Khutbah

Khutbah Jumat: Jadi Manusia yang Menenangkan, Bukan yang Meresahkan

Kamis, 2 Juli 2026 | 17:00 WIB

Khutbah Jumat: Jadi Manusia yang Menenangkan, Bukan yang Meresahkan

Khutbah Jumat tentang manusia yang menenangkan (NUO).

Salah satu tujuan utama syariat Islam adalah mewujudkan kedamaian dan ketenangan bagi seluruh umat manusia. Al-Qur’an membahasakannya dengan istilah rahmatan lil alami. Karena itu, setiap umat Islam sudah seharusnya menjadi pribadi yang kehadirannya mampu membawa rasa aman dan tenang, serta menjauhkan diri dari segala perbuatan yang dapat meresahkan orang lain.
 

Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat: Jadi Manusia yang Menenangkan, Bukan yang Meresahkan”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
 

 

Khutbah I
 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَحْكَامَ لِإِمْضَاءِ عِلْمِهِ الْقَدِيمِ، وَأَجْزَلَ الْإِنْعَامَ لِشَاكِرِ فَضْلِهِ الْعَمِيمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بِالدِّيْنِ الْقَوِيمِ. صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Puji syukur al-hamdulillahi rabbil alamin, merupakan awalan yang tempat untuk kita jadikan pembuka dalam khutbah Jumat ini, sebagai bentuk syukur atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah-limpahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya yang setia mengikuti jejak lampahnya hingga akhir zaman.
 

Sudah menjadi kewajiban bagi kami selaku khatib untuk senantiasa mengingatkan diri sendiri dan jamaah sekalian, agar selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, takwa merupakan sebaik-baiknya bekal dalam menjalani hidup di dunia dan bekal keselamatan menuju akhirat kelak.
 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Implementasi takwa tidak hanya terwujud dalam ritual ibadah saja, seperti shalat, puasa, dan lainnya. Tetapi juga harus terwujud dalam keseharian kita, mulai dari cara kita berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Karenanya, seorang Muslim yang bertakwa bukanlah mereka yang hanya rajin beribadah saja, tetapi juga yang kehadirannya membawa ketenangan dan kenyamanan bagi lingkungan sekitarnya.
 

Inilah salah satu visi misi besar diutusnya Nabi Muhammad saw, yaitu untuk membawa ketenangan atau rahmat bagi seluruh alam semesta, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:
 

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
 

Artinya, “Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’, [21]: 107).
 

Dalam menafsirkan ayat di atas, Ibnu Abbas sebagaimana dikutip oleh Imam al-Baghawi, mengatakan bahwa diutusnya Rasulullah sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta bersifat umum, mencakup seluruh makhluk tanpa terkecuali, baik bagi mereka yang beriman pada ajaran yang dibawa olehnya maupun yang belum beriman.
 

Dalam kitab Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’anil Azim, jilid V, halaman 359 dijelaskan:
 

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: هُوَ عَامٌ فِي حَقِّ مَنْ آمَنَ وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ
 

Artinya, “Ibnu Abbas berkata: ‘Rahmat itu bersifat umum, berlaku bagi siapa saja yang beriman maupun tidak beriman sekali pun.”
 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Lantas, bagaimana cara kita menjadi muslim yang menenangkan dan tidak meresahkan? Setidaknya ada beberapa cara yang dapat kita praktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
 

Pertama, dengan senantiasa menjaga lisan agar ucapan-ucapan yang keluar tidak menyakiti orang lain. Sebab lisan adalah bagian kecil dari anggota tubuh yang memiliki dampak sangat besar. Dengan lisan, kita bisa menyejukkan dan menenangkan hati orang lain, tetapi dengan lisan pula kita bisa melukai perasaan mereka, bisa memecah belah persaudaraan, bahkan menghancurkan rumah tangga.
 

Tidak hanya menjaga lisan, tetapi juga senantiasa menjaga tangan dari perbuatan yang dapat menyakiti orang lain, termasuk ketika bermedia sosial, karena apa yang kita ketik, kita bagikan, dan kita komentari juga merupakan bagian dari tindakan yang perlu kita jaga agar tidak menyakiti orang lain. Sebab itu, Rasulullah saw bersabda:
 

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
 

Artinya, “Seorang muslim sejati adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
 

Kedua, senantiasa berusaha menjadi muslim yang penyayang. Caranya adalah dengan menjadi pribadi yang mudah memaafkan, ringan tangan untuk menolong, serta peduli terhadap keadaan orang lain. Sehingga dengan senantiasa melakukan perbuatan mulia tersebut, kita tidak akan senang melihat orang lain menderita, apalagi menjadi penyebab penderitaan tersebut.


Sikap penyayang inilah yang menjadi salah satu inti dari ajaran Rasulullah saw. Sebagaimana ditegaskan dalam salah satu haditsnya, yaitu:
 

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ! ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
 

Artinya, “Orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Allah Yang Maha Pengasih! Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya penduduk langit akan menyayangi kalian.” (HR. At-Tirmidzi).  

Ketiga, senantiasa berusaha menahan amarah dan memperbanyak bersabar. Ini sangat penting untuk kita perhatikan bersama, karena marah dapat menjadi penyebab munculnya tindakan-tindakan meresahkan. Misalnya, seseorang ketika marah akan mudah kehilangan kendali, mengucapkan kata-kata kotor, hingga melakukan tindakan yang akan disesali di kemudian hari.


Maka menjadi manusia yang menenangkan berarti kita harus mampu mengendalikan emosi, menahan amarah, serta menyikapi setiap persoalan dengan kepala dingin dan penuh kesabaran. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw bersabda:
 

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
 

Artinya, “Orang kuat bukanlah mereka yang pandai bergulat, tetapi ia yang mampu menahan dirinya saat marah.” (HR. Bukhari & Muslim).
 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Demikianlah khutbah Jumat pada hari ini. Mari kita semua berusaha meneladani akhlak Rasulullah dengan menjadi muslim yang kehadirannya membawa ketenangan bukan keresahan. Semoga Allah swt senantiasa membimbing kita agar mampu menjaga lisan, perbuatan, dan seluruh sikap kita, agar kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Amin ya Rabbal 'alamin.
 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
 


Khutbah II
 

حَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


 

Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop Bangkalan Jawa Timur.