Khutbah

Khutbah Jumat: Syukur Batin dan Syukur Lahir: Mengakui Nikmat dan Menggunakannya untuk Taat

Kamis, 24 September 2026 | 12:40 WIB

Khutbah Jumat: Syukur Batin dan Syukur Lahir: Mengakui Nikmat dan Menggunakannya untuk Taat

Khutbah Jumat (Magnific)

Naskah khutbah Jumat berikut ini berjudul “Khutbah Jumat: Syukur Batin, Syukur Lahir: Mengakui Nikmat dan Menggunakannya untuk Taat”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

 

Khutbah I

 


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَحَثَّ عَلَى الرَّحْمَةِ وَالْإِتْقَانِ، وَجَعَلَ الْقِيَادَةَ أَمَانَةً وَمَسْؤُولِيَّةً، وَخَيْرَ النَّاسِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَقَادَ الْأُمَّةَ بِالْعَدْلِ وَالرَّحْمَةِ وَالْحِكْمَةِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُولِي الْفَضْلِ وَالدِّيَانَةِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، وَبِأَدَاءِ الْأَمَانَةِ، وَإِقَامَةِ الْعَدْلِ، وَالرِّفْقِ بِمَنْ وَلَّانَا اللَّهُ أَمْرَهُمْ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ 

 

Ma’asyiral muslimin hafizakumullah,

 

Ungkapan syukur, yang diikuti dengan ikhtiar peningkatan iman dan takwa, menjadi sebuah keniscayaan bagi kita sebagai umat Islam. Segala nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada kita harus dipergunakan untuk beribadah dan kemaslahatan yang akan menambah keyakinan kepada Allah sekaligus menguatkan berkomitmen untuk menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

 

Dalam mewujudkan syukur, biasanya kita semua sering mengucapkan, “Alhamdulillah.” Mendapat rezeki, kita mengucapkan Alhamdulillah. Mendapat hadiah, Alhamdulillah. Naik jabatan, Alhamdulillah. Sembuh dari sakit, Alhamdulillah. Anak mendapat prestasi, Alhamdulillah. 
 

Namun kita harus menyadari, apakah syukur hanya dilakukan setelah kita mendapatkan sesuatu? Apakah syukur hanya direspons dengan mengucapkan Alhamdulillah? Apakah syukur ketika keadaan menjadi lebih baik? Atau ketika masalah yang kita hadapi selesai? Di sinilah kita perlu menguatkan syukur batin yang bersifat pasif dengan bersyukur secara aktif dan diwujudkan dalam bentuk lahiriyah.

 

Ma’asyiral muslimin hafizakumullah,
 

 

Allah SWT berfirman:

 

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ۝٧

 

Artinya: "Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'" (QS. Ibrahim: 7)

 

Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Quran Al-Azhim, Jilid IV, halaman 479 mengatakan ayat ini menjelaskan janji Allah bagi orang yang mau mensyukuri nikmat. Syukur berarti menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah, memuji-Nya atas nikmat tersebut, dan menggunakannya dalam kebaikan. 


Sebaliknya, kufur nikmat adalah mengingkari atau tidak menghargai nikmat yang telah Allah berikan. Karena itu, ketika seorang hamba bersyukur, Allah akan menambah nikmatnya. Sebaliknya, jika nikmat tersebut diingkari, Allah dapat mencabutnya dan memberikan azab.

 


Ayat ini sangat populer di telinga kita. Ketika mendapatkan nikmat, kita sering mengatakan, “Bersyukurlah, nanti Allah tambah nikmat.”. Hal ini tentu benar namun jangan sampai kita memahami syukur hanya sebagai ucapan setelah mendapatkan materi.

 

Sebab jika ukuran syukur adalah materi, kita akan mudah terjebak pada satu persoalan yakni berapa banyak yang membuat kita bisa merasa cukup?. Orang yang mendapatkan satu juta rupiah mungkin merasa cukup. Namun ada orang lain yang mendapatkan sepuluh juta rupiah tapi masih merasa kurang.

 

Ada yang bahagia tinggal di rumah sederhana. Namun ada yang memiliki rumah besar tetapi masih merasa tidak puas. Ada yang bersyukur punya sepeda motor. Namun ada yang sudah memiliki mobil tetapi masih mengeluh ingin mobil yang lebih mahal.

 

Maka itu, Ma’asyiral muslimin hafizakumullah,

 

Persoalan syukur bukan semata-mata berapa banyak nikmat yang kita miliki, tetapi seberapa mampu hati kita menyadari nikmat tersebut. Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadits Riwayat Imam Ahmad:

 

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى الْمِنْبَرِ : مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ، لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

 

Artinya: "Nabi SAW bersabda di atas mimbar: Barang siapa tidak bersyukur atas yang sedikit, maka ia tidak akan bersyukur atas yang banyak."

 

Dari peringatan Nabi ini kita harus menyadari untuk tidak sibuk menghitung apa yang belum kita miliki, sementara lupa menghitung begitu banyak nikmat yang sudah Allah berikan. Dari perintah Nabi ini kita diingatkan untuk memaksimalkan syukur dengan menguatkan reaksi dan juga aksi.

 

Dalam al-Risalah Al-Qusyairiyah Juz 1, hlm. 313 Ruwaim berkata;

 

 الشُّكْرُ اسْتِفْرَاغُ الطَّاقَةِ 

 

Artinya: “Syukur adalah aktivitas pendayagunaan seluruh kemampuan,” 

 

Sering kali kita melihat nikmat hanya sebagai sesuatu yang harus dinikmati. Padahal nikmat adalah modal untuk melakukan sesuatu yang lebih. Oleh karena itu penting memaksimalkan nikmat dengan bersyukur secara aktif dengan menanyakan pada diri sendiri “Apa yang sudah aku lakukan dengan nikmat yang Allah berikan kepadaku?”. 

 

Syukur batin mengatakan "Alhamdulillah, saya mendapat nikmat." Namun syukur lahir akan mengatakan "Alhamdulillah, Allah memberi saya nikmat. Lalu apa yang bisa saya lakukan dengan nikmat ini untuk mendekat kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesama?"

 

Ma’asyiral muslimin hafizakumullah,

 

Imam Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin Juz 4, halaman 81, mengatakan syukur tidak berhenti pada ucapan saja. Ada tiga unsur penting yang perlu kita ketahui agar kita bisa bersyukur dengan maksimal yaitu ilmu, hal, dan amal.

 

Pertama adalah ilmu. Kita harus menyadari bahwa semua nikmat pada hakikatnya berasal dari Allah.

 

وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ ۝٥٣

 

Artinya: "Segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. Kemudian, apabila kamu ditimpa kemudaratan, kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan." (QS. An-Nahl: 53)

 

Kedua adalah hal atau keadaan hati. Kita harus menghadirkan kesadaran bahwa kita sedang menerima nikmat Allah. Dari kesadaran itu lahir rasa bahagia, cinta kepada Allah, rendah hati, dan tidak sombong. Sikap ini akan membuat kita tetap rendah hati ketika mendapatkan nikmat.

 

Ketiga adalah amal yang merupakan puncak syukur. Nikmat yang disadari oleh akal dan dirasakan oleh hati  kemudian bisa diwujudkan melalui perbuatan. Pemahaman syukur sebagai tindakan aktif membuat kita menemukan satu pelajaran penting yakni syukur tidak hanya bisa dilakukan ketika bahagia. Dalam kesulitan pun kita masih bisa bersyukur.

 

Ma’asyiral muslimin hafizakumullah,

 

Dari pemaparan ini, mari kita kuatkan lagi cara bersyukur kita kepada Allah. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, bukan hanya ketika mendapatkan nikmat, tetapi juga mampu mendayagunakan setiap nikmat untuk beribadah, berkarya, dan memberi manfaat.

 

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ، وَاجْعَلْ نِعَمَكَ عَلَيْنَا عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.

 

Artinya; "Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bersyukur, dan jadikanlah seluruh nikmat-Mu sebagai pertolongan bagi kami untuk taat kepada-Mu."

 

رَبَّنَا أَوْزِعْنَا أَنْ نَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ وَالِدَيْنَا وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ.

 

Artinya; "Ya Tuhan kami, ilhamkanlah kepada kami untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepada kami dan kepada kedua orang tua kami, serta agar kami mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai."

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

 

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

 

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

--------
H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Pringsewu, Lampung