Silaturahmi dan saling memaafkan adalah amalan penting yang mencerminkan keimanan dan ketakwaan, membawa keberkahan hidup, serta membersihkan hati dari dosa. Dengan menjaga keduanya, mudah-mudahan kita bisa meraih kedamaian di dunia dan keselamatan di akhirat.
Naskah khutbah Jumat berikut ini berjudul “Keutamaan Silaturahmi dan Saling Memaafkan”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوْ اللهَ، وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَاتِ وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَتٍ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ١٣٣ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Pada kesempatan ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Salah satu wujud nyata ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari adalah menjaga hubungan baik dengan sesama manusia melalui silaturahmi, memuliakan tamu, serta menjaga lisan agar selalu berkata baik atau diam.
Sebab orang yang benar imannya akan tercermin dari akhlaknya kepada orang lain, sehingga dengan memperkuat silaturahmi dan saling memaafkan, kita tidak hanya memperindah hubungan antarmanusia, tetapi juga semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Dalam ajaran Islam, silaturahmi bukan sekadar hubungan sosial biasa, melainkan bagian dari keimanan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Baca Juga
Khutbah Jumat: 4 Resep Hidup Bahagia
Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW ia bersabda, ‘Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menjaga hubungan silaturahim yang baik dengan kerabatnya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.’”
Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa silaturahmi adalah tanda keimanan kita. Kita yang benar imannya tidak akan memutus hubungan dengan keluarga, tidak akan menyakiti saudara kita, dan selalu berusaha menebarkan kebaikan dalam ucapan maupun perbuatan kita dalam kehidupan bersama.
Para ulama pun menjelaskan betapa besarnya keutamaan silaturahmi. Di antaranya adalah Syekh Sulaiman Al-Bujairimi yang menyebutkan bahwa dalam silaturahmi terdapat banyak perkara terpuji, di antaranya adalah mampu mendatangkan ridha Allah SWT. Hal ini karena silaturahmi merupakan perintah Allah SWT. Silaturahmi juga mampu membahagiakan orang lain, dan membahagiakan sesama mukmin termasuk amal yang sangat utama.
Selain itu, silaturahmi juga menyenangkan para malaikat, menumbuhkan kenangan baik di hati manusia, serta membuat Iblis bersedih karena persaudaraan manusia menjadi kuat. Bahkan, silaturahmi dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki. Silaturahmi juga menjadi sebab kebahagiaan orang tua dan leluhur kita yang telah wafat, serta menambah kehormatan dan pahala, bahkan setelah seseorang meninggal dunia.
Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA:
ثَلَاثَةٌ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ : وَاصِلُ الرَّحِمِ وَامْرَأَةٌ مَاتَ زَوْجُهَا وَتَرَكَ أَيْتَامًا فَتَقُومُ عَلَيْهِمْ حَتَّى يُغْنِيَهُمْ اللَّهُ أَوْ يَمُوتُوا وَرَجُلٌ اتَّخَذَ طَعَامًا وَدَعَا إلَيْهِ الْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ
Artinya, “Ada tiga orang yang mendapat naungan Arasy pada hari kiamat: orang yang menjaga silaturahmi, seorang istri yang ditinggal mati suaminya kemudian membesarkan anak-anak yatimnya sampai Allah mencukupi mereka atau sampai mereka wafat, dan orang yang membuat makanan kemudian mengajak anak yatim dan orang miskin untuk makan.’”
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Selain silaturahmi, Islam juga sangat menganjurkan kita untuk saling memaafkan. Terlebih ketika kita berada di momen-momen istimewa seperti Hari Raya Idul Fitri. Saling memaafkan adalah bagian dari upaya membersihkan diri dari dosa, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 178:
فَمَنۡ عُفِيَ لَهُۥ مِنۡ أَخِيهِ شَيۡءٞ فَٱتِّبَاعُۢ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَأَدَآءٌ إِلَيۡهِ بِإِحۡسَٰنٖۗ
Artinya, “Barangsiapa yang mendapat pemaafan dari saudaranya, hendaklah ia mengikutinya dengan cara yang baik, dan hendaklah yang diberi maaf membalas dengan cara yang baik pula.”
Ayat ini mengajarkan kita bahwa memaafkan adalah bentuk rahmat dan keringanan dari Allah SWT. Orang yang memaafkan akan mendapatkan kemuliaan, dan orang yang meminta maaf akan terbebas dari beban dosa.
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa segala bentuk kesalahan kepada sesama manusia harus diselesaikan di dunia ini. Karena di akhirat kelak tidak ada lagi harta untuk menebus kesalahan. Yang ada hanyalah pahala dan dosa. Jika seseorang belum meminta maaf, maka kelak urusannya akan diselesaikan dengan amal kebaikannya, bahkan bisa jadi ia harus menanggung dosa orang lain.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah
Mari kita renungkan juga betapa banyak kesalahan yang sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam hubungan anak dan orang tua, misalnya, sering kali kita sebagai anak berbicara dengan nada tinggi, membantah, atau mengabaikan nasihat orang tua. Sebaliknya, kita sebagai orang tua juga terkadang kurang sabar, mudah marah, atau tidak memahami perasaan anak.
Dalam persahabatan, sering terjadi kesalahpahaman, saling menyindir, membuka aib teman, atau tidak menepati janji. Dalam kehidupan bertetangga, terkadang muncul sikap acuh, tidak peduli, mengganggu ketenangan, atau bahkan iri hati terhadap keberhasilan tetangga.
Di sekolah, murid kadang kurang menghormati guru, tidak mendengarkan pelajaran, atau bersikap tidak sopan. Sementara guru terkadang kurang bijak dalam mendidik atau terlalu keras dalam memberi hukuman.
Di tempat kerja, hubungan antara karyawan dan atasan sering diwarnai dengan kesalahpahaman, kurang komunikasi, saling menyalahkan, bahkan sikap tidak profesional. Semua itu adalah realitas yang sering kita jumpai, dan jika tidak diselesaikan dengan baik, akan merusak silaturahmi dan menimbulkan dosa.
Oleh karena itu, agar kita menjadi pribadi yang lebih baik dalam pergaulan, kita harus membiasakan introspeksi diri atau muhasabah. Jangan mudah menyalahkan orang lain, tetapi lihatlah kekurangan diri sendiri. Latih lisan untuk berkata baik atau diam. Hindari ucapan yang menyakitkan, gosip, dan fitnah.
Kita juga harus segera meminta maaf ketika berbuat salah, tanpa menunda dan tanpa gengsi. Belajarlah memaafkan dengan ikhlas, meskipun terasa berat. Ingatlah bahwa Allah mencintai orang yang pemaaf. Mari perbanyak silaturahmi, baik dengan keluarga, sahabat, maupun tetangga.
Bangun komunikasi yang baik, terbuka, dan penuh adab dalam setiap hubungan. Tanamkan empati dengan memahami perasaan orang lain sebelum bertindak. Perbanyaklah doa agar Allah membersihkan hati kita dari sifat dendam, iri, dan benci.
Mari jaga silaturahmi dengan keluarga, kerabat, tetangga, dan sesama muslim. Jangan biarkan permusuhan, salah paham, atau ego merusaknya. Bukalah hati untuk saling memaafkan. Tak ada manusia tanpa salah. Memaafkan membawa ketenangan; meminta maaf membawa keselamatan. Allah menegaskan bahawa orang yang menahan amarah dan memaafkan termasuk golongan bertakwa.
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ١٣٣ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤
Artinya: “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (yaitu) Orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Semoga Allah SWT menjadikan kita orang-orang yang gemar menyambung silaturahmi dan mudah memaafkan, sehingga hidup kita penuh keberkahan dan kelak mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya. Amin.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ . اللَّهُمَّ إِنِّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَ مِن سَيِّئِ الأَسْقَامِ. إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung.