Nasional

Gunung Anak Krakatau Masih Berstatus Siaga

Selasa, 8 September 2026 | 09:00 WIB

Gunung Anak Krakatau Masih Berstatus Siaga

Gunung Anak Krakatau memuntahkan erupsi disertai guguran lava pijar dan lontaran material vulkanik yang terekam CCTV Lava93 pada Jumat (4/9/2026) malam. (Kementerian ESDM)

Jakarta, NU Online

Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga, setelah aktivitas erupsi memicu sebaran abu vulkanik hingga mengepung sejumlah wilayah di Jawa dan Sumatra. Abu bahkan mencapai ketinggian hingga 50.000 kaki dan mengganggu aktivitas penerbangan.

 

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan berdasarkan pengamatan langsung tim BNPB, terdapat kemungkinan Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi yang lebih besar.

 

“Hasil pengamatan secara langsung melalui tim kami yang bergerak ke sana ini kemungkinan adanya erupsi Gunung Anak Krakatau yang lebih besar,” kata Suharyanto dalam konferensi pers yang digelar secara daring pada Senin (7/9/2026).

 

Ia mengtakan bahwa sebaran abu vulkanik sejak sehari sebelumnya telah menjangkau sedikitnya empat provinsi. “Terjadi sebaran abu vulkanik yang menimpa paling tidak empat provinsi DKI Jaya, Jawa Barat, Lampung, dan Sumatera Selatan sehingga mengganggu penerbangan,” katanya.

 

Suharyanto menjabarkan sejak 6 September 2026 pukul 08.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik. Sebaran pertama dari permukaan hingga 20.000 kaki bergerak ke arah Timur Laut-Selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat serta perairan sekitarnya.

 

Sebaran kedua mencapai 50.000 kaki ke arah Barat Daya-Barat Laut, meliputi sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudera Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten. Pemerintah menetapkan radius bahaya tiga kilometer.

 

Ia menyampaikan bahwa sebaran abu vulkanik telah mengganggu masyarakat, sekolah, dan aktivitas nelayan. “Dampak kesehatan yang dilaporkan meliputi iritasi mata, gangguan pernapasan, dan iritasi kulit,” ucapnnya.

 

Di tengah meluasnya dampak abu, kata Suharyanto, pemantauan pada 20 tide gauge di sekitar Selat Sunda dan wilayah terdampak menunjukkan tidak terdapat anomali.

 

“Asesmen Badan Geologi bahwa aktivitas erupsi belum menyebabkan indikasi runtuhan tubuh gunung. Berdasarkan evaluasi kondisi morfologi saat ini, belum berpotensi runtuh dalam skala yang dapat memicu tsunami,” tuturnya.

 

Ia mengatakan bahwa hingga kini belum ada laporan korban jiwa, kerugian materiil, kerusakan rumah, maupun infrastruktur vital. Tidak ada pemerintah daerah yang menetapkan status kedaruratan.

 

Sebanyak delapan bandara berhenti beroperasi, yakni Radin Inten II, Muhammad Taufiq Kiemas, Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, Pondok Cabe, Budiarto, dan Atung Bungsu.

 

BNPB menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengurangi sebaran abu. Suharyanto mengatakan langkah tersebut dilakukan dengan memperhatikan kondisi penerbangan.

 

“BNPB segera melaksanakan OMC dalam rangka untuk mengurangi abu vulkanik yang ada di udara,” katanya.