Khutbah Jumat: Tahun Baru Hijriah, Momentum Upgrade Diri Menuju Muslim yang Lebih Baik
NU Online · Rabu, 17 Juni 2026 | 21:20 WIB
Sunnatullah
Kolumnis
Tahun Baru Hijriah bukan sekadar penanda waktu. Ia lahir dari peristiwa besar: hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Sebuah perpindahan yang bukan hanya soal tempat, tetapi soal keadaan hidup.
Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat Tahun Baru Hijriah: Momentum Hijrah untuk Upgrade Diri Menjadi Muslim yang Lebih Baik”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلىَ عَبْدِهِ الْكِتَابَ تَبْصِرَةً لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَبُّ الْأَرْبَابِ، الَّذِي خَضَعَتْ لِعَظَمَتِهِ الرِّقَابُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلىَ خَيْرِ أُمَّةٍ بِأَفْضَلِ كِتَابٍ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَنْجَابِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْأَحْبَابُ، إِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْوَهَّابِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, segala puji hanya milik Allah SWT atas limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Di antara nikmat terbesar yang patut kita syukuri adalah nikmat iman dan kesehatan, sehingga pada hari yang penuh berkah ini kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul dan menunaikan ibadah salat Jumat berjamaah.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Sebagai khatib, saya berwasiat kepada diri sendiri dan kepada jamaah sekalian, agar kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Caranya adalah dengan memanfaatkan sisa usia yang Allah titipkan ini sebaik mungkin untuk menempuh jalan kebaikan, menjauhi segala bentuk kemaksiatan, serta berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.
Terlebih lagi, saat ini kita baru saja memasuki tahun baru Hijriah. Momentum ini bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, tetapi sebuah pengingat bahwa waktu terus berjalan, usia kita semakin berkurang, dan kesempatan kita di dunia ini semakin terbatas.
Karena itu, tidak ada langkah yang lebih bijak selain menjadikan momen ini sebagai sarana upgrade diri, dengan melakukan muhasabah, mengevaluasi diri, dan memperbaiki apa yang masih kurang dalam hidup kita.
Dari sinilah harapan menjadi nyata: bahwa kita bisa tumbuh menjadi Muslim yang lebih baik dari hari ke hari, lebih dekat kepada Allah, dan lebih bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
Berkaitan dengan pentingnya upgrade diri, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr, [59]: 18).
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Tahun baru Hijriah dimulai dari peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi menjadi titik penting dalam perjalanan dakwah Islam.
Kita tahu, Rasulullah dan para sahabat menghadapi penolakan yang sangat berat dari kaum Quraisy. Mereka bahkan berusaha mengganggu, menyakiti, dan merencanakan pembunuhan terhadap Nabi SAW. Dalam kondisi yang sangat sulit itu, Allah memerintahkan Nabi untuk berhijrah dari kota yang menolak kebenaran menuju kota yang menerima Islam dengan baik, yaitu Madinah.
Karena besarnya makna peristiwa ini, pada masa Khalifah Umar bin Khattab r.a., peristiwa hijrah dijadikan awal penanggalan dalam kalender Islam. Dalam Tarikhul Khulafa karya Imam as-Suyuthi, disebutkan pendapat Imam al-Askari:
قَالَ الْعَسْكَرِيُّ: هُوَ أَوَّلُ مَنْ سُمِّيَ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ وَأَوَّلُ مَنْ كَتَبَ التَّارِيْخَ مِنَ الْهِجْرَةِ
Artinya: “Al-Askari berkata: Umar adalah orang pertama yang diberi gelar Amirul Mukminin, dan orang pertama yang menetapkan penanggalan berdasarkan peristiwa Hijrah.”
Hijrah Nabi Muhammad bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga membawa makna perubahan besar dalam kehidupan. Dari suasana penuh kebencian, iri, dan permusuhan, menuju masyarakat yang damai, saling menerima, dan hidup dalam persaudaraan. Dengan kata lain, hijrah adalah simbol perubahan, sebuah langkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, tahun baru Hijriah tidak cukup hanya dimaknai sebagai pergantian angka dalam kalender. Lebih dari itu, ia adalah kesempatan untuk memperbaiki diri.
Jika tahun lalu kita masih sering lalai dalam shalat, maka di tahun ini mari kita perbaiki dengan menjaga shalat tepat waktu dan lebih khusyuk. Jika lisan kita masih sering menyakiti orang lain, maka mari kita ubah menjadi ucapan yang lembut, menenangkan, dan membawa kebaikan. Dan jika kita masih berat dalam bersedekah, maka mari kita latih diri menjadi pribadi yang lebih dermawan dan ringan dalam membantu sesama.
Inilah makna hijrah yang sebenarnya: berpindah dari keadaan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik, dari keburukan menuju kebaikan, dan dari kelalaian menuju ketakwaan.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Senantiasa berusaha memperbaiki diri dan menjadi lebih baik dari hari ke hari menunjukkan bahwa kita termasuk orang yang beruntung. Sebaliknya, jika tidak ada usaha untuk memperbaiki diri, bahkan hari ini justru lebih buruk dari kemarin, maka itu tanda kerugian bagi diri kita.
Dalam sebuah riwayat Rasulullah bersabda;
مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ
Artinya: “Siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia orang yang beruntung. Siapa yang harinya sama dengan kemarin, maka ia merugi. Dan siapa yang harinya lebih buruk dari kemarin, maka ia celaka.” (HR. Al-Hakim).
Hadits ini mengingatkan kita untuk selalu melakukan perbaikan diri, meningkatkan kualitas hidup, iman, dan amal kita. Banyak hal yang bisa kita tingkatkan, seperti iman yang lebih kuat, ibadah yang lebih khusyuk dan berkualitas, serta akhlak yang lebih baik.
Proses memperbaiki diri tidak harus dimulai dari hal-hal besar. Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seorang pedagang bisa memperbaiki diri dengan berlaku jujur dalam timbangan dan menjauhi kecurangan.
Seorang hakim atau penegak hukum dengan menegakkan keadilan. Seorang guru atau dosen dengan mengajar dengan sungguh-sungguh dan menjadi teladan bagi muridnya.
Begitu juga suami istri, dengan saling menyayangi, memahami, dan menjaga keharmonisan rumah tangga. Para pemimpin dengan menjalankan amanah secara jujur dan adil demi kesejahteraan rakyat. Sementara masyarakat secara umum dapat memperbaiki diri dengan hidup rukun, saling tolong-menolong dalam kebaikan, menjaga ketertiban, dan menjauhi perbuatan yang merugikan orang lain.
Inilah bentuk nyata dari upaya memperbaiki diri sebagai seorang muslim. Karena itu, jangan menunggu sempurna untuk berubah, tetapi mulailah dari hal-hal kecil yang ada di sekitar kita setiap hari.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Demikian adanya khutbah Jumat di awal tahun baru Hijriah ini, perihal saatnya menjadikan momen tahun baru untuk melakukan upgrade diri menjadi Muslim yang lebih baik dari sebelumnya. Semoga menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
--------
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Kokop, Bangkalan, JawaTimur.
Terpopuler
1
LF PBNU Umumkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026
2
Ini Lafal Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriah
3
LF PBNU Instruksikan Rukyatul Hilal Awal Muharram 1448 H Sore Ini
4
Lafal Niat Puasa Muharram, Tasua, dan Asyura
5
BEM UI Dukung Gelombang Aksi di Berbagai Daerah, Siapkan Gerakan Lanjutan
6
Data Hilal Rukyatul Hilal Awal Muharram 1448 H
Terkini
Lihat Semua