Khutbah Jumat: Peringatan Allah bagi Mereka yang Merusak Alam
Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:25 WIB
Belakangan ini, bangsa Indonesia sedang dilanda oleh berbagai bencana. Mulai dari kekeringan di berbagai daerah, gempa NTT, kebakaran hutan di Kalimantan dan Desa Adat Sade Lombok dan berbagai musibah lainnya. Fenomena tersebut tidak selalu murni berupa musibah dan ujian, terkadang ia merupakan peringatan dari Allah terhadap tindakan eksploitatif yang dilakukan manusia terhadap alam.
Berikut naskah khutbah Jumat yang berjudul, “Khutbah Jumat: Peringatan Allah swt tentang Dampak Merusak Alam”. Untuk mencetaknya, silakan klik ikon berwarna merah pada bagian kanan atas desktop. Semoga bermanfaat
Khutbah I
الحَمْدُ لله الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ لِلْعَالَمِيْنَ بَشِيَرًا وَنَذِيْرًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الله! إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وِلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مسْلموْنَ. قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ: {ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}
Di hari yang mulia ini, khatib berwasiat kepada kita semua untuk selalu meng- upgrade diri kita dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt. Keimanan yang tertanam kuat di hati yang kemudian diaplikasikan dengan ketaatan untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Keimanan dan ketakwaan yang bukan hanya akan menjadikan kita sebagai individu yang Saleh secara personal, tetapi juga saleh secara sosial dan bahkan saleh secara ekologis.
Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at Rahimakumullah
Akhir-akhir ini, kita dihadapkan dengan kondisi alam yang kerap tidak bersahabat dengan manusia. Kekeringan, gempa bumi, kebakaran hutan dan berbagai musibah alam lainnya datang silih berganti. Pada saat saudara-saudara kita yang ditimpa musibah gempa bumi belum sepenuhnya pulih, musibah asap kebakaran hutan juga melanda saudara-saudara kita di Kalimantan dan Sumatera.
Namun, harus kita sadari bahwa berbagai fenomena dan bencana alam yang terjadi tidak selalu bersifat alamiah. Terkadang, berbagai bencana dan fenomena merupakan cara alam merespons tindakan serakah dan eksploitatif yang dilakukan oleh manusia. Banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan berbagai bencana lainnya seringkali disebabkan oleh kelalaian dan keserakahan manusia dalam berinteraksi dengan alam.
Kerusakan dan bencana alam yang terjadi akibat ulah manusia ini sudah digariskan Allah SWT dalam surat Ar-Rum ayat 41. Allah SWT berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: Ayat 41).
Ayat di atas secara tegas menggambarkan bahwa kerusakan yang terjadi di alam semesta ini dengan setiap komponennya disebabkan oleh ulah manusia. Imam an-Nasafi dalam kitabnya Madarikut Tanzil, juz 2 hal. 703 menjelaskan sebagai berikut:
{ظَهَرَ الفساد فِى البر والبحر} نحو القحط وقلة الأمطار والريع في الزراعات والربح في التجارات ووقوع الموتان في الناس والدواب وكثرة الحرق والغرق ومحق البركات من كل شئ
Artinya: "{Telah tampak kerusakan di darat dan di laut} seperti terjadinya paceklik, minimnya curah hujan, berkurangnya hasil panen, menurunnya keuntungan dalam perniagaan, terjadinya kematian masal pada manusia dan hewan, sering terjadi kebakaran dan banjir, sert lenyapnya keberkahan dari segala sesuatu."
Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at Rahimakumullah
Kerusakan-kerusakan yang disebutkan tadi bukan terjadi tanpa alasan. Namun, ia seringkali muncul sebagai akibat dari maksiat dan tindakan semena-mena yang dilakukan manusia.
Syaikh Musthafa al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi juz 21 hal 55 menjelaskan bahwa kezaliman dan keserakahan menjadi sebab utama datangnya bencana. Lebih jauh lagi, ia menjelaskan bahwa prilaku dan karakter tersebut lahir dari hawa nafsu yang tidak terkendali, yang disertai dengan lemahnya iman.
Dalam kondisi seperti ini, manusia akan bertindak semena-mena terhadap alam. Ketika keimanan dan keyakinan seseorang lemah, maka tidak ada rem yang dapat mengendalikan hawa nafsunya untuk berbuat kerusakan. Inilah yang menjadi akar masalah dari tindakan eksploitatif yang merusak harmoni serta keseimbangan alam.
Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at Rahimakumullah
Berbagai kerusakan dan bencana yang terjadi barangkali adalah dampak dari kemaksiatan kita, baik maksiat kepada Allah maksiat kepada diri sendiri, maksiat kepada sesama manusia, bahkan maksiat kepada alam. Itu sebabnya Abul 'Aliyah.
Sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya juz 6 hal. 287, mengatakan:
من عصى الله في الأرض فقد أفسد في الأرض، لأن صلاح الأرض والسماء بالطاعة
Artinya: "Barangsiapa yang maksiat kepada Allah ,maka sungguh ia telah melakukan kerusakan di bumi. Karena sesungguhnya, bumi dan langit akan menjadi baik dan lestari dengan sebab ketaatan."
Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at Rahimakumullah
Dalam ayat lain, Allah SWT menjelaskan bahwa tindakan eksploitatif terhadap alam adalah prilaku orang-orang munafik. Dalam surat Al-Baqarah ayat 205, Allah SWT berfirman:
وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
Artinya: "Apabila berpaling (dari engkau atau berkuasa), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan." (QS. Al-Baqarah: Ayat 205)
Ayat ini memberikan gambaran tentang perilaku orang munafik yang selalu berupaya melakukan kerusakan terhadap ekosistem dan kelestarian lingkungan. Menurut sebagian ulama, kata تولى dimaknai sebagai pemimpin. Artinya, ketika mereka menjadi pemimpin, maka tindakan dan kebijakannya selalu berdampak kepada kerusakan lingkungan, bahkan berpotensi menyebabkan punahnya berbagai jenis biota.
Terkait hal ini Imam Ar-Razi menjelaskan:
الْقَوْلُ الثَّانِي: فِي تَفْسِيرِ قَوْلِهِ: وَإِذا تَوَلَّى وَإِذَا صَارَ وَالِيًا فَعَلَ مَا يَفْعَلُهُ وُلَاةُ السُّوءِ مِنَ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ بِإِهْلَاكِ الْحَرْثِ وَالنَّسْلِ
Artinya: " Pendapat kedua tentang penafsiran ayat وَإِذا تَوَلَّى adalah, ketika orang munafik menjadi pemimpin maka ia akan melakukan apapun yang dilakukan oleh para pemimpin yang buruk, seperti melakukan kerusakan di bumi dengan membinasakan tanaman dan keturunan.
Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at Rahimakumullah
Karena itu, marilah kita senantiasa melestarikan lingkungan tempat kita hidup. Kita bisa mulai dari diri kita sendiri untuk tidak membuang sampah sembarang, menjaga kebersihan lingkungan, menanam pohon, dan tindakan lain yang bertujuan untuk melestarikan alam.
Kemudian, jika kita sebagai pemangku kebijakan, gunakanlah wewenang yang dimiliki untuk mendorong gerakan pelestarian lingkungan. Jangan sampai kebijakan yang kita buat justru menjadi pemicu kerusakan alam.
Sebab, tindakan semena-mena yang kita lakukan terhadap alam hari ini bukan hanya akan mendatangkan bencana di dunia, tetapi pelakunya juga akan diancam dengan siksa yang pedih di akhirat kelak.
بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم ونفعني واياكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم
Khutbah II
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَحْدَهُ لا شريكَ لَهُ ارْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَ كَفَرَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ سَيِّدُ الإِنْسِ وَالبَشَرِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللَّهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ . وَ اعْلَمُوا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ فَقَالَ تعالى إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّد وَ عَلَى آل سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ وعلى آل سيدنا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللهم عَنِ الخُلَفَاء الرَّاشِدِيْنَ سَادَاتِنَا اَبِي بَكْرٍ وعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَحَابَةِ والتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِينَ وَ الْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُحِيبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْاِسْلَامَ وَالْمُسْلِمَيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدَّيْنَ وَاخْذّلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنِ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَ إِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُكُمْ وَ لَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ واللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
----------
Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, kini mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Lombok Tengah.