Nasional

Festival JAGAT di Jombang Ajak Santri Belajar Ekologi Lewat Permainan 

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:49 WIB

Festival JAGAT di Jombang Ajak Santri Belajar Ekologi Lewat Permainan 

Di Pesantren di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Jawa Timur ajarkan lingkungan dikemas dengan cara yang seru dan aplikatif (Foto: Istimewa)

Jombang, NU Online 
Pendidikan lingkungan di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Jawa Timur, tidak lagi terkurung di balik dinding kelas. Lewat pendekatan aplikatif, isu ekologi dikenalkan kepada para santri melalui rangkaian permainan interaktif, praktik pengolahan sampah, hingga eksperimen kopi.


Konsep tersebut dihadirkan dalam Fun Games & Kelas Belajar (Ekologi) Jagat yang menjadi bagian dari Festival JAGAT (Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi). Kegiatan ini berlangsung pada 29–30 Agustus 2026 dan diinisiasi jaringan GUSDURian bersama sejumlah lembaga keagamaan serta komunitas edukatif lintas daerah.


“Indonesia sedang dalam keadaan krisis ekologi yang begitu mengkhawatirkan. Oleh karenanya, membangun kesadaran dan pelestarian terhadap lingkungan menjadi mendesak untuk segera dilakukan,” terang Ketua Panitia Festival JAGAT 2026 Aulia Abdurrahman Soleh dalam keterangannya, Kamis (27/8/2026). 


Festival JAGAT digelar di tengah kondisi krisis ekologi yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Ia menilai peningkatan kesadaran lingkungan membutuhkan pendekatan yang tidak monoton, terutama ketika menyasar anak-anak dan remaja.


Karena itu, isu lingkungan disampaikan melalui metode yang interaktif dan aplikatif. Ratusan santri Pondok Pesantren Seblak serta siswa sekolah diajak mengenal cara merawat alam melalui permainan edukatif. Kegiatan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak. Pengurus pesantren, pengelola rumah ibadah lintas iman, guru, pengurus OSIS, dan masyarakat umum juga menjadi sasaran kegiatan. Mereka diharapkan dapat membawa pengetahuan dan keterampilan pengelolaan lingkungan ke lembaga masing-masing.


Beragam permainan disiapkan dalam Fun Games Ekologi. Komunitas GUSDURian Subang, misalnya, menghadirkan Ular Tangga, Puzzle Mangrove, Tebak Kata Mangrove, dan Engklek. Komunitas GUSDURian Semarang membawa konsep Ruang Bercerita melalui Dakon, Puzzle, dan flash card. Sementara itu, Komunitas GUSDURian Makassar mengajak peserta mengenal pemilahan sampah melalui Quartet Card Pemilahan Sampah. Ada pula permainan Kartu 9 Nilai Utama Gus Dur yang difasilitasi Komunitas GUSDURian Mojokerto. 


Sejumlah permainan tradisional juga disiapkan oleh Kampung Sinau dan Kampung Lali Gadget. Rangkaian permainan tersebut dirancang agar peserta tidak hanya menerima informasi mengenai lingkungan, tetapi juga mengalami proses belajar secara langsung.


Kelas Belajar Ekologi digelar pada Ahad, 30 Agustus 2026. Peserta akan memperoleh pengetahuan sekaligus praktik mengenai berbagai persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.


Tata kelola sampah pesantren akan dibahas oleh KH. M. Sholahuddin, Pengasuh Pesantren An-Nuqoyyah Sumenep. Peserta juga akan belajar membuat pupuk cair bersama Komunitas GUSDURian Lombok Tengah.


Materi lain mencakup pembuatan lilin aromaterapi yang dipandu Komunitas GUSDURian Majalengka serta komposter dan biopori bersama GUSDURian Yogyakarta. Untuk persoalan sampah rumah tangga, materi disampaikan Hendrikus Hari Wantoro dari Tim Pelayanan Keutuhan Ciptaan dan Lingkungan Hidup Gereja Katholik Paroki Santo Paulus Pringgolayan (GSPP) Bantul, Yogyakarta.


Peserta juga akan diperkenalkan pada pengolahan sampah menggunakan magot oleh GUSDURian Lombok Tengah, eksperimen kopi oleh Komunitas GUSDURian Tasikmalaya, serta manajemen bank sampah komunitas oleh Komunitas GUSDURian Mojokerto.


Festival JAGAT menargetkan tiga hasil utama dari kegiatan tersebut. Pertama, warga pesantren dan masyarakat diharapkan memiliki kemampuan mengelola serta mengolah sampah secara mandiri dengan cara yang tepat dan ramah lingkungan. 


“Kedua, kegiatan ini berfokus mengenalkan wawasan lingkungan hidup agar peserta lebih peka terhadap kondisi lingkungan dan ekosistem di sekitarnya,” tuturnya.


Ketiga, kegiatan ini diharapkan meninggalkan pengalaman belajar yang positif dan menyenangkan. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.


Ia berharap edukasi melalui permainan dan praktik dapat membuat isu ekologi lebih mudah dipahami sekaligus mendorong peserta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.


Festival JAGAT 2026 digelar pada Sabtu-Ahad, 29–30 Agustus 2026. Selain Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, kegiatan juga berpusat di Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Untuk pendaftaran atau partisipasi dalam kegiatan ini dapat diakses melalui tautan di bawah ini.
 

Link Pendaftaran Festival Jagat 2026: s.id/festivaljagat