Nasional

Gerakan Pesantrenku Aman Diharapkan Kembalikan Jati Diri Pesantren 

Kamis, 18 Juni 2026 | 12:00 WIB

Gerakan Pesantrenku Aman Diharapkan Kembalikan Jati Diri Pesantren 

Penanggung Jawab Satuan Anti Kekerasan (SAKA) Pesantren Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Alissa Wahid dalam kegiatan Gerakan Pesantrenku Aman di Pondok Pesantren Nurul Qodiri, Lampung Tengah, Selasa (16/6/2026). (Dok.TVNU)

Lampung, NU Online

Penanggung Jawab Satuan Anti Kekerasan (SAKA) Pesantren Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Alissa Wahid berharap Gerakan Pesantrenku Aman dapat mengembalikan pesantren pada jati dirinya sebagai ruang penyiapan dan pembekalan bagi para santri.


Menurut Alissa, pesantren harus menjadi tempat yang menyiapkan generasi Nahdliyin dan Nahdliyat agar siap menjadi umat Islam yang berakhlakul karimah serta kembali pada khazanah Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang memiliki karakter mabadi khaira ummah.


"Itu harapan kita. Kalau para santri hidup dengan nilai-nilai mabadi khaira ummah pasti tidak ada kejadian kekerasan di lingkungan," kata Alissa di Pondok Pesantren Nurul Qodiri, Lampung Tengah, Selasa (16/6/2026).


Alissa menjelaskan Deklarasi Pesantrenku Aman merupakan bagian dari Satuan Tugas Penanggulangan Anti Kekerasan (SAKA) di Pesantren yang dibentuk PBNU. Lampung dipilih sebagai lokasi peluncuran karena memiliki banyak pesantren  NU dan warga Nahdlatul Ulama.


"Kami memilih Lampung karena di Lampung banyak pesantren dan banyak warga NU. Maka dimulai dari sini dengan harapan menuju daerah lain di Pulau Sumatra. Karena kita tahu semakin hari semakin banyak pesantren yang berafiliasi dengan NU,” ujarnya.


Menurutnya, masyarakat pesantren, para kiai, nyai, serta jam’iyah NU saat ini memiliki semangat yang kuat untuk mencegah kekerasan. Karena itu, keinginan untuk terlibat dalam Gerakan Pesantrenku Aman terus bermunculan di berbagai daerah.


"Kami melihat masyarakat pesantren, para kiai, bu nyai, dan jam’iyah NU sekarang semangat mengurangi kekerasan. Jadi keinginan untuk terlibat dan meluncurkan Gerakan Pesantrenku Aman bermunculan di mana-mana,” katanya.


Pembentukan satgas khusus kekerasan di pesantren, imbuh Alissa, dilakukan karena pesantren merupakan pemangku kepentingan utama NU. Namun dalam perkembangannya, satgas tersebut juga menjadi rujukan bagi berbagai kasus kekerasan yang terjadi di luar lingkungan pesantren.


Banyaknya permintaan deklarasi pesantrenku ramah anak, pihaknya saat ini tengah mengkaji kemungkinan perluasan SAKA Pesantren PBNU menjadi SAKA PBNU.


"Ini masih dalam kajian. Walaupun belum distrukturkan atau belum diinstitusikan perubahannya, kami tetap akan mendampingi semua kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan NU,” pungkasnya.


Sebelumnya, SAKA PBNU bersama RMI PBNU terus mendorong lahirnya sistem perlindungan pesantren melalui edukasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia pesantren, penyusunan mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan, serta penguatan budaya pengasuhan yang berpihak pada keselamatan santri. 


Sebagai bagian dari implementasi gerakan, RMI PBNU menargetkan sedikitnya 1.000 pesantren mengadopsi komitmen Pesantren Aman melalui pakta integritas dan langkah nyata perlindungan santri di lingkungan masing-masing.


Roadshow Gerakan Nasional Pesantrenku Aman di Lampung diikuti sekitar 1.000 peserta yang terdiri atas santri, pengurus pesantren, musyrif-musyrifah, dewan guru, dan pengasuh pondok pesantren. 


Melalui keberlanjutan gerakan dari Pasuruan menuju Lampung, RMI PBNU dan SAKA PBNU berharap semakin banyak pesantren di Indonesia menjadi pelopor ruang pendidikan Islam yang aman, sehat, penuh kasih, serta mampu menjaga amanah masa depan para santri.