, perhatian, dan ungkapan kasih sayang.
Sebab, boleh jadi yang paling lama tinggal dalam ingatan seorang anak bukanlah seberapa mahal hadiah yang pernah diberikan kepadanya, melainkan seberapa hangat ia pernah dipeluk, seberapa tulus ia pernah dicium, dan seberapa sering ia merasa dicintai oleh keluarganya.
Maka, jika kita benar-benar ingin meneladani Rasulullah Saw, mari kita hadirkan akhlak beliau di rumah kita. Menjadi suami yang ringan tangan, ayah yang penuh kasih, kakek yang hangat, dan anggota keluarga yang membuat rumah terasa sebagai tempat paling aman untuk pulang.
Sebab, keteladanan Rasulullah Saw bukan hanya untuk dibaca dalam kitab-kitab sirah. Ia untuk dihidupkan dalam rumah, keluarga, dan kehidupan kita sehari-hari.
Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Keteladanan Rasulullah juga tampak dalam cara Nabi memperlakukan orang yang berada di bawah tanggungannya. Nabi tidak pernah menjadikan kedudukan sebagai alasan untuk bersikap kasar dan bertindak sewenang-wenang.
Hal ini sebagaimana kesaksian sahabat Anas bin Malik, bahwa ia pernah melayani Rasulullah selama bertahun-tahun. Selama itu, Nabi tidak pernah memarahi dan tidak pernah pula mencelanya. Berkaitan dengan hal ini, Anas berkata:
خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ وَمَا كُلُّ أَمْرِي كَمَا يُحِبُّ صَاحِبِي أَنْ يَكُونَ مَا قَالَ لِي فِيهَا أُفٍّ وَلَا قَالَ لِي لِمَ فَعَلْتَ هَذَا وَأَلَّا فَعَلْتَ هَذَا
Artinya, “Aku telah melayani Rasulullah selama sepuluh tahun. Tidak semua urusanku sesuai dengan yang disukai sahabatku (Rasulullah). Namun, beliau tidak pernah mengatakan kepadaku, ‘ah’, tidak pula mengatakan, ‘Mengapa engkau melakukan ini?’ atau, ‘Mengapa engkau tidak melakukan ini?’” (HR. Ahmad).
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Apa yang telah kita dengar hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak keteladanan Rasulullah dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Masih begitu banyak akhlak, sikap, dan perilaku beliau yang layak kita kenal dan kita teladani.
Oleh sebab itu, bulan maulid ini sangat tepat untuk dijadikan momen membaca kembali sirah Nabawiyah, agar kita bisa semakin mengenal kehidupan beliau, semakin cinta, dan yang paling penting adalah semakin mampu mengaplikasikan keteladanan tersebut dalam kehidupan kita semua.
Dengan meneladani Rasulullah melalui sirahnya, kita akan memiliki bekal sempurna untuk menjalani hidup, baik dalam meraih kebaikan akhirat maupun membangun kehidupan di dunia yang lebih baik.
Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ibnu Hazm, bahwa siapa saja yang menginginkan kesempurnaan di dunia dan di akhirat kelak, maka ikutilah sirah-sirah Rasulullah. Dalam kitab Jawami’ as-Sirah, halaman 10 disebutkan:
مَنْ أَرَادَ خَيْرَ الْأَخِرَةِ وَحِكْمَةَ الدُّنْيَا وَعَدْلَ السِّيْرَةِ وَالْاِحْتِوَاءَ عَلىَ مَحَاسِنِ الْأَخْلَاقِ كُلِّهَا وَاسْتِحْقَاقِ الْفَضَائِلِ بِأَسْرِهَا، فَلْيَقْتَدِ بِمُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلْيَعْتَمِدْ أَخْلَاقَهُ وَسِيَرَهُ مَا أَمْكَنَهُ
Artinya, “Siapa saja yang menginginkan kebaikan akhirat, kebijaksanaan dunia, keseimbangan hidup, mencakup keutamaan akhlak, serta memperoleh segala keutamaan, maka hendaklah ia meneladani Nabi Muhammad saw, dan menjadikan akhlak serta jalan hidup beliau sebagai pedoman, semampunya.”
Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Demikian khutbah Jumat tentang pentingnya membaca sirah Nabawiyah, terutama di bulan Maulid Nabi Muhammad Saw. Semoga dengan mengenal kehidupan Rasulullah, kita semakin mencintai beliau, meneladani akhlaknya, dan mengikuti perjuangannya dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga momentum Maulid Nabi membawa keberkahan bagi kita semua dan menjadi jalan untuk memperoleh syafaat Rasulullah Saw kelak.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
------------
Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Kokop Bangkalan Jawa Timur.