BMKG: Gempa M7,7 di NTT Mengulang Sejarah Kelam Gempa 1992
Ahad, 16 Agustus 2026 | 17:00 WIB
Jakarta, NU Online
Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) terjadi pukul 04.58.24 WIB dan berpusat di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah di NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Dalam pemodelan awal, sejumlah wilayah NTT masuk status Siaga dengan potensi ketinggian tsunami 0,5 hingga tiga meter.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto menyampaikan bahwa gempa tersebut mengingatkan kembali pada bencana dahsyat yang terjadi lebih dari tiga dekade lalu.
Ia mengatakan bahwa gempa M7,7 kali ini memiliki kemiripan dengan gempa Flores pada 1992 yang berkekuatan M7,5 dan menimbulkan kerusakan serta tsunami. Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di wilayah tersebut.
“Dari sejarah yang ada, di tahun 1992 dengan magnitudo 7,5. Ini juga luar biasa kerusakannya waktu itu. Jadi, ini sudah lebih dari 30 tahun, terjadi lagi,” ujar Wijayanto dalam konferensi pers di Jakarta pada Sabtu (15/8/2026).
Baca Juga
Doa ketika Terjadi Gempa Bumi
Menurut Wijayanto, gempa kali ini murni dipicu aktivitas sesar naik busur belakang Flores. Patahan aktif tersebut memiliki potensi kekuatan maksimum yang dapat memicu gempa hingga M7,9.
“Gempa magnitudo 7,7 di belakang busur Flores ini ada potensi gempa dengan maksimum 7,8 hingga7,9,” katanya.
Ia mengatakan bahwa BMKG hingga kini terus memantau aktivitas gempa susulan dan dinamika tinggi muka laut secara real-time.
"Jadi, nanti kita akan terus monitor aktivitas gempa susulan dan tinggi muka air laut yang akan tercatat di stasiun-stasiun di setiap daerah,” ujar Wijayanto.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami menghimbau kepada masyarakat untuk menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi dan mewaspadai gempa bumi susulan yang masih terjadi,” ucap Wijayanto.
BMKG menegaskan informasi resmi hanya bersumber dari kanal komunikasi terverifikasi BMKG. Masyarakat juga diminta memeriksa setiap informasi untuk menghindari hoaks dan memastikan keselamatan di tengah potensi gempa susulan.
“Mohon dipastikan bahwa informasi resmi hanya bersumber dari BMKG,” pungkasnya. (edited)