Majalah Risalah NU Luncurkan Antologi Sastra Karya 50 Santri Se-Indonesia
Ahad, 20 September 2026 | 11:00 WIB
Majalah Risalah NU meluncurkan buku Antologi Karya Sastra Santri Nasional. (Foto: dok Majalah Risalah NU)
Jakarta, NU Online
Majalah Risalah NU meluncurkan buku Antologi Karya Sastra Santri Nasional dalam acara Halaqoh Sastra Santri Nusantara di Aula Jacob Oetama Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Buku tersebut merupakan kumpulan cerpen karya 50 santri terpilih dalam Lomba Cerpen Nasional 2025 yang diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Acara tersebut dihadiri sejumlah alim ulama, tokoh NU, akademisi, sastrawan, budayawan, santri, ratusan mahasiswa dari berbagai kampus, puluhan kader Fatayat NU dari DKI Jakarta, serta para undangan.
Dalam kegiatan bedah buku, panitia menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki latar belakang di bidang sastra dan jurnalistik, di antaranya Dinaldo, aktivis NU dan penulis sastra; Yudhiarma, penulis dan jurnalis senior; serta Jahid Lukman yang menjadi salah satu juri Lomba Cerpen Nasional 2025.
Ketua Panitia Halaqoh Sastra Santri Nusantara, Jahid Lukman, mengatakan halaqoh tersebut menjadi momentum untuk memperkuat tradisi literasi dan kreativitas sastra di kalangan santri.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan bagi santri, penulis, pegiat literasi, budayawan, akademisi, dan pemerhati pesantren untuk berbagi gagasan serta membicarakan perkembangan sastra santri di tengah perubahan zaman.
“Jadi, sastra tidak hanya dipandang sebagai karya seni dan ekspresi kreatif, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi intelektual pesantren,” ungkap Jahid.
Dokumentasi Kreativitas Santri
Jahid mengatakan peluncuran Antologi Karya Sastra Santri Nasional menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut. Buku itu menjadi wadah untuk memperkenalkan kreativitas santri sekaligus mendokumentasikan gagasan dan pengalaman mereka melalui karya sastra.
Kehadiran antologi karya sastra santri tersebut menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya memiliki tradisi keagamaan, tetapi juga potensi dalam bidang kebudayaan dan literasi.
“Karya sastra para santri merekam berbagai pengalaman kehidupan, mulai dari dinamika pesantren, hubungan antara tradisi dan modernitas, kehidupan sosial, pendidikan, keluarga, hingga harapan generasi muda terhadap masa depan bangsa,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Risalah NU, Khoirul Huda Sabili, berharap Halaqoh Sastra Santri Nusantara dapat menjadi momentum untuk membangun ekosistem sastra santri yang berkelanjutan.
“Tidak berhenti pada penerbitan satu antologi, para santri diharapkan terus mendapatkan ruang untuk menulis, berdiskusi, mengikuti forum sastra, serta mempublikasikan karya mereka,” ungkapnya.
Menurutnya, halaqoh tersebut sekaligus menegaskan posisi santri dalam perjalanan kebudayaan Indonesia.
“Dengan tradisi keilmuan yang kuat dan kreativitas yang terus berkembang, santri dapat berkontribusi dalam memperkaya khazanah sastra dan kebudayaan Nusantara,” ungkapnya.
Halaqoh Sastra Santri Nusantara dan peluncuran Antologi Karya Sastra Santri Nasional diharapkan menjadi awal dari gerakan yang lebih besar untuk memperkuat literasi, kreativitas, dan kebudayaan santri di Indonesia.