Rasulullah saw bukan hanya teladan dalam ibadah, dakwah, kepemimpinan, dan perjuangan. Beliau juga teladan dalam memperhatikan keluarga. Dalam istilah hari ini, kita sering menyebut sosok seperti ini sebagai family man, yaitu suami yang dekat dengan keluarga, peduli kepada rumah tangga, memahami kerinduan anggota keluarganya, dan menjadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya iman, ilmu, serta akhlak.
Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul “Khutbah Jumat: Keluarga sebagai Madrasah Pertama”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأُسْرَةَ مَحَلًّا لِلْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ، وَجَعَلَ الْبَيْتَ مَدْرَسَةً لِلْإِيْمَانِ وَالْأَخْلَاقِ وَالْعِبَادَةِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ الْكَثِيْرَةِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَنَسْأَلُهُ أَنْ يَجْعَلَ بُيُوْتَنَا بُيُوْتًا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِهِ، مُنِيْرَةً بِطَاعَتِهِ، مُزَيَّنَةً بِالْمَحَبَّةِ وَالرَّحْمَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، نَبِيُّ الرَّحْمَةِ، وَإِمَامُ الْهُدَى، وَقُدْوَةُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي الْبَيْتِ وَالْمَسْجِدِ وَالْمُجْتَمَعِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوا اللّٰهَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَاتَّقُوا اللّٰهَ فِي أَهْلِيْكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ، فَإِنَّهُمْ أَمَانَةٌ بَيْنَ أَيْدِيْكُمْ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ، عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ، لَا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَا أَمَرَهُمْ، وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Pada kesempatan Jumat yang mulia ini, Khatib mengajak diri khatib pribadi dan jamaah sekalian untuk kembali meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Takwa bukan hanya diucapkan di lisan, tetapi diwujudkan dalam kehidupan. Takwa bukan hanya terlihat saat kita berada di masjid, tetapi juga saat kita berada di rumah. Mari kita tumbuhkan ketakwaan di mana pun kita berada.
Sebab tidak sedikit orang terlihat baik di luar rumah, tetapi keras di dalam rumah. Ada yang tampak ramah kepada orang lain, tetapi dingin kepada keluarganya sendiri. Ada yang sabar menghadapi orang jauh, tetapi mudah marah kepada orang terdekat. Ada yang sibuk mengajarkan kebaikan kepada masyarakat, tetapi lupa menyapa, mendampingi, dan mendidik keluarganya sendiri.
Padahal Rasulullah saw mengajarkan kepada kita bahwa keluarga bukan urusan kecil. Keluarga adalah amanah. Keluarga adalah tempat pertama akhlak dipraktikkan. Keluarga adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Keluarga adalah ruang pertama tempat kasih sayang, ibadah, ilmu, dan keteladanan ditanamkan.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Dalam kehidupan hari ini, banyak orang bekerja keras untuk keluarga, tetapi tidak selalu hadir bersama keluarga. Banyak orang merasa sudah mencintai keluarga karena sudah memberi nafkah, membayar kebutuhan rumah, menyekolahkan anak, atau memenuhi kebutuhan lahiriah. Semua itu tentu penting. Namun keluarga tidak hanya membutuhkan nafkah. Keluarga juga membutuhkan kehadiran, perhatian, kelembutan, pendidikan, dan teladan.
Anak-anak tidak hanya membutuhkan biaya sekolah, tetapi juga membutuhkan orang tua yang mendengar cerita mereka. Istri tidak hanya membutuhkan kecukupan materi, tetapi juga membutuhkan suami yang menghargai dan menyayangi. Suami tidak hanya membutuhkan rumah yang rapi, tetapi juga membutuhkan suasana batin yang tenang. Orang tua yang sudah lanjut usia tidak hanya membutuhkan uang, tetapi juga membutuhkan kabar, kunjungan, doa, dan perhatian.
Di sinilah kita melihat betapa agungnya teladan Rasulullah saw. Beliau adalah manusia paling sibuk dalam dakwah. Beliau pemimpin umat. Beliau imam para sahabat. Beliau mengajarkan wahyu, memimpin masyarakat, menyelesaikan masalah umat, bahkan menghadapi tekanan dan perjuangan yang berat. Tetapi di tengah semua itu, Rasulullah saw tetap menjadi pribadi yang sangat memperhatikan keluarga.
