Kisah Ketegasan Sahabat Nabi Menyuarakan Kebenaran di Hadapan Penguasa
NU Online · Kamis, 9 Juli 2026 | 04:30 WIB
Amien Nurhakim
Penulis
Kekuasaan sering kali menghadirkan ujian yang tidak ringan. Bagi seorang penguasa, ujian itu bukan hanya bagaimana mempertahankan kedudukan, tetapi bagaimana menjaga hati agar tidak berubah menjadi keras ketika memiliki wewenang.
Sebab, sejarah berkali-kali menunjukkan: kekuasaan yang tidak dikawal oleh nurani dapat berubah dari amanah menjadi ancaman.
Di hadapan penguasa, keberanian menyampaikan kebenaran bukan perkara mudah. Banyak orang memilih diam karena takut kehilangan kedudukan, keamanan, atau keuntungan. Namun dalam sejarah Islam, terdapat generasi yang menunjukkan bahwa kedekatan dengan Rasulullah SAW bukan hanya melahirkan kecintaan kepada agama, tetapi juga keberanian menjaga prinsip.
Salah satu kisah yang menggambarkan hal itu adalah keberanian seorang sahabat Nabi SAW bernama 'Aidz bin 'Amr ketika berhadapan dengan 'Ubaidullah bin Ziyad, seorang gubernur pada masa Dinasti Umayyah yang memiliki kekuasaan besar di wilayah Irak.
Nama 'Ubaidullah bin Ziyad bukanlah nama kecil dalam sejarah politik Islam. Ia dikenal sebagai salah satu pejabat penting pada masa pemerintahan Mu'awiyah dan Yazid bin Mu'awiyah. Adz-Dzahabi menuturkan bahwa Mu'awiyah mengangkatnya sebagai gubernur Basrah pada tahun 55 H.
Ketika Yazid menjadi khalifah, wilayah Kufah kemudian juga berada di bawah kekuasaannya. Sebelumnya, ia pernah dipercaya memimpin wilayah Khurasan dan melakukan ekspedisi hingga menyeberangi sungai menuju Bukhara.
Ia digambarkan sebagai sosok yang rupawan, memiliki kedudukan politik yang kuat, dan menguasai harta yang sangat besar. Abu Wa’il pernah menemui dan mengunjunginya di Basrah, kemudian ia melihat di hadapannya tumpukan uang perak sebanyak tiga juta dari hasil pajak Isfahan.
Ketika Ibnu Ziyad bertanya tentang orang yang meninggal dan meninggalkan harta sebanyak itu, Abu Wa’il menjawab,
“Bagaimana jika harta itu termasuk ghulul?” Ibnu Ziyad pun berkata, “Itu kejahatan di atas kejahatan.” (Syamsuddin adz-Dzahabi, Tarikhul Islam wa Wafayatul Masyahir wal A'lam, [t.t.: al-Maktabah al-Tawfiqiyyah, t.th.], jilid V, h. 108).
Namun kemegahan lahiriah itu tidak menutup kritik para ulama dan orang-orang saleh terhadap watak kekuasaannya. Dalam riwayat yang dikutip adz-Dzahabi, Hasan al-Bashri menggambarkan kedatangan 'Ubaidullah sebagai seorang pemimpin muda yang bodoh dan hobi menumpahkan darah.
Di tengah situasi itulah seorang sahabat Nabi datang menemuinya dan menyampaikan nasihat yang keras. Dalam sumber hadits shahih riwayat Imam Muslim, tokoh yang menegur itu disebut 'Aidz bin 'Amr, salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Ia masuk menemui 'Ubaidullah bin Ziyad dan berkata:
أَيْ بُنَيَّ، إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ شَرَّ الرِّعَاءِ الْحُطَمَةُ، فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ
Artinya, “Wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya seburuk-buruk penggembala/pemimpin adalah al-huthamah (pemimpin yang keras, kasar, dan merusak rakyatnya). Maka berhati-hatilah, jangan sampai engkau termasuk golongan mereka.’” (Imam Muslim, Shahih Muslim, [Beirut: Darul Jil dan Darul Afaq al-Jadidah, t.th.], jilid VI, hlm. 9).
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dengan redaksi yang hampir serupa. Setelah 'Aidz bin 'Amr menyampaikan nasihat tersebut, 'Ubaidullah bin Ziyad menjawab dengan nada merendahkan;
“Duduklah, engkau hanyalah bagian dari nukhalah (orang-orang rendahan atau pinggiran dari kalangan) sahabat Muhammad SAW.”
Maksudnya, ia menuduh 'Aidz sebagai orang biasa saja, alias bukan pentolan atau tokoh dari kalangan sahabat. Mendengar itu, 'Aidz menjawab dengan kalimat yang sangat tegas:
“Apakah pada diri mereka ada nukhalah? Sesungguhnya 'orang-orang rendahan' itu baru ada setelah era sahabat Nabi.” (Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban bi Tartib Ibni Balban, tahqiq Syu'aib al-Arna'uth, [Beirut: Muassasat al-Risalah, 1993], jilid X, hlm. 368).
Jawaban ini sangat penting. 'Aidz sebagai sahabat Nabi bukan sedang melakukan pembelaan pribadi. Lebih dari itu, ia melakukan pembelaan terhadap martabat generasi sahabat Nabi. Dalam pandangan Ahlussunnah, para sahabat adalah generasi pilihan yang menerima langsung didikan Rasulullah SAW.
Karena itu, ketika Ibnu Ziyad merendahkan salah seorang sahabat, 'Aidz menegaskan bahwa yang pantas disebut ampas bukanlah generasi sahabat, melainkan orang-orang setelah mereka yang menyimpang dari akhlak dan petunjuk kenabian.
Imam an-Nawawi menjelaskan makna ucapan Ibnu Ziyad tersebut. Menurutnya, kata an-Nukhalah berasal dari gambaran dedak atau sisa kulit tepung. Maksud ucapan Ibnu Ziyad adalah merendahkan 'Aidz, seolah-olah ia bukan termasuk sahabat yang utama, bukan ulama mereka, dan bukan orang yang memiliki kedudukan.
Imam an-Nawawi menegaskan bahwa para sahabat seluruhnya adalah manusia-manusia pilihan, pemuka umat, lebih utama daripada generasi setelah mereka, adil, dan layak dijadikan teladan. Beliau menulis:
قوله: إِنَّمَا أَنْتَ مِنْ نُخَالَتِهِمْ، يَعْنِي لَسْتَ مِنْ فُضَلَائِهِمْ وَعُلَمَائِهِمْ وَأَهْلِ الْمَرَاتِبِ مِنْهُمْ، بَلْ مِنْ سَقَطِهِمْ... وَهَلْ كَانَتْ لَهُمْ نُخَالَةٌ؟ إِنَّمَا كَانَتِ النُّخَالَةُ بَعْدَهُمْ وَفِي غَيْرِهِمْ، هَذَا مِنْ جَزْلِ الْكَلَامِ وَفَصِيحِهِ وَصِدْقِهِ الَّذِي يَنْقَادُ لَهُ كُلُّ مُسْلِمٍ، فَإِنَّ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ كُلَّهُمْ هُمْ صَفْوَةُ النَّاسِ وَسَادَاتُ الْأُمَّةِ
Artinya, “Maksud ucapan Ibnu Ziyad, ‘Engkau hanyalah ampasnya generasi sahabat,’ adalah: engkau bukan termasuk orang-orang utama, ulama, dan orang-orang berkedudukan di generasi sahabat, tetapi termasuk orang dengan golongan rendah dari mereka. Kemudian, jawaban 'Aidz, ‘Apakah generasi sahabat memiliki orang-orang yang dianggap ampas?
Sesungguhnya orang-orang ampas dan rendahan justru muncul setelah generasi sahabat,’ adalah ucapan yang kuat, fasih, dan benar, yang diterima oleh setiap Muslim. Sebab para sahabat seluruhnya adalah manusia pilihan dan pemuka umat.” (Imam an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Sahih Muslim bin al-Hajjaj, [Beirut: Dar Ihya al-Turath al-‘Arabi, 1392 H], jilid XXI, hlm. 26).
Imam an-Nawawi lanjut menjelaskan hadits di atas:
قوله صلى الله عليه وسلم: إِنَّ شَرَّ الرِّعَاءِ الْحُطَمَةُ، قَالُوا: هُوَ الْعَنِيفُ فِي رَعِيَّتِهِ، لَا يَرْفُقُ بِهَا فِي سَوْقِهَا وَمَرْعَاهَا، بَلْ يَحْطِمُهَا فِي ذَلِكَ وَفِي سَقْيِهَا وَغَيْرِهِ، وَيَزْحَمُ بَعْضَهَا بِبَعْضٍ بِحَيْثُ يُؤْذِيهَا وَيَحْطِمُهَا
Artinya, “Maksud sabda Nabi SAW adalah peringatan terhadap pemimpin yang kasar dan tidak memiliki kasih sayang kepada rakyatnya. Para ulama menjelaskan bahwa al-huthamah adalah sosok yang memperlakukan orang-orang di bawah tanggung jawabnya dengan keras, tidak lembut, dan tidak peduli apakah tindakannya menyakiti mereka atau tidak.
Perumpamaan ini diambil dari seorang penggembala yang buruk. Ia tidak menggiring hewan gembalaannya dengan hati-hati, tidak memperhatikan yang lemah, dan tidak menjaga mereka saat berjalan, makan, atau minum.
Akibatnya, sebagian hewan saling berdesakan, terinjak, terluka, bahkan rusak. Begitulah pemimpin yang buruk: bukan menjaga rakyatnya, tetapi justru menekan, menyakiti, dan merusak kehidupan mereka,” (Imam an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Sahih Muslim bin al-Hajjaj, jilid XII, hlm. 26).
Dari sini jelas bahwa Rasulullah SAW tidak hanya berbicara tentang kekuasaan secara administratif, tetapi juga tentang akhlak kekuasaan. Pemimpin tidak cukup hanya kuat, cepat mengambil keputusan, dan disegani.
Bila kekuatan itu berubah menjadi kekasaran, bila ketegasan berubah menjadi kesewenang-wenangan, dan bila kewibawaan berubah menjadi ketakutan rakyat, maka pemimpin seperti itu masuk dalam ancaman hadits ini.
Kisah 'Aidz bin 'Amr dan 'Ubaidullah bin Ziyad mengajarkan bahwa kritik kepada penguasa bukanlah tradisi baru dalam Islam. Sejak generasi sahabat, nasihat kepada pemimpin telah menjadi bagian dari amanah agama. Di sisi lain, kritik lahir bukan dari kebencian pribadi, melainkan dari tanggung jawab moral.
Hadits di atas juga mengingatkan bahwa rakyat bukan benda mati yang boleh diperlakukan sesuka hati. Mereka adalah amanah Allah. Pemimpin yang menekan rakyatnya, menutup pintu nasihat, merendahkan orang saleh, dan memperlakukan manusia dengan kekerasan, pada hakikatnya sedang merusak amanah yang diberikan kepadanya.
Pada akhirnya, sabda Nabi saw. ini menjadi cermin bagi setiap bentuk kepemimpinan seperti pemimpin negara, pejabat, hakim, guru, orang tua, pengelola lembaga, bahkan siapa pun yang diberi tanggung jawab atas orang lain.
Setiap pemimpin sedang menggembala amanah. Pertanyaannya, apakah ia mengurus dan memimpin dengan kasih sayang, atau justru menunjukkan watak keras, merusak, dan menyakiti mereka yang seharusnya dilindungi?
-----
Amien Nurhakim, Redaktur Keislaman NU Online dan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta.
Terpopuler
1
PBNU Putuskan Muktamar Ke-35 NU Digelar di Pesantren Tambakberas Jombang, 27-31 Agustus 2026
2
PBNU Putuskan Lokasi Muktamar Ke-35 NU Esok
3
PBNU Rampungkan Survei Lokasi Muktamar Ke-35 NU, Lirboyo dan Jakarta Jadi Opsi Terkuat
4
Penentuan Lokasi Muktamar Ke-35 NU Ditunda, Paling Lambat Besok Pagi
5
PBNU Sebut Pengalaman Tambakberas Jombang Jadi Modal Utama Selenggarakan Muktamar Ke-35 NU
6
Pesan Rais Aam PBNU kepada Pengurus 25 Hari Jelang Muktamar Ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua