Khutbah

Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan

Jumat, 9 Oktober 2026 | 04:19 WIB

Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan

Khutbah Jumat (Magnific)

Perundungan atau bullying sangat di larang dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah melarang dengan tegas perilaku perundungan baik itu verbal ataupun non verbal.

 

Teks khutbah Jumat berikut berjudul "Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat.

 

Khutbah I


الْحَمْدُ لِلَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالطَّاعَةِ وَالْعِبَادَةِ، وَنَهَانَا عَنِ الْغَفْلَةِ وَالتَّفْرِيطِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًاࣖ

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,


Segala puji dan syukur hanya milik Allah semata. Tuhan yang memberikan kita kenikmatan iman dan Islam sehingga dalam keadaan yakin dan sadar kita berkumpul untuk beribadah shalat Jumat di siang hari ini mengharapkan ridha-Nya.

 

Shalawat beserta salam tak lupa semoga tercurahkan bersama kepada baginda kita, Nabi Muhammad saw, juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya. Aamiiin ya Rabbal ‘alamin.

 

Khatib juga tak lupa untuk memberikan wasiat dan mengajak pada jamaah sekalian sekaligus diri pribadi agar selalu meningkatkan takwa kepada Allah Swt dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,


Fenomena bullying atau perundungan masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Kasus terbaru, mengutip BBC Seorang murid sekolah dasar  di Pemalang, Jawa Tengah, meninggal dunia akibat perundungan dan kekerasan yang dilakukan oleh kakak kelasnya di sekolah. 

 

Sepanjang 2026 sendiri, Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat setidaknya ada 36 kasus kekerasan fisik, dari total 100 kasus kekerasan yang terjadi sepanjang Januari hingga September 2026.

 

Perundungan atau bullying adalah perilaku yang sangat dilarang dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. melarang umat-Nya untuk menyakiti, menghina, merendahkan, atau melakukan kekerasan terhadap orang lain, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Perilaku tersebut dapat menyakiti hati dan merugikan orang lain.

 

Allah Swt berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 58

 


وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًاࣖ


Artinya: “Orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.”

 

Ayat yang baru saja khatib sampaikan mengandung perintah untuk menjauhi perilaku bullying atau merundung. Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Marah Labid juz 2 hal 261 menjelaskan bahwa orang-orang yang menyakiti lain baik dengan perbuatan maupun ucapan akan menanggung beban dosa yang berat.

 

Simak keterangan Syekh Nawawi berikut;

 


وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِناتِ بِقَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا أَيْ بِغَيْرِ جِنَايَةٍ يَسْتَحِقُّوْنَ بِهَا الْأَذِيَّةَ فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا أَيْ زُوْرًا وَإِثْمًا مُبِيْنًا، أَيْ ذَنْبًا ظَاهِرًا مُوْجِبًا لِلْعِقَابِ فِي الآخِرَةِ


 

Artinya: “Orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat dengan ucapan ataupun perbuatan dengan tanpa adanya kesalahan dari mereka yang berhak dihukum maka mereka telah menanggung dosa yang nyata dan mewajibkan mereka disiksa di akhirat.”

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,


Dalam rangka mengatasi perundungan yang terjadi terutama di kalangan anak-anak diperlukan adanya kerjasama antara orang tua, masyarakat juga peran dari pemerintah. Nirwasita Zada ​​Paramesti dkk, dalam artikelnya yang berjudul Peran Negara, Masyarakat, dan Keluarga untuk menanggulangi Bullying dalam Perspektif Hukum Perlindungan Anak menyebutkan perlu adanya integrasi antara peran pemerintah, masyarakat dan keluarga dalam menangani dan mencegah kasus perundungan.


Pertama, peran pemerintah dalam menciptakan lingkungan bebas perundungan terletak pada pembentukan kebijakan, penegakan hukum, pendidikan dan pencegahan, serta perlindungan dan rehabilitasi bagi korban. Negara bertindak melalui berbagai lembaga dan badan pemerintah untuk menjamin bahwa anak-anak terlindungi dari segala bentuk kekerasan dan pendidikan, termasuk perundungan.


 

Negara dalam hal ini pemerintah memiliki kewajiban untuk melindungi rakyatnya lewat kebijakan-kebijakan yang dibuat berdasarkan kemaslahatan masyarakat. Termasuk dalam hal ini ialah pemerintah memiliki peranan penting dalam membuat kebijakan untuk menciptakan lingkungan bebas perundungan.

 

Sebagaimana Ibnu Asyur menjelaskan peranan pemerintah dalam tafsirnya At-Tahrir wat Tanwir, juz 5, hal 97 berikut:


فَأُولُو الْأَمْرِ مِنَ الْأُمَّةِ وَمِنَ الْقَوْمِ هُمُ الَّذِينَ يُسْنِدُ النَّاسُ إِلَيْهِم تَدْبِير شؤونهم وَيَعْتَمِدُونَ فِي ذَلِكَ عَلَيْهِمْ، فَيَصِيرُ الْأَمْرُ كَأَنَّهُ مِنْ خَصَائِصِهِمْ،


Artinya: “Pejabat pemerintahan dari rakyat ialah mereka yang dipasrahkan oleh rakyat untuk mengatur dan membuat kebijakan yang baik untuk rakyatnya sehingga rakyat bisa menjadikannya patokan. Sehingga hal tersebut seakan-akan menjadi keistimewaan bagi mereka”.

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,


Kedua, selain peran dari pemerintah dibutuhkan pula peran dari masyarakat setempat dalam menciptakan lingkungan bebas bullying. Peran masyarakat sebagai upaya menanggulangi perundungan terutama yang terjadi pada anak telah dijelaskan dalam Pasal 72 ayat (3) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

 

Di antara peran masyarakat dalam menciptakan lingkungan bebas perundungan ialah dengan memberikan informasi melalui sosialisasi dan edukasi mengenai hak anak, meningkatkan kesadaran bahaya perundungan dan memberikan pemahaman mengenai tanda-tanda bullying dan penanganannya dengan tepat.

 

Masyarakat juga dapat mengambil peran aktif dalam mengambil tindakan hukum seperti melaporkan bila melihat adanya tindakan perundungan dengan tujuan untuk menyelesaikan kasus tersebut dan memberikan perlindungan pada korban.

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,


Ketiga, ialah peran dari keluarga. Keluarga khususnya orang tua memiliki peranan penting dalam menciptakan lingkungan bebas bullying. Di antaranya ialah dengan cara memberikan pendidikan dan edukasi terkait bahaya perundungan, pentingnya menghargai orang lain, dan nasihat baik lainnya sebagai upaya menjaga keluarga dari perbuatan buruk.


Allah berfirman dalam Surat At-Tahrim ayat 6:

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ


 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

 

Demikian khutbah Jumat terkait pentingnya peranan pemerintah, masyarakat dan keluarga dalam menciptakan lingkungan bebas bullying. Semoga kita dan keluarga kita dijauhkan dari perbuatan buruk yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Aamin ya rabbal alamin.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ


Khutbah II

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَهَدَانَا إِلَى طَرِيقِهِ الْمُسْتَقِيمِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ


أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ
عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

 

-------------
Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu