Khutbah

Khutbah Jumat: Kenaikan BBM dan Panic Buying dalam Pandangan Islam

Jumat, 3 April 2026 | 08:45 WIB

Khutbah Jumat: Kenaikan BBM dan Panic Buying dalam Pandangan Islam

Khutbah Jumat tentang kenaikan BBM dan Panic Buying (NUO)

Krisis bahan bakar minyak (BBM) akibat penutupan Selat Hormuz imbas perang AS-Israel dan Iran, dirasakan oleh seluruh negara di dunia. Sehingga dengan hal ini, berbagai kebijakan pemerintah dari setiap negara muncul untuk menjaga ketersediaan BBM tetap terjaga bagi masyarakat mereka. Salah satu dari kebijakan tersebut ialah menaikkan harga. Termasuk di Indonesia, isu ini mencuat. Meskipun demikian, panic buying (memborong karena takut kehabisan) tidak diperkenankan dalam Islam.
 

Khutbah Jumat dengan judul, “Khutbah Jumat: Kenaikan BBM dan Panic Buying dalam Pandangan Islam”, Untuk mencetak naskah khutbah ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini. Semoga bermanfa’at.
 


Khutbah I
 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَ بِالْقَصْدِ وَالِاعْتِدَالِ، وَنَهَى عَنِ الْإِسْرَافِ وَالِاحْتِكَارِ فِيْ كُلِّ حَالٍ، وَجَعَلَ التَّكَافُلَ بَيْنَ الْعِبَادِ سَبَبًا لِدَفْعِ الْبَلَاءِ وَحُسْنِ الْمَآلِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَ قَدْ قَالَ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ
 

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Puji syukur atas kehadirat Allah, Tuhan semesta alam. Dia adalah Dzat yang telah menjadikan manusia membutuhkan makhluk lain untuk memastikan kelangsungan hidup. Manusia membutuhkan tumbuhan untuk bernafas dan makan, serta membutuhkan hewan dan energi untuk beraktivitas. Semua itu menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang bisa hidup dengan sendirinya.
 

Shalawat dan salam, harus selalu kita senandungkan untuk junjungan kita, Nabi Muhammad saw. Makhluk yang paling sempurna, sosok insan yang layak untuk kita ikuti setiap perilakunya. Begitu juga kepada para kerabat beliau, sahabat, dan para ulama yang telah menyebarkan ajaran suci yang dibawanya, semoga Allah memberikan rahmat kepada mereka.
 

Khatib berwasiat kepada diri sendiri dan jamaah shalat Jum’at, mari tingkatkan ketaqwaan kepada Allah saw. Salah satu caranya ialah dengan tetap mengikuti orang-orang yang berada di jalan kebenaran. Sebagaimana firman Allah dalam QS At-Taubah ayat 119:
 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ
 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!”
 

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Sejak selat Hormuz ditutup oleh Iran, pada akhir bulan Februari dan awal Maret 2026, seluruh negara di dunia menetapkan status siaga dan merancang kebijakan tanggap darurat untuk penghematan energi bahan bakar minyak (BBM).
 

Bagaimana tidak, selat Hormuz ini adalah jalur perdagangan internasional yang setiap harinya, terdapat kapal-kapal tangker berlalu-lalang menyebarkan 20% kebutuhan energi ke seluruh dunia.
 

Maka dengan ini, sejak 17 Maret, Jepang mulai mencari sumber energi alternatif dan mulai menggunakan pasokan energi cadangan. Sri Lanka, sejak penutupan selat Hormuz, di negara tersebut pemilik kendaraan pribadi hanya bisa memperoleh 15 liter bensin per pekan. Kemudian, di Mesir, pemerintahnya berupaya menekan konsumsi energi dengan membuat kebijakan pembatasan jam operasional pusat perbelanjaan dan restoran hingga pukul 21.00. Selain ketiga negara tersebut, masih banyak kebijakan penghematan yang dilakukan oleh negara lain.
 

Termasuk di negara tercinta, Indonesia, baru-baru ini, Menteri Perdagangan, Airlangga Hartanto, menyampaikan 8 poin kebijakan pemerintah dalam menyikapi krisis energi ini, di antaranya: penerapan kerja dari rumah dan pembatasan penggunaan kendaraan dinas bagi pejabat.
 

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Saat kondisi darurat semacam ini, kita harus tetap sadar dan berhati-hati dalam menerima berita. Pastikan sumbernya kredibel dan menampilkan fakta yang tengah terjadi. Termasuk juga mengendalikan reaksi terhadap isu-isu liar yang tengah berkembang di masyarakat.
 

Jangan sampai ada kabar atau isu hoax beredar di masyarakat, misalnya harga BBM akan dinaikkan oleh pemerintah, imbas dari perang di Timur Tengah. Sehingga dengannya menyebabkan kita panik dan berupaya memborong segala hal untuk menjaga ketersediaan, termasuk secara tergesa-gesa ke SPBU untuk menyiapkan cadangan BBM.
 

Kita tidak boleh melakukan tindakan demikian. Sebab dalam Islam, hal ini termasuk dalam kategori israf (berlebih-lebihan). Sebagaimana yang diterangkan dalam QS. Al-A’raf ayat 31:
 

وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
 

Artinya: “Dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
 

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Meskipun ayat ini secara ekplisit menyinggung perilaku berlebihan dalam urusan makan dan minum, akan tetapi, dijelaskan oleh Syekh As-Sya’rawi dalam kitab Tafsir Asy-Sya’rawi, jilid VII, halaman 4113, bahwa segala tindakan melebihi batas normal, termasuk ke dalam hal yang tidak diperbolehkan dan menyebabkan pelakunya sebagai orang yang melampaui batas. As-Sya’rawi merincikan:
 

فَإِذَا لَمْ يُوجَدْ مَا يُغْنِيكَ، فَالْحَقُّ يَحِلُّ لَكَ أَنْ تَأْخُذَ عَلَىٰ قَدْرِ مَا يَحْفَظُ عَلَيْكَ حَيَاتَكَ، وَالْمُسْرِفُونَ هُمُ الْمُتَجَاوِزُونَ الْحُدُودَ
 

Artinya: “Maka apabila tidak ditemukan sesuatu yang dapat mencukupimu, diperbolehkan bagimu untuk mengambil sekadar saja yang dapat menjaga kelangsungan hidupmu. Dan orang-orang yang berlebihan adalah mereka yang melampaui batas.”
 

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Selain menyebabkan kita berpotensi melakukan hal yang tidak diperkenankan oleh Islam, perilaku kita yang memborong kebutuhan seperti BBM untuk menimbunnya dapat menyebabkan kita menjadi orang yang salah dan berdosa. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bersumber dari Ma’mar bin Abdillah:
 

عَنْ مَعْمَرِ بْنِ عَبْدِ اللّٰهِ ، عَنْ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ‌لَا ‌يَحْتَكِرُ ‌إِلَّا خَاطِئٌ
 

Artinya: "Dari Ma’mar bin Abdillah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Tidaklah seseorang itu menimbun (barang) kecuali ia bersalah.” (HR. Muslim).
 

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Abul Abbas al-Qurthubi dalam kitab Al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, jilid IV, halaman 520, menjelaskan, perbuatan menimbun ini tidak diperkenankan dalam hal apapun:
 

قُلْتُ: وَهٰذَا الْحَدِيْثُ بِحُكْمِ إِطْلَاقِهِ، أَوْ عُمُوْمِهِ، يَدُلُّ عَلَىٰ مَنْعِ الِاحْتِكَارِ فِي كُلِّ شَيْءٍ
 

Artinya: “Aku berkata: 'Hadits ini, berdasarkan keumuman dan cakupannya, menunjukkan larangan penimbunan dalam segala hal'.”
 

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Dalam situasi sulit seperti sekarang, ketika kebutuhan energi sedang langka dan kondisi terasa tidak pasti, sebagian orang cenderung membeli barang secara berlebihan karena panik.

Padahal, dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 31, Allah mengingatkan agar kita tidak berlebih-lebihan. Panic buying pada dasarnya adalah bentuk sikap berlebihan yang lahir dari rasa takut, bukan keputusan yang timbul sebab untuk memenuhi kebutuhan.
 

Selain itu, penimbunan barang yang dibutuhkan banyak orang, seperti BBM, juga termasuk perbuatan yang dilarang. Rasulullah saw menjelaskan bahwa orang yang menimbun barang termasuk orang yang berdosa.
 

Karena itu, yang perlu kita lakukan adalah tetap tenang dan tidak terbawa kepanikan. Belilah barang secukupnya sesuai kebutuhan. Mari kita jaga kepedulian terhadap sesama, agar di tengah situasi sulit ini, semua orang tetap bisa mendapatkan kebutuhannya dengan adil. Serta tetaplah ikuti kebijakan pemerintah.
 

 بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
 

Khutbah II
 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.  اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

 


Ustadz Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman