Kemenag Dorong Pesantren Mandiri, 4.185 Lembaga Telah Terima Bantuan Inkubasi Bisnis
Selasa, 22 September 2026 | 21:30 WIB
Direktur Jenderal Pesantren Kemenag Basnang Said usai Acara Kick Off Rangkaian Hari Santri 2026, di Jakarta pada Selasa (22/9/2026). (NU Online/Jannah)
Jakarta, NU Online
Kementerian Agama (Kemenag) mendorong pesantren mandiri secara ekonomi melalui pembinaan inkubasi bisnis. Sebanyak 4.185 pondok pesantren telah mendapatkan bantuan inkubasi bisnis kemandirian ekonomi pesantren sejak program tersebut diluncurkan pada 2021 hingga 2025.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pesantren agar tidak hanya berperan dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga memiliki kemandirian ekonomi dan mampu mengembangkan potensi usaha yang berdampak bagi masyarakat sekitar.
Direktur Jenderal Pesantren Kemenag Basnang Said mengatakan bahwa ribuan pesantren penerima bantuan tersebut mulai bertransformasi menjadi Badan Usaha Milik Pesantren (Bumpes).
“Sejak tahun 2021 sampai 2025, ada 4.185 pesantren yang mendapatkan bantuan inkubasi. Lalu dari empat ribuan itu, lalu bertransformasi menjadi Bumpes Badan Usaha Milik Pesantren,” ujar Basnang usai Acara Kick Off Rangkaian Hari Santri 2026, di Jakarta pada Selasa (22/9/2026).
Basnang menyampaikan bahwa pesantren yang telah kuat secara ekonomi akan turut meramaikan rangkaian peringatan Hari Santri 2026. Salah satunya melalui Expo Kemandirian Pesantren yang rencananya digelar pada 16-24 Oktober 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta.
Expo bertema Ekosistem Ekonomi Umat tersebut akan menampilkan berbagai potensi dan inovasi pesantren dalam kategori makanan, minuman, kain, suvenir, dan buku. Kegiatan itu menjadi ajang nasional untuk mempromosikan potensi ekonomi pesantren sekaligus membuka ruang kolaborasi dan investasi.
Dia mengatakan bahwa keberadaan pesantren tidak dapat dipisahkan dari kehidupan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Menurutnya, pesantren membangun ekosistem yang melibatkan warga sekitar dan dapat ikut menggerakkan perekonomian mereka.
“Bayangkan misalnya ada penjual donat yang kemudian santri bisa beli di luar. Kemudian sehingga ekosistem pesantren itu bukan hanya mensejahterakan orang yang ada di pesantren, tapi juga masyarakat yang ada di sekitar pesantren,” katanya.
Dia mengatakan bahwa Expo Kemandirian Pesantren juga menjadi ruang untuk menunjukkan hasil pengembangan usaha pesantren sekaligus kehadiran negara dalam mendukung kewirausahaan pesantren.
“Temanya mencakup makanan dan minuman, buku, pakaian khas Nusantara, serta produk-produk khas lainnya. Semuanya nanti akan kita pamerkan dan semoga juga memiliki nilai ekonomi,” kata Basnang.
“Kita nanti coba akan susun skemanya, pesantren mana yang akan berkunjung pada tanggal berapa. Sehingga nanti dipastikan semua pondok-pondok, misalnya minimal se-Jabodetabek, bisa menyaksikan expo ini,” sambungnya.