Nasional

Akademisi UIII: Sebutan ‘Raja Banten’ Pernah Berarti Orang Kaya Raya di Inggris

Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:00 WIB

Akademisi UIII: Sebutan ‘Raja Banten’ Pernah Berarti Orang Kaya Raya di Inggris

Guru besar di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Farish A Noor saat presentasi dalam Plenary Session 2 International Conference on Manuscripts and the Diversity of Islam(s) in Southeast Asia di UIII, Depok, Kamis (20/8/2026). (Foto: UIII)

Depok, NU Online

 

Guru besar di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Farish A Noor mengungkapkan bahwa kebesaran dan kekayaan Kesultanan Banten pernah begitu dikenal di Eropa. Bahkan, pada abad ke-18, sebutan “Raja Banten” digunakan di Inggris untuk menggambarkan seseorang yang memiliki kekayaan luar biasa.

 

“Jika seseorang disebut sebagai Raja Banten pada abad ke-18, itu berarti ia sangat kaya. Pada dasarnya, seperti Jeff Bezos pada zamannya,” kata Farish dalam Plenary Session 2 International Conference on Manuscripts and the Diversity of Islam(s) in Southeast Asia di UIII, Depok, Kamis (20/8/2026).

 

Farish menjelaskan, citra tersebut tidak terlepas dari kedudukan Banten sebagai Kerajaan Islam dan pusat perdagangan internasional. Sejak awal abad ke-17, catatan perjalanan Eropa telah menggambarkan Banten sebagai kota pelabuhan yang ramai dengan kegiatan perdagangan dan didatangi pedagang dari berbagai kawasan di Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.

 

Popularitas Banten kemudian memasuki khazanah sastra Inggris. Farish menyinggung karya satir Henry Fielding, The Author’s Farce, yang menampilkan tokoh utama sebagai pewaris takhta Raja Banten. Karya tersebut ikut memperkuat gambaran Banten sebagai kerajaan yang jauh sekaligus kaya raya dalam imajinasi masyarakat Inggris.

 

“Banten menempati posisi yang sangat besar dalam imajinasi Eropa selama sekitar 200 tahun, sejak 1601, sepanjang abad ke-17 dan ke-18, hingga memasuki abad ke-19,” ujarnya.

 

Menurut Farish, jejak tersebut menunjukkan bahwa Banten tidak hanya penting dalam sejarah Indonesia. Pengaruhnya juga sampai ke kebudayaan populer Eropa, jauh sebelum Belanda menguasai sebagian besar wilayah Nusantara.

 

Penggunaan istilah “Raja Banten” sebagai gambaran orang superkaya memperlihatkan besarnya reputasi ekonomi kesultanan tersebut. Pada masanya, Banten dipandang sebagai salah satu pusat perdagangan terkemuka yang kekayaan dan kemajuannya dikenal hingga Inggris.

 

Farish menilai catatan dan karya sastra Eropa semacam ini perlu dikaji kembali karena dapat membuka cara pandang baru terhadap posisi kerajaan-kerajaan Islam Nusantara dalam sejarah dunia. Banten pada masa itu bukan wilayah terpencil, melainkan pusat kekuasaan dan perdagangan yang namanya telah hidup dalam imajinasi masyarakat Eropa.

 

Sebelumnya, Ervan Nurtawab, Pakar manuskrip Islam dari UIN Jurai Siwo Lampung, menyampaikan bahwa keberadaan pelajar dan ulama dari berbagai wilayah menunjukkan bahwa Banten pernah menjadi salah satu simpul penting jaringan keilmuan Islam Asia Tenggara. Tingginya tingkat kajian Islam di wilayah tersebut juga tecermin dalam manuskrip-manuskrip yang memperlihatkan pengetahuan tentang qiraat, tafsir, penomoran ayat, dan berbagai cabang ilmu lainnya.

 

Kesultanan Banten pada masa lalu memiliki ekosistem keilmuan Islam yang maju. Para penguasanya mendatangkan ulama dan cendekiawan dari berbagai kawasan, seperti Gujarat dan Arab. Mereka juga memberikan dukungan agar mereka dapat tinggal dan mengembangkan kegiatan keilmuan di Banten