Dalam istilah populer sekarang, kita boleh mengatakan bahwa Rasulullah saw adalah teladan seorang family man. Bukan dalam arti sempit, tetapi dalam arti yang mulia, yaitu beliau dekat dengan keluarga, memahami kerinduan orang kepada keluarganya, mengajarkan agar rumah menjadi tempat pendidikan iman, dan tidak membiarkan kesibukan ibadah atau dakwah menjadi alasan untuk mengabaikan keluarga.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Salah satu hadits yang sangat indah menggambarkan hal ini adalah hadits Malik bin al-Huwairits ra. Dalam riwayat Imam al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, disebutkan:
قَالَ: أَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ، فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً، فَظَنَّ أَنَّا اشْتَهَيْنَا أَهْلِيْنَا، فَسَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا فِي أَهْلِيْنَا، فَأَخْبَرْنَاهُ، وَكَانَ رَفِيْقًا رَحِيْمًا، فَقَالَ: اِرْجِعُوا إِلَى أَهْلِيْكُمْ، فَعَلِّمُوْهُمْ وَمُرُوْهُمْ، وَصَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ، فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ
Artinya: "Malik bin al-Huwairits berkata, “Kami pernah datang kepada Nabi saw ketika kami masih muda dan usia kami berdekatan. Kami tinggal bersama beliau selama 20 malam. Beliau kemudian mengira bahwa kami mulai merindukan keluarga kami. Maka beliau bertanya kepada kami tentang siapa saja keluarga yang kami tinggalkan. Lalu kami memberitahukannya kepada beliau. Beliau adalah sosok yang lembut dan penuh kasih sayang. Maka beliau bersabda, ‘Kembalilah kalian kepada keluarga kalian. Ajarkanlah mereka dan perintahkanlah mereka. shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat. Apabila waktu shalat telah tiba, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan azan untuk kalian, dan hendaklah yang paling tua di antara kalian menjadi imam.’”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Hadits ini sangat menyentuh. Para pemuda itu datang kepada Rasulullah untuk belajar. Mereka bukan datang untuk urusan dunia. Mereka datang untuk urusan agama. Mereka tinggal bersama Nabi selama dua puluh malam.
Tetapi setelah beberapa waktu, Rasulullah menangkap sesuatu dari keadaan mereka. Nabi melihat bahwa mereka mulai merindukan keluarga. Lalu Nabi bertanya tentang siapa saja yang mereka tinggalkan di rumah. Para sahabat pun mengabsen satu-satu anggota keluarga yang mereka tinggalkan di rumah.
Setelah mereka menjawab, Nabi tidak berkata, “Tinggallah lebih lama di sini.” Nabi juga tidak berkata, “Keluarga itu urusan nanti saja.” Nabi justru berkata: “Kembalilah kalian kepada keluarga kalian.”
Jamaah shalat Jumat
Perkataan Nabi tadi menunjukkan kelembutan Nabi. Beliau bukan guru yang hanya memikirkan materi pelajaran, tetapi juga memahami keadaan batin murid-muridnya. Beliau bukan pemimpin yang hanya menuntut umatnya berkhidmah, tetapi juga memahami kebutuhan manusiawi mereka. Beliau tahu bahwa kerinduan kepada keluarga adalah sesuatu yang wajar. Beliau memahami bahwa mereka juga memiliki rumah, orang tua, istri, anak, dan keluarga yang menunggu.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Dalam Irsyad as-Sari Syarh Shahih al-Bukhari, Imam al-Qasthallani menjelaskan bahwa Rasulullah saw adalah sosok yang rahim, penuh kasih kepada kaum beriman, dan rafiq, lembut kepada mereka. Ketika beliau melihat kerinduan para sahabat itu kepada keluarga mereka, beliau memerintahkan mereka pulang. Namun pulang itu bukan pulang kosong. Pulang itu membawa tugas. Pulang itu membawa amanah. Pulang itu membawa ilmu.
Karena itu Nabi bersabda:
اِرْجِعُوا إِلَى أَهْلِيْكُمْ، فَعَلِّمُوْهُمْ وَمُرُوْهُمْ
Artinya, “Kembalilah kalian kepada keluarga kalian, ajarkanlah mereka, dan perintahkanlah mereka.”
