Khutbah

Khutbah Jumat: Menjauhi Rasisme di Media Sosial

Rabu, 29 Juli 2026 | 16:00 WIB

Khutbah Jumat: Menjauhi Rasisme di Media Sosial

Ilustrasi media sosial. Sumber: Canva.

Rasisme adalah perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam, nilai kemanusiaan, dan semangat persatuan di tengah perbedaan. Namun, di era media sosial, perilaku negatif ini seakan memiliki peluang dan ruang untuk dilakukan kapan saja dan di mana saja. Karena itu, mari kita bijak bermedia sosial dengan menjaga ucapan, tulisan, dan jari-jari kita dari penghinaan, ujaran kebencian, dan diskriminasi terhadap siapa pun.

 

Naskah khutbah Jumat berikut ini berjudul “Menjauhi Rasisme di Media Sosial”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

 

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ، وَجَعَلَ فِيْهِ مَنَاهِجَ الْهِدَايَةِ لِلنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، صَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Mengawali khutbah ini, khatib berwasiat kepada seluruh jamaah, wabil khusus kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa menguatkan ketakwaan sebagai modal dalam menjalani kehidupan agar selalu berada di jalan yang telah disyariatkan oleh agama Islam. Modal ini penting terlebih dalam menghadapi era modern yang penuh dengan guncangan perubahan.

 

Saat ini, kita hidup di zaman ketika teknologi berkembang begitu pesat. Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Dengan menggunakan HP, kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Sebuah tulisan, foto, video, atau komentar yang kita buat hari ini dapat menyebar kepada ribuan bahkan jutaan orang hanya dalam hitungan menit.

 

Media sosial memberikan kemudahan dan banyak manfaat. Media sosial dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan, silaturahmi, ekonomi, penyampaian informasi, dan mempererat hubungan antarmanusia.

 

Namun, Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Di balik manfaat tersebut, ada pula tantangan yang harus kita hadapi. Salah satunya adalah munculnya berbagai bentuk ujaran kebencian, penghinaan, dan diskriminasi yang dengan mudah kita temui. Perilaku negatif ini sangat mudah mengarah kepada tindakan rasis atau rasisme dengan merendahkan, membenci, mendiskriminasi, atau memperlakukan seseorang secara tidak adil karena ras, suku, warna kulit, atau asal-usulnya.

 

Rasisme di media sosial bisa muncul dalam berbagai bentuk. Kadang berupa komentar yang menghina warna kulit, candaan yang merendahkan suku tertentu, gambar, video, atau tulisan yang menggambarkan kelompok tertentu secara negatif. Bahkan, ada pula yang sengaja menggunakan identitas ras dan suku sebagai bahan provokasi untuk menimbulkan permusuhan.

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Kita harus sadari bahwa Islam adalah agama yang sangat tegas menolak kesombongan, penghinaan, dan diskriminasi terhadap sesama manusia.

 

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 11:

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ۝١١

 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.

 

Dalam ayat selanjutnya, yakni Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 13, Allah juga menegaskan bahwa perbedaan-perbedaan adalah sunnatullah:

 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣

 

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti."

 

Dua ayat ini memberikan pelajaran yang sangat jelas kepada kita bahwa kita dilarang melakukan rasisme. Allah menciptakan kita dalam keadaan berbeda-beda. Ada yang berbeda suku, bangsa, bahasa, warna kulit, dan budaya. Dalam Tafsir Munir, Syekh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili menjelaskan:

 

وَالْمَقْصُوْدُ أَنَّ اللَّهَ خَلَقَكُمْ لِأَجْلِ التَّعَارُفِ لاَ لِلتَّفَاخُرِ بْالْأَنْسَابِ، وَإِنَّ التَّفَاضُلَ بَيْنَكُمْ إِنَّمَا هُوَ بِالتَّقْوَى، فَمَنْ اِتَّصَفَ بِهَا كَانَ هُوَ الْأَكْرَمُ وَالْأَشْرَفُ وَالْأَفْضَلُ فَدَعَوْا التَّفَاخُرَ

 

Artinya: “Maksud bahwa Allah menciptakan kalian (dengan berbeda-beda suku dan bangsa) adalah untuk saling mengenal, bukan untuk saling membanggakan keturunan (rasisme). Sesungguhnya keunggulan di antara kalian adalah hanya bisa diraih dengan takwa. Siapa saja yang bersifat dengannya (takwa), maka dialah yang lebih terhormat, lebih mulia dan lebih utama, maka tinggalkanlah rasisme.”

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Dulu, ketika tindakan rasis dilakukan, mungkin hanya diketahui oleh beberapa orang saja. Namun, sekarang, satu tindakan rasis bisa diketahui oleh ribuan orang. Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa jari-jari kita di media sosial adalah representasi dari lisan kita. Apa yang kita tulis adalah perkataan. Apa yang kita unggah adalah pesan. Apa yang kita bagikan adalah bentuk tanggung jawab.

 

Karena itu, jangan sampai tangan kita menjadi sebab lahirnya permusuhan. Jangan sampai jari-jari kita menjadi alat untuk merendahkan orang lain. Jangan sampai akun media sosial kita menjadi tempat berkembangnya kebencian dan tindakan rasis.

Rasisme bukan hanya melukai perasaan orang lain. Rasisme dapat merusak persaudaraan dan persatuan masyarakat, terlebih bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, budaya, dan agama. Bangsa kita memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda, tetapi tetap satu. Indonesia menjadi kuat bukan karena kita semua sama. Indonesia menjadi kuat karena kita mampu hidup bersama dalam perbedaan.

 

Karena itu, ketika ada seseorang menghina suku tertentu, sesungguhnya ia sedang melukai bagian dari bangsa Indonesia. Ketika ada seseorang merendahkan kelompok tertentu, sesungguhnya ia sedang merusak persaudaraan kebangsaan. Dan ketika media sosial digunakan untuk menyebarkan kebencian berbasis ras dan suku, kita harus bersama-sama menghentikannya.

 

Jangan biarkan media sosial menjadi ruang yang memecah belah bangsa. Jangan biarkan perbedaan menjadi bahan permusuhan. Jangan biarkan kebencian menjadi tontonan. Sebaliknya, mari kita jadikan media sosial sebagai ruang untuk memperkuat persaudaraan.

 

14 abad lalu, Rasulullah telah mendeklarasikan bahwa tidak ada tempat untuk superioritas rasial di dunia ini. Pesan tersebut disampaikan saat pidato pada Haji Wada’. Beliau menyeru:

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ  أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلاَ لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلاَ أَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلاَّ بِالتَّقْوَى

 

Artinya: “Wahai manusia, ketahuilah bahwa Rabb kalian adalah satu, dan bahwa nenek moyang kalian adalah satu. Ketahuilah bahwa tidak ada keunggulan bagi seorang Arab atas non-Arab, atau sebaliknya, dan tidak ada keunggulan bagi seorang kulit putih atas kulit hitam, atau sebaliknya, kecuali dalam ketakwaan!” (HR Ahmad dan Ath-Thabrani)

 

Semoga Allah SWT membimbing kita agar mampu menggunakan media sosial dengan bijaksana. Semoga Allah menjaga lisan kita, menjaga tulisan kita, menjaga jari-jari kita, dan menjadikan setiap kata yang kita sampaikan sebagai jalan menuju kebaikan. Amin.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu.