Khutbah Jumat: Tetap Membaca Al-Qur’an di Tengah Kesibukan Hidup
Kamis, 18 Juni 2026 | 15:55 WIB
Kesibukan bukanlah alasan untuk menjauh dari Al-Qur’an. Justru ketika hidup penuh dengan tantangan dan tekanan, saat itulah kita semakin membutuhkan kedekatan dengan firman Allah Swt. Sebab hati yang dekat dengan Al-Qur’an akan lebih tenang, lebih kuat, dan lebih mudah menemukan arah dalam kehidupan.
Teks khutbah Jumat berikut berjudul “Khutbah Jumat: Tetap Membaca Al-Qur’an di Tengah Kesibukan Hidup”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلهِ. الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ الْقُرْأَنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، وَجَعَلَهُ نُوْرًا لِلْقُلُوْبِ، وَشِفَاءً لِلصُّدُوْرِ، وَرَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ الدِّيْنِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، خَيْرُ مَنْ تَلَا الْقُرْأَنَ وَعَمِلَ بِهِ وَعَلَّمَهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: kapan terakhir kali kita benar-benar duduk bersama Al-Qur’an? Kapan terakhir kali kita membaca firman Allah dengan khusyu’? Dan kapan terakhir kali kita mengkhatamkan Al-Qur’an?
Pertanyaan ini penting kita renungkan. Sebab hari ini kita hidup di zaman yang bergerak sangat cepat. Hari-hari terasa berlalu begitu singkat. Pagi datang, kita sudah sibuk dengan pekerjaan.
Ada yang berangkat ke kantor, ada yang membuka toko, ada yang pergi ke pasar, ada yang mencari nafkah di jalanan. Sejak matahari terbit hingga sore bahkan malam hari, tenaga dan pikiran kita habiskan untuk memenuhi tanggung jawab kehidupan.
Tanpa terasa, hari berganti hari. Pekan berganti pekan. Kita sibuk mengejar kebutuhan dunia, sampai terkadang lupa memberi waktu kepada hati kita untuk mendapatkan makanan.
Baca Juga
Khutbah Jumat: 4 Resep Hidup Bahagia
Padahal, sebagaimana tubuh membutuhkan makanan, hati juga membutuhkan asupan. Dan makanan terbaik bagi hati orang beriman adalah Al-Qur’an. Tidak harus selalu dalam jumlah yang banyak. Tidak harus menunggu waktu luang yang sempurna. Karena sering kali waktu luang itu tidak pernah benar-benar datang. Cukuplah satu lembar setiap hari, beberapa ayat setiap pagi, atau beberapa menit sebelum tidur.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Di tengah kesibukan yang begitu padat, Islam tidak meminta kita meninggalkan dunia. Kita tetap bekerja, berusaha, dan menjalankan amanah kehidupan. Namun Islam mengajarkan agar kesibukan dunia tidak membuat hubungan kita dengan Allah menjadi renggang.
Karena itu, mari kita menjaga satu amalan sederhana tetapi besar nilainya: membaca Al-Qur’an setiap hari, walaupun hanya beberapa ayat, bahkan satu lembar.
Jangan pernah meremehkan satu lembar Al-Qur’an yang kita baca. Bisa jadi satu lembar itulah yang menjadi cahaya dalam hidup kita. Bisa jadi satu ayat itulah yang menenangkan hati ketika menghadapi persoalan. Bisa jadi beberapa menit bersama Al-Qur’an itulah yang menjadi sebab Allah memberikan keberkahan dalam pekerjaan dan keluarga kita.
Rasulullah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
Artinya: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf,” (HR. At-Tirmidzi).
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Perhatikan betapa besar janji Allah dalam hadits tersebut. Bahkan hanya satu huruf pun tidak luput dari pahala. Ini menjadi pengingat bagi kita bahwa kedekatan seorang hamba kepada Allah tidak selalu ditentukan oleh banyaknya waktu luang, tetapi oleh kuatnya kemauan untuk tetap terhubung dengan Al-Qur’an.
Bahkan, meskipun seseorang belum memahami seluruh makna ayat yang dibaca, bacaan Al-Qur’an tetap bernilai ibadah. Di sinilah letak keagungan Al-Qur’an. Membacanya adalah kebaikan, merenungkannya adalah cahaya, dan mengamalkannya adalah keselamatan.
Dalam salah satu kisah yang dinukil oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, disebutkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah diperlihatkan dalam mimpi tentang cara mendekatkan diri kepada Allah. Jawabannya adalah membaca Al-Qur’an, baik dipahami maknanya maupun belum dipahami sepenuhnya.
يَا رَبِّ مَا أَفْضَلُ مَا تَقَرَّبَ بِهِ الْمُتَقَرِّبُوْنَ إِلَيْكَ قَالَ بِكَلَامِيْ يَا أَحْمَدُ قَالَ قُلْتُ يَا رَبِّ بِفَهْمٍ أَوْ بِغَيْرِ فَهْمٍ قَالَ بِفَهْمٍ وَبِغَيْرِ فَهْمٍ
Artinya: “Wahai Tuhanku, apa cara yang paling utama yang digunakan oleh orang-orang yang dekat dengan-Mu untuk mendekatkan diri kepada-Mu?” Allah berfirman, “Dengan kalam-Ku, wahai Ahmad.” Aku bertanya, “Dengan memahami maknanya atau tidak, wahai Tuhanku?” Allah berfirman, “Baik dengan memahami maknanya maupun tidak.”
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pesan ini bukan berarti kita berhenti berusaha memahami Al-Qur’an. Justru sebaliknya, kita diperintahkan untuk terus belajar dan menggali kandungannya. Namun, hadis dan kisah tersebut mengingatkan bahwa setiap langkah menuju Al-Qur’an adalah langkah menuju rahmat Allah.
Membaca Al-Qur’an adalah ibadah. Memahami Al-Qur’an adalah cahaya. Mengamalkan Al-Qur’an adalah jalan keselamatan. Pasalnya, Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan. Di dalam Al-Qur’an terdapat jawaban atas kegelisahan hati manusia.
Untuk itu, di tengah kehidupan yang penuh tekanan, persaingan, dan berbagai persoalan, Allah menghadirkan Al-Qur’an sebagai sumber ketenangan dan arah kehidupan.
Allah Swt berfirman dalam surat Yunus ayat 57;
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
Artinya: “Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang terdapat dalam dada, petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Tafsir Marah Labid, juz I hal 489 menjelaskan bahwa ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki empat fungsi besar bagi kehidupan manusia.
Pertama, Al-Qur’an sebagai mau’izhah, yaitu nasihat dan pelajaran. Al-Qur’an mengingatkan kita tentang mana yang benar dan mana yang salah, mana jalan yang membawa kebaikan dan mana jalan yang membawa kerusakan.
Kedua, Al-Qur’an sebagai syifa’, yaitu obat bagi hati. Sebab tidak sedikit manusia hari ini yang sehat jasmaninya, tetapi hatinya gelisah. Banyak yang memiliki harta, tetapi kehilangan ketenangan. Banyak yang memiliki kedudukan, tetapi kehilangan kebahagiaan.
Ketiga, Al-Qur’an sebagai hudan, yaitu petunjuk. Al-Qur’an menjadi kompas agar manusia tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.
Keempat, Al-Qur’an sebagai rahmat, yaitu kasih sayang Allah bagi orang-orang beriman yang berpegang teguh kepadanya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita bawa satu pesan pulang dari khutbah hari ini: Jangan biarkan rumah kita ramai oleh suara televisi, telepon genggam, dan berbagai kesibukan dunia, tetapi sepi dari lantunan ayat-ayat Allah.
Jangan biarkan hari-hari kita penuh dengan mengejar dunia, tetapi hati kita kosong dari mengingat Allah. Mulailah dari yang kecil. Satu halaman setiap hari. Beberapa ayat setiap pagi. Beberapa menit sebelum tidur.
Semoga Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam kehidupan kita, penenang hati kita, petunjuk keluarga kita, dan syafaat bagi kita di akhirat kelak.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَ عِبَادَهُ بِالْخَيْرِ وَحَذَّرَهُمْ مِنَ الشَّرِّ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ مِنَ الذُّنُوْبِ وَالزَّلَّاتِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَمَلٍ لَا يُرْضِيْهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ خِرَةِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
--------
Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu