Khutbah Jumat: Menjaga Air Sebagai Sumber Kehidupan di Tengah Perkembangan AI
Kamis, 1 Oktober 2026 | 15:13 WIB
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa berbagai kemudahan dalam kehidupan manusia, tetapi di balik kemajuan tersebut terdapat kebutuhan besar terhadap sumber daya, termasuk air yang digunakan dalam operasional pusat data. Kondisi ini mengingatkan kita bahwa kemajuan teknologi tidak boleh mengabaikan kelestarian lingkungan dan hak masyarakat atas sumber daya yang menjadi kebutuhan bersama.
Berikut naskah khutbah Jum'at yang berjudul, “Khutbah Jumat: Menjaga Air Sebagai Sumber Kehidupan di Tengah Perkembangan AI ”. Untuk mencetaknya, silakan klik ikon berwarna merah pada bagian kanan atas. Semoga bermanfaat.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي تَفَرَّدَ بِالْعِزِّ وَالْجَلَالِ، وَتَوَحَّدَ بِالْكِبْرِيَاءِ وَالْكَمَالِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلَا نَفَادَ لِحِكْمَتِهِ، وَلَا زَوَالَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الَّذِي أَكْرَمَهُ اللَّهُ بِأَشْرَفِ الْأَخْلَاقِ وَالْخِصَالِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ.
أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ الله! إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وِلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مَسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ {اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَاۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ}
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita bersama-sama meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan senantiasa melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Kita hidup di zaman ketika teknologi berkembang begitu pesat. Hari ini, banyak hal yang dahulu terasa sulit dilakukan, kini dapat kita kerjakan hanya melalui sebuah telepon genggam.
Kita dapat berbicara dengan orang yang berada jauh dari kita, mencari informasi dalam hitungan detik, bahkan memanfaatkan teknologi untuk menulis, menerjemahkan, dan membantu berbagai pekerjaan lainnya.
Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, kemajuan teknologi juga membawa konsekuensi yang perlu kita perhatikan. Setiap kemajuan membutuhkan sumber daya. Ketika sumber daya tersebut digunakan secara berlebihan atau dikelola tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan, kemaslahatan yang hendak diwujudkan justru dapat mengganggu kemaslahatan yang lain.
Salah satu inovasi yang berkembang pesat dan banyak dimanfaatkan oleh umat manusia saat ini adalah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi ini memberikan begitu banyak kemudahan dan manfaat dalam kehidupan.
Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat pula persoalan yang perlu kita renungkan. Pusat data atau data center yang menjadi salah satu infrastruktur penting dalam pengembangan dan pengoperasian AI membutuhkan energi dan sumber daya dalam jumlah besar, termasuk air untuk membantu proses pendinginan server.
Persoalan ini menjadi semakin penting untuk diperhatikan ketika pusat data dibangun di kawasan yang padat penduduk dan memiliki keterbatasan sumber daya air. Salah satu contoh yang perlu menjadi perhatian adalah pembangunan pusat data berskala besar di kawasan Jatiluhur, Jawa Barat.
Ketika air dalam jumlah besar digunakan untuk kebutuhan pusat data, sementara ketersediaan air di sekitarnya terbatas, maka terdapat potensi berkurangnya pasokan air yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Jika hal ini tidak dikelola dengan baik dan tidak disertai aturan serta pengawasan yang memadai, bukan tidak mungkin persoalan tersebut pada akhirnya dapat mengganggu ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Padahal, air merupakan sumber kehidupan yang sangat dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup. Tanpa air, manusia tidak dapat bertahan hidup, tumbuhan tidak akan tumbuh dengan baik, hewan akan mengalami kesulitan untuk hidup, dan berbagai aktivitas manusia pun tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Oleh karena itu, menjaga sumber air bukan sekadar persoalan menjaga kelestarian alam. Lebih dari itu, menjaga air berarti menjaga kehidupan, melindungi masyarakat, dan memastikan keberlangsungan berbagai makhluk hidup yang Allah Swt. ciptakan di muka bumi.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Hari ini, sebagian dari kita mungkin masih dapat menikmati mudahnya akses terhadap air. Kran tinggal kita buka, sumur cukup dipompa, dan air pun dapat kita gunakan untuk berbagai kebutuhan. Namun, ketika air mulai sulit diperoleh, barulah kita benar-benar menyadari betapa besar nikmat dan betapa pentingnya air bagi kehidupan.
Al-Qur’an bahkan menjelaskan bahwa air bukan hanya sesuatu yang kita butuhkan untuk mempertahankan kehidupan, tetapi merupakan bagian yang sangat mendasar dari kehidupan itu sendiri.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surat al-Anbiya ayat 30:
اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَاۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ
Artinya: “Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi, keduanya, dahulu menyatu, kemudian Kami memisahkan keduanya dan Kami menjadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air? Maka, tidakkah mereka beriman?”
Ayat ini menggambarkan betapa pentingnya posisi air dalam kehidupan. Air merupakan salah satu unsur yang sangat mendasar bagi keberadaan makhluk hidup. Dengan demikian, menjaga air berarti menjaga salah satu penopang utama kehidupan di muka bumi.
Terkait dengan hal ini, Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir juz 17 halaman 47 menjelaskan:
جعل الماء سببا للحياة، فالله تعالى خلق كل شيء من الماء، وحفظ حياة كل شيء بالماء، وأوجد الإنسان من ماء الصلب
Artinya: “Air dijadikan sebagai sebab adanya kehidupan. Allah Swt. menciptakan segala sesuatu dari air, menjaga kehidupan setiap makhluk hidup dengan air, dan menciptakan manusia dari air sulbi (sperma).”
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Begitu pentingnya air bagi kehidupan, sehingga syariat memberikan perhatian besar terhadap pemanfaatannya. Air tidak semestinya menjadi sesuatu yang dapat dimonopoli oleh segelintir orang, terlebih ketika air tersebut merupakan sumber daya yang dibutuhkan oleh masyarakat luas.
Karena itu, Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa terdapat sumber daya tertentu yang pemanfaatannya menjadi hak bersama. Dalam fikih, hal ini dikenal dengan istilah al-huquq al-musytarakah. Salah satunya adalah air.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْكَلَإِ، وَالْمَاءِ، وَالنَّارِ
Artinya: “Kaum Muslimin berserikat dalam tiga hal: padang rumput, air, dan api.” (HR. Abu Dawud)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa sumber daya yang menjadi kebutuhan bersama tidak semestinya dikuasai dan dimonopoli sehingga menghilangkan hak orang lain untuk memanfaatkannya. Sejatinya, air yang dimaksud sebagai milik bersama adalah air yang masih berada pada sumbernya, seperti air hujan, air sungai, dan sumber-sumber air lainnya.
Dari sini kita dapat memahami betapa pentingnya menjaga dan merawat sumber air. Merusak atau memonopoli sumber air bukan hanya berpotensi mengganggu kepentingan masyarakat, tetapi juga dapat mengganggu keseimbangan kehidupan berbagai makhluk yang bergantung kepadanya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Islam tidak mengajarkan kita untuk menolak perkembangan teknologi. Sebaliknya, manusia diberikan akal untuk berpikir, belajar, berkreasi, dan menghasilkan berbagai inovasi yang dapat memberikan kemaslahatan.
Namun, kemajuan dan inovasi harus berjalan bersama dengan tanggung jawab. Jangan sampai sebuah kemajuan justru menghadirkan mudarat bagi masyarakat atau merusak sumber daya yang menjadi kebutuhan bersama.
Dalam sebuah kaidah yang masyhur disebutkan:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
Artinya: “Jangan membahayakan diri sendiri dan jangan pula membahayakan orang lain.”
Kaidah ini mengajarkan kepada kita bahwa setiap tindakan harus dipertimbangkan dampaknya. Jangan sampai sesuatu yang pada satu sisi memberikan manfaat, pada sisi lain justru menimbulkan mudarat yang lebih besar bagi orang lain.
Dalam konteks pembangunan dan pengembangan teknologi, prinsip ini menjadi pengingat bahwa setiap proyek perlu mempertimbangkan dampak yang mungkin ditimbulkannya. Ketika sebuah pembangunan dapat dilaksanakan dengan tetap menjaga hak dan kepentingan masyarakat, maka hal itulah yang harus diupayakan.
Sebaliknya, apabila terdapat potensi berkurangnya sumber air, terganggunya kebutuhan masyarakat, atau terdampaknya lahan pertanian dan lingkungan sekitar, maka langkah-langkah pencegahan harus dilakukan sejak awal. Kemajuan teknologi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan kebutuhan dasar masyarakat.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pada akhirnya, marilah kita terus mendukung ilmu pengetahuan, teknologi, dan berbagai bentuk inovasi yang membawa kemaslahatan. Namun, jangan sampai kemajuan tersebut membuat kita lupa bahwa alam dan sumber daya yang ada di dalamnya juga merupakan amanah dari Allah Swt.
Jangan karena mengejar kemajuan, kita kemudian mengabaikan kepentingan dan hak orang lain. Jangan sampai sesuatu yang diciptakan untuk memberikan kemudahan justru menimbulkan kesulitan bagi masyarakat yang lain.
Marilah kita menjaga air, menjaga lingkungan, dan menjaga keseimbangan kehidupan. Sebab, menjaga sumber daya kehidupan berarti menjaga amanah Allah Swt. sebagai khalifah di muka bumi.
Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan kepada kita kekuatan, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi dengan sebaik-baiknya.
Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing langkah kita, menjaga lingkungan dan sumber daya kehidupan kita, serta menjadikan setiap ilmu, teknologi, dan inovasi yang kita kembangkan sebagai jalan menuju kemaslahatan. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ؛ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَحْدَهُ لا شريكَ لَهُ ارْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَ كَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ سَيِّدُ الإِنْسِ وَالبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللَّهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ . وَاعْلَمُوا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ فَقَالَ تعالى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّد وَ عَلَى آل سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ وعلى آل سيدنا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللهم عَنِ الخُلَفَاء الرَّاشِدِيْنَ سَادَاتِنَا اَبِي بَكْرٍ وعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَحَابَةِ والتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِينَ وَ الْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُحِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْاِسْلَامَ وَالْمُسْلِمَيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدَّيْنَ وَاخْذّلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنِ وَ . اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَ إِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُكُمْ وَ لَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ واللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
-------------
Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, kini mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Lombok Tengah.