Ahli Geografi UGM Ungkap Indonesia Resmi Masuki Fase Krisis Iklim, Berdampak ke Pangan dan Kesehatan
Jumat, 10 Juli 2026 | 06:00 WIB
Jakarta, NU Online
Ancaman perubahan iklim di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat periode 2023-2025 sebagai tiga tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern, Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) kembali memperingatkan bahwa suhu rata-rata global pada periode 2026-2030 diperkirakan berada pada kisaran 1,3-1,9 derajat Celsius di atas tingkat praindustri.
Kondisi tersebut diproyeksikan meningkatkan risiko cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, serta mengancam ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.
Ahli Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Emilya Nurjani, menilai bahwa Indonesia telah memasuki fase krisis iklim yang memerlukan penanganan cepat dan terintegrasi.
“Fenomena perubahan iklim yang terjadi di Indonesia telah menimbulkan dampak yang lebih besar dan mengakibatkan gangguan terhadap kehidupan manusia sehingga dapat disebut sebagai krisis iklim karena memerlukan tindakan segera,” ujarnya kepada NU Online, Kamis (9/7/2026).
Menurutnya, komunitas internasional sebenarnya telah bersepakat melalui Paris Agreement pada 2015 untuk menahan kenaikan suhu global agar tidak melampaui 1,5 derajat Celsius. Namun, setelah satu dekade berlalu, target tersebut belum berhasil diwujudkan.
“Kenaikan suhu bumi yang terus berlangsung menjadi bukti bahwa berbagai upaya pengurangan emisi karbon yang dilakukan negara-negara di dunia belum mampu menekan laju pemanasan global secara signifikan,” katanya.
Emilya mengungkapkan bahwa peningkatan suhu udara berdampak langsung terhadap berbagai aspek kehidupan. Kebutuhan air menjadi semakin tinggi, laju penguapan meningkat, dan risiko kekeringan semakin besar. Pada saat yang sama, pola hujan menjadi semakin sulit diprediksi sehingga awal musim hujan maupun musim kemarau mengalami pergeseran.
Selain itu, lanjut Emilya, intensitas hujan ekstrem terus meningkat sehingga memperbesar potensi terjadinya banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga gelombang tinggi di berbagai wilayah.
“Hal tersebut secara langsung mempengaruhi berbagai sektor kehidupan, terutama pertanian yang menghadapi perubahan pola tanam, meningkatnya risiko gagal panen, munculnya kembali serangan hama, hingga penurunan produktivitas,” ujar Dosen Geografi Lingkungan UGM itu.
Ia menyampaikan dalam jangka pendek perubahan iklim ekstrem akan meningkatkan gangguan kesehatan masyarakat, kebutuhan air dan energi, serta menurunkan produktivitas sektor pertanian.
“Sementara dalam jangka panjang, ancaman yang muncul jauh lebih kompleks, mulai dari melemahnya ketahanan pangan dan sumber daya air, kerusakan ekosistem, kenaikan muka air laut, hingga kerugian sosial dan ekonomi yang semakin besar,” katanya.