Khutbah

Khutbah Jumat: Pentingnya Ikhlas dan Meluruskan Niat dalam Beramal

NU Online  ·  Kamis, 1 Oktober 2026 | 16:11 WIB

Khutbah Jumat: Pentingnya Ikhlas dan Meluruskan Niat dalam Beramal

Khutbah Jumat (magnific)

Ikhlas merupakan salah satu kunci penting dalam beramal. Tidak cukup bagi kita hanya melakukan kebaikan, tetapi kita juga perlu memastikan untuk siapa amal tersebut dilakukan. Di tengah kehidupan yang semakin mudah membuat segala sesuatu terlihat dan diketahui orang lain, menjaga niat menjadi tantangan tersendiri.

 

Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat: Pentingnya Ikhlas dan Meluruskan Niat dalam Beramal”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

 

Khutbah I

 


الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ الذُّنُوْبُ وَالسَّيِّئَاتُ، وَبِكَرَمِهِ تُقْبَلُ الْعَطَايَا وَالْعِبَادَاتُ. الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ، الْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ، الْمُرْسَلِ إِلَى كَافَّةِ الْمَخْلُوْقِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَذُرِّيَتِهِ الْأَطْهَارِ، وَصَحَابَتِهِ الْأَخْيَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِالْاِبْتِعَادِ مِنَ الْأَشْرَارِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْنِ.

 أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَايَحْتَسِبُ.

 

Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah,

 

Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada kita semua untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan itu kita wujudkan dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

 


 

Di tengah kehidupan yang serba cepat seperti sekarang, kita hampir selalu berpindah dari satu kesibukan kepada kesibukan berikutnya. Bangun pagi, bekerja, mengurus keluarga, berinteraksi dengan banyak orang, membuka media sosial, menyelesaikan berbagai urusan, kemudian beristirahat.


 

Demikian pula dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim. Setiap hari, setidaknya kita menunaikan shalat lima waktu. Belum lagi berbagai ibadah sunnah yang kita lakukan: membaca Al-Qur'an, bersedekah, membantu sesama, serta melakukan berbagai kebaikan lainnya.

 

Namun, tidak jarang tubuh kita hadir dalam suatu aktivitas, sementara hati dan pikiran kita justru berada di tempat lain. Tubuh kita sedang bekerja, tetapi pikiran sibuk memikirkan urusan yang berbeda. Tubuh kita sedang melaksanakan ibadah, tetapi hati belum sepenuhnya hadir di dalamnya.

 

Karena itu, ada satu hal yang perlu terus kita latih dalam kehidupan kita: berhenti sejenak dan menghadirkan kesadaran dalam setiap amal yang kita lakukan. Kita perlu menyadari apa yang sedang kita kerjakan, memperhatikan dan menjaga keadaan hati, serta senantiasa mengingat bahwa Allah SWT melihat dan mengetahui setiap amal yang kita lakukan.

 

Kesadaran itu dapat kita mulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan sederhana, tetapi sangat penting kepada diri kita sendiri: Mengapa saya melakukan ini? Untuk siapa saya melakukannya? Apakah saya melakukannya karena memang membutuhkannya, atau sekadar menggugurkan kewajiban?


Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting agar apa yang kita lakukan tidak sekadar menjadi rutinitas. Sebab, bisa jadi kita melakukan banyak hal setiap hari, tetapi tidak semuanya benar-benar kita hayati. Bisa jadi kita banyak beramal, tetapi hati kita belum sepenuhnya hadir dalam amal tersebut.


Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah,


Selain menghadirkan kesadaran dalam setiap amal, marilah kita senantiasa mengingat firman Allah SWT:


وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

 

Artinya: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5).

 


Ikhlas adalah ketika hati belajar mengarahkan seluruh amal hanya kepada Allah SWT. Kita boleh dipuji dan boleh menerima penghargaan, tetapi hati tidak menggantungkan nilai amal kita pada pandangan manusia. Sebab, yang paling kita cari bukanlah pengakuan manusia, melainkan penerimaan dari Allah.

 

Pujian boleh datang. Penghargaan boleh kita terima. Namun, jangan sampai keduanya menjadi alasan kita beramal. Sebab, manusia mungkin hanya melihat apa yang tampak, sementara Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati.

 


Imam al-Nawawi dalam al-Adzkar, halaman 7, dengan mengutip pendapat Imam al-Qusyairi, menjelaskan bahwa ikhlas adalah:

 


الإِخْلَاصُ إِفْرَادُ الْحَقِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي الطَّاعَةِ بِالْقَصْدِ

 


Artinya: “Ikhlas adalah mengkhususkan Allah SWT dalam ketaatan dengan menjadikan-Nya satu-satunya tujuan.”


Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah,


Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berbuat baik sambil tanpa sadar menantikan respons dari manusia. Kita membantu seseorang, lalu berharap kebaikan itu diingat. Kita bekerja dengan sungguh-sungguh, kemudian merasa kecewa ketika usaha kita tidak dihargai.

