68.919 Kasus ISPA dan 23 Daerah Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau
Jumat, 11 September 2026 | 12:00 WIB
Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau memicu masalah kesehatan salah satunya ISPA (merahputih.com)
Jakarta, NU Online
Erupsi Gunung Anak Krakatau juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 68.919 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) kumulatif di wilayah terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.
Juru Bicara Kemenkes Widyawati mengatakan, kasus tersebut tersebar di empat provinsi dan 23 kabupaten/kota terdampak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 17.780 kasus ISPA tercatat pada 8 September 2026.
“Situasi ispa pada wilayah terdampak abu vulkanik erosi Gunung anak Krakatau laporan kasusnya terkini adalah ada 68.919 kumulatif kasus ISPAnya. Ada ISPA tertanggal 8 September 17.780,” ujar Widyawati dalam konferensi pers yang digelar secara daring pada Kamis (10/9/2026).
Ia menjabarkan bahwa kasus ISPA tersebut mencakup kelompok usia rentan. Sebanyak 14.439 kasus. “Kasus ISPA dibagi dalam usia nol hingga lima tahun 14.439 kasus, dan lebih dari lima tahun 54.480,” ucapnya.
Selain kasus kesehatan, Widyawati menjelaskan Data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) pada Rabu (9/9/2026) menunjukkan wilayah terdampak meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung.
“Kota Jakarta Pusat berada kategori tidak sehat karena nilai ISPU berada di 104, sedangkan 17 kota lainnya masuk kategori sedang dengan nilai ISPU berada di 51 hingga 100,” katanya.
Menghadapi dampak kesehatan tersebut, Kemenkes menyiapkan edukasi dan promosi kesehatan serta pemantauan penyakit terkait abu vulkanik. “Kita akan lakukan edukasi untuk pengurangan risiko krisis kesehatan akibat abu vulkanik kepada masyarakat,” ujar Widyawati.
Ia menambahkan bahwa pemantauan penyakit krisis seperti ISPA, bronkitis, asma, iritasi mata, dan iritasi kulit terus dilakukan. “Melaksanakan surveillance kualitas udara dan dampak kesehatan di wilayah terdampak erupsi, serta tetapkan surat edaran kesiap-siagaan dampak kesehatan,” katanya.
Widyawati mengimbau masyarakat untuk berperan dalam mengurangi paparan abu vulkanik dengan menggunakan masker. “Kalau tidak perlu sekali, jangan keluar rumah,” pungkasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton SP Panjaitan mengatakan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada level III atau siaga.
“Pada status level ini, otoritas ke Gunung Api tetap merekomendasikan masyarakat, wisatawan, ataupun pendaki untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif,” ujarnya.
“Berdasarkan analisis citra satelit bahwa pertanggal 10 September 2026 pukul 13.00 WIB sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau ini tidak terdeteksi,” sambung Berton.