Kalimat ini pendek, tetapi maknanya luas. Rasulullah saw mengajarkan bahwa orang yang telah belajar agama harus membawa ilmunya ke rumah. Orang yang telah mendengar nasihat harus membawa nasihat itu kepada keluarganya. Orang yang telah mengenal shalat harus mengajak keluarganya shalat. Orang yang telah belajar akhlak harus menunjukkan akhlak itu kepada istri, suami, anak, orang tua, dan saudara-saudaranya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Jangan sampai ilmu kita hanya terdengar di majelis, tetapi tidak terasa di rumah. Jangan sampai nasihat kita hanya indah di mimbar, tetapi tidak menjadi sikap di hadapan keluarga. Jangan sampai kita mengajak orang lain kepada kebaikan, tetapi keluarga kita sendiri tidak pernah merasakan kelembutan dari diri kita.
Rasulullah saw. tidak hanya berkata, “Pulanglah.” Tetapi beliau berkata, “Pulanglah, ajarkanlah mereka, dan perintahkanlah mereka.” Artinya, rumah bukan sekadar tempat istirahat. Rumah adalah tempat pendidikan. Rumah bukan sekadar tempat makan dan tidur. Rumah adalah tempat membangun iman. Rumah bukan sekadar tempat berkumpul secara fisik. Rumah adalah tempat hati saling bertemu, saling mengingatkan, dan saling menguatkan.
Seorang ayah tidak cukup hanya mencari nafkah. Ia juga perlu menjadi pendidik. Seorang ibu tidak hanya mengurus kebutuhan rumah. Ia juga menjadi penjaga nilai dan kasih sayang. Anak-anak tidak hanya diperintah untuk berhasil secara duniawi. Mereka juga perlu dikenalkan kepada Allah, shalat, akhlak, adab, dan tanggung jawab.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Dalam hadis tadi, setelah Nabi memerintahkan para sahabat kembali kepada keluarga dan mengajar mereka, Nabi bersabda:
وَصَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ
Artinya, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
Ini menunjukkan bahwa pendidikan keluarga harus dimulai dari ibadah. Ibadah yang paling utama untuk dijaga di rumah adalah shalat. Rumah yang kuat bukan hanya rumah yang besar. Rumah yang berkah bukan hanya rumah yang penuh perabot. Rumah yang tenang bukan hanya rumah yang indah secara bangunan. Rumah yang benar-benar hidup adalah rumah yang di dalamnya ada shalat, zikir, doa, bacaan Al-Qur’an, dan nasihat kebaikan.
Betapa banyak rumah terlihat ramai, tetapi hatinya sepi dari zikir. Betapa banyak keluarga tinggal satu atap, tetapi jarang saling menyapa. Betapa banyak orang tua sibuk bekerja, anak sibuk dengan gawai, anggota keluarga berkumpul di satu ruangan, tetapi masing-masing tenggelam dalam dunianya sendiri.
Maka hadis ini mengingatkan kita untuk kembali menjadikan rumah sebagai tempat ibadah. Bukan berarti rumah harus berubah menjadi tempat yang kaku. Tetapi rumah perlu memiliki ruh. Ada shalat. Ada doa. Ada ucapan yang baik. Ada saling memaafkan. Ada orang tua yang menasihati dengan kasih sayang. Ada anak yang belajar menghormati. Ada suami istri yang saling menguatkan.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Karena itu, mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah keluarga kita sudah merasakan kebaikan agama dari diri kita? Apakah pasangan kita merasa aman bersama kita? Apakah anak-anak kita mengenal Allah melalui kasih sayang kita? Apakah orang tua kita merasakan bakti kita? Apakah rumah kita menjadi tempat yang menenangkan, atau justru menjadi tempat yang menegangkan?
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ، وَجَعَلَ بُيُوْتَنَا مَحَلًّا لِلْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ وَالْإِحْسَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللّٰهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ بُيُوْتَنَا، وَأَصْلِحْ أَهْلَنَا، وَأَصْلِحْ أَوْلَادَنَا، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا بُيُوْتًا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ، مُنِيْرَةً بِطَاعَتِكَ، مَحْفُوْظَةً بِرَحْمَتِكَ. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا الرِّفْقَ فِي أَهْلِيْنَا، وَالرَّحْمَةَ فِي بُيُوْتِنَا، وَالْحِكْمَةَ فِي تَرْبِيَةِ أَوْلَادِنَا، وَالْبِرَّ بِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْمَعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ، وَالْوَبَاءَ، وَالطَّاعُوْنَ، وَالْأَمْرَاضَ، وَالْفِتَنَ، مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ، عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا إِنْدُونِيْسِيَا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ
Ustadz Amien Nurhakim, Redaktur Keislaman NU Online dan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta.