Nasional

BMKG Peringatkan Ancaman Banjir Rob di Sejumlah Wilayah Pesisir, Puncak Pasang Laut Diprediksi 14 Juli 2026

Kamis, 9 Juli 2026 | 09:01 WIB

BMKG Peringatkan Ancaman Banjir Rob di Sejumlah Wilayah Pesisir, Puncak Pasang Laut Diprediksi 14 Juli 2026

Ilustrasi: Super new moon diprediksi memicu banjir rob (NU Online/AI Generated)

Jakarta, NU Online

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi banjir pesisir atau banjir rob yang diperkirakan melanda sejumlah wilayah pesisir Indonesia pada 8-22 Juli 2026. Fenomena ini dipicu oleh Super New Moon yang diprediksi mencapai puncaknya pada 14 Juli 2026, sehingga berpotensi meningkatkan tinggi muka air laut dan memicu genangan di kawasan pesisir.


Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Meteorologi Maritim BMKG Agie Wandala Putra menjelaskan, Super New Moon merupakan kondisi ketika fase bulan baru bertepatan dengan posisi Bulan berada di titik terdekat dengan Bumi (perigee). Fenomena astronomi tersebut berpotensi meningkatkan ketinggian pasang maksimum air laut sehingga memperbesar risiko banjir rob di berbagai daerah pesisir.

 

Potensi banjir pesisir diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah, meliputi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jambi, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, dan Maluku.

 

Agie menegaskan bahwa peringatan ini penting karena banjir rob tidak hanya menggenangi permukiman warga, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

 

Dampaknya, kata dia, dapat dirasakan pada kegiatan bongkar muat di pelabuhan, kawasan permukiman, tambak garam, hingga sektor perikanan darat yang bergantung pada kondisi pasang surut air laut.

 

“Berdasarkan pantauan data water level dan prediksi pasang surut. Banjir pesisir berpotensi terjadi di beberapa wilayah pesisir Indonesia,” katanya dalam keterangan resminya, dikutip NU Online, Kamis (9/7/2026).

 

BMKG mengimbau masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di wilayah pesisir agar meningkatkan kewaspadaan selama periode tersebut. Warga juga diminta terus memantau perkembangan informasi cuaca dan kondisi maritim untuk mengantisipasi dampak pasang maksimum air laut.

 

Berdasarkan prakiraan BMKG, potensi banjir rob memiliki waktu yang berbeda-beda di setiap daerah. Di Aceh, pesisir Lhokseumawe diperkirakan terdampak pada 9-17 Juli. Di Sumatra Utara, wilayah Medan Belawan, Medan Labuhan, dan Medan Marelan berpotensi mengalami banjir rob pada 12-18 Juli.

 

Di Banten, potensi banjir rob diperkirakan terjadi di perairan utara Serang pada 11-15 Juli, Selat Sunda Barat Pandeglang pada 16 Juli, pesisir selatan Pandeglang pada 12-17 Juli, serta perairan selatan Lebak pada 12-17 Juli. Sementara itu, kawasan pesisir Jakarta Utara diperkirakan terdampak pada 9-16 Juli.

 

Untuk wilayah Jawa Barat, pesisir Kabupaten Bekasi dan Karawang berpotensi mengalami banjir rob pada 9-16 Juli, sedangkan pesisir Sukabumi, Garut, Cianjur, Tasikmalaya, dan Pangandaran diperkirakan terdampak pada 14-18 Juli.


Di Jawa Tengah, potensi banjir rob diperkirakan terjadi pada 11-21 Juli di pesisir Semarang, Demak, Pekalongan, Batang, Kendal, dan Jepara. Adapun wilayah Brebes, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan Pemalang diprediksi mengalami kondisi serupa pada 13-18 Juli.


BMKG juga memprakirakan banjir rob berpotensi melanda pesisir Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, hingga Maluku dengan rentang waktu yang berbeda-beda. Wilayah Maluku menjadi salah satu daerah dengan durasi potensi terpanjang, yakni berlangsung hingga 22 Juli 2026, terutama di pesisir Seram Bagian Timur.


BMKG menghimbau pemerintah daerah, pengelola pelabuhan, pelaku usaha perikanan, serta masyarakat pesisir untuk meningkatkan kesiapsiagaan guna meminimalkan risiko kerugian akibat pasang maksimum air laut selama periode 8-22 Juli 2026.