 


Begitu pula ketika kita bersedekah. Terkadang muncul rasa senang ketika kebaikan kita diketahui oleh orang lain. Di zaman media sosial seperti sekarang, amal kebaikan pun semakin mudah berubah menjadi sesuatu yang ingin kita tampilkan dan bagikan.
Namun, mendokumentasikan amal tidak selalu berarti riya. 

 


Demikian pula, menerima pujian tidak serta-merta menunjukkan bahwa seseorang tidak ikhlas. Persoalannya jauh lebih dalam: jangan sampai pandangan manusia perlahan mengambil tempat yang seharusnya hanya menjadi milik Allah di dalam hati kita.
 

 

Karena itu, kita perlu belajar menghadirkan kesadaran dalam setiap kebaikan yang kita lakukan. Ketika bersedekah, sadari bahwa kita sedang menyalurkan sebagian rezeki yang Allah titipkan kepada kita kepada orang yang membutuhkan.

 


Ketika mengajar, merawat orang tua, mengurus keluarga, membantu tetangga, atau melayani masyarakat, hadirkan kesadaran bahwa tidak ada satu pun amal yang luput dari pengetahuan Allah.

 


Sebab, ketika hati benar-benar menyadari bahwa Allah melihat dan mengetahui setiap kebaikan yang kita lakukan, penghargaan manusia tidak lagi menjadi tujuan utama. Yang kita cari bukan sekadar agar kebaikan kita dilihat dan diingat oleh manusia, melainkan agar kebaikan itu diterima dan bernilai di sisi Allah.


Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah,


Ada sebuah peristiwa yang sangat indah dalam kehidupan para sahabat. Kisah ini sebagaimana direkam oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab Shahih-nya.


Ada seorang sahabat bernama Ma‘n bin Yazid. Ia menceritakan bahwa ayahnya, Yazid, mengeluarkan beberapa dinar untuk disedekahkan. Uang tersebut dititipkan kepada seseorang di masjid agar diberikan kepada orang yang berhak menerimanya.

 

Ternyata, Ma‘n, anaknya sendiri, datang dan mengambil uang tersebut. Ketika Yazid mengetahui hal itu, ia mengatakan bahwa Ma‘n bukanlah orang yang sejak awal ia maksudkan sebagai penerima sedekah. Persoalan tersebut kemudian dibawa kepada Nabi SAW.

 


Setelah mendengar cerita tersebut, Nabi SAW bersabda:


لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ


Artinya: “Wahai Yazid, engkau mendapatkan apa yang engkau niatkan; dan wahai Ma‘n, engkau mendapatkan apa yang engkau ambil.” (HR. al-Bukhari no. 1422).

 

Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah,


Perhatikan betapa dalam pesan hadis ini. Yazid berniat memberikan sedekah kepada seseorang yang berhak menerimanya. Kenyataannya, uang tersebut justru sampai kepada anaknya sendiri. Namun, Nabi SAW tetap mengatakan, “Engkau mendapatkan apa yang engkau niatkan.”


Syekh al-Qasthalani dalam kitab Irsyad al-Sari, juz 3, halaman 24, menjelaskan bahwa Yazid tetap mendapatkan pahala sedekah sesuai dengan niat awalnya. Sedekah itu ditujukan kepada orang yang membutuhkan, dan Ma‘n termasuk orang yang berhak menerimanya.

 

Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah


Hadis ini juga mengajarkan kepada kita bahwa nilai sebuah amal tidak selalu ditentukan oleh bagaimana amal itu terlihat pada akhirnya. Manusia hanya melihat hasil yang tampak, sedangkan Allah mengetahui niat yang tersembunyi di baliknya.

 

Karena itu, kita tidak perlu terlalu sibuk memastikan bahwa setiap kebaikan kita diketahui manusia. Ada amal yang cukup diketahui oleh Allah. Ada kebaikan yang tidak perlu mendapatkan tepuk tangan.

 

Ada pertolongan yang tidak perlu disebutkan. Bahkan ada perjuangan panjang dalam keluarga, pekerjaan, dan kehidupan yang mungkin tidak pernah dihargai manusia, tetapi sama sekali tidak luput dari penilaian Allah.

 

Ikhlas juga membuat hati lebih tenang. Ketika pekerjaan kita tidak dipuji, kita tidak kehilangan seluruh semangat. Ketika bantuan kita tidak dibalas, kita tidak merasa seluruh kebaikan menjadi sia-sia.

 

Ketika orang lain tidak mengetahui pengorbanan kita, kita tetap mampu melanjutkan kebaikan, karena tujuan kita bukan semata-mata mendapatkan pengakuan manusia. Maka, marilah kita melatih diri untuk lebih hadir dalam setiap amal. Kurangi menjadikan amal kita hanya sebagai beban kewajiban dan formalitas belaka.

 

Kita mesti berhenti sejenak untuk menyadari bahwa Allah sedang melihat kita. Luruskan niat sebelum memulai, jaga hati ketika menjalankan, dan serahkan hasilnya kepada Allah setelah selesai.

 

Semoga Allah membersihkan hati kita dari riya, meluruskan niat kita, dan menjadikan setiap amal kita sebagai amal yang diterima di sisi-Nya.

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.
 


Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

 

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً


 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

 

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

--------
M. Syarofuddin Firdaus, Dosen Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat