Meuleumak, Tradisi Kebersamaan Pemuda Lamkawe di Momentum Idul Fitri
Kamis, 26 Maret 2026 | 13:30 WIB
Bagi masyarakat Lamkawe, tradisi meuleumak menjadi ruang kebersamaan yang menyatukan generasi tua dan muda dalam nilai syukur, keikhlasan, dan persaudaraan. (Foto: dok warga)
Pidie, NU Online
Di tengah arus modernisasi yang kian deras, pemuda di Gampong Lamkawe, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie, terus menjaga warisan tradisi leluhur yang sarat makna, salah satunya meuleumak.
Tradisi makan bersama ini bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Bagi masyarakat Lamkawe, tradisi meuleumak menjadi ruang kebersamaan yang menyatukan generasi tua dan muda dalam nilai syukur, keikhlasan, dan persaudaraan.
Momentum tersebut terasa semakin kuat saat Idulfitri, ketika para perantau kembali ke kampung halaman. Gampong Lamkawe pun menjadi ruang temu yang hangat antara pemudik dan masyarakat setempat, mulai dari pemuda, anak-anak, hingga para tokoh masyarakat. Dalam suasana itu, meuleumak hadir sebagai simbol nyata ukhuwah dan silaturahmi.
Tradisi yang Dipelopori Pemuda
Tradisi meuleumak di Lamkawe tidak lepas dari peran aktif pemuda sebagai motor penggerak. Tokoh masyarakat sekaligus mantan Ketua MWCNU Kembang Tanjong, Edi Kurniawan, menyebut meuleumak sebagai warisan endatu yang terus dilestarikan oleh generasi muda dan menjadi agenda rutin setiap Lebaran.
“Tradisi ini menjadi media untuk memperkuat ukhuwah dan silaturahmi masyarakat, terutama saat Idulfitri,” ujarnya, Selasa.
Komisioner KIP Pidie itu juga menegaskan bahwa keberhasilan pelaksanaan meuleumak tidak terlepas dari kekompakan seluruh elemen masyarakat.
“Berkat kerja sama pemuda, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta dukungan perantau, kegiatan meuleumak setiap Lebaran dapat berjalan lancar,” ujarnya.
Ia turut mengapresiasi seluruh pihak yang berkontribusi, baik dalam bentuk tenaga maupun bantuan finansial.
Bagi masyarakat Lamkawe, meuleumak bukan sekadar makan bersama. Ia menjadi ruang ibadah sosial, tempat belajar bersyukur, berbagi, dan mempererat persaudaraan, terutama dalam momentum Idulfitri.
Di tengah dunia yang semakin individualistik, tradisi ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah kekuatan. Dari meunasah di Lamkawe, nilai-nilai tersebut terus tumbuh, menghubungkan perantau dan masyarakat, menguatkan pemuda lintas generasi, serta menjaga warisan endatu tetap hidup.
Ruang Temu Perantau dan Masyarakat
Ketua pemuda Lamkawe, Mawardi, mengatakan bahwa bagi masyarakat perantauan, meuleumak menjadi momen penting untuk kembali merajut hubungan sosial yang sempat terpisah oleh jarak dan waktu.
“Momentum meuleumak ini menjadi ajang mempererat kembali silaturahmi antara perantau dan masyarakat setempat,” ujarnya.
Dalam suasana tersebut, seluruh elemen masyarakat terlibat aktif. Pemuda menyiapkan kegiatan, orang tua mengatur jalannya acara, dan anak-anak turut meramaikan suasana.
Tidak ada sekat sosial. Semua duduk bersama dalam satu hamparan, menikmati hidangan yang sama, dan merasakan kebersamaan yang setara.
Meuleumak sebagai Madrasah Sosial
Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgk Iskandar Zulkarnaen, menilai meuleumak memiliki nilai sosiologis yang kuat. “Meuleumak adalah ruang interaksi sosial. Orang berkumpul, berbagi, dan membangun solidaritas,” ujarnya.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan pemikiran sosiolog Émile Durkheim tentang pentingnya aktivitas kolektif dalam membangun kesadaran sosial.
Selain itu, ia menyebut meuleumak sebagai simbol budaya yang hidup. “Ini bukan sekadar makan bersama, tetapi sistem nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi,” katanya.
Dosen Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe itu menambahkan, peran pemuda dalam menjaga tradisi ini patut diapresiasi. Mereka tidak hanya menjadi pelaksana, tetapi juga agen perubahan dalam menjaga nilai sosial dan budaya.
“Pemuda harus menjadi motor penggerak dalam memperkuat ukhuwah dan persatuan,” ujarnya.
Dengan semangat tersebut, pemuda Lamkawe terus berupaya menjaga tradisi meuleumak agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Spirit Idulfitri: Syukur dan Kebersamaan
Tokoh Kembang Tanjong asal Lamkawe, Nazared, mengatakan bahwa dalam konteks Idulfitri, meuleumak menjadi wujud nyata nilai syukur dan kebersamaan.
Ia menjelaskan bahwa hidangan yang disajikan berasal dari sumbangan masyarakat, baik pemuda, tokoh masyarakat, maupun perantau. Setiap orang memberi sesuai kemampuan, tanpa memandang besar kecilnya kontribusi.
“Yang utama adalah keikhlasan. Inilah ruh dari meuleumak,” ujarnya.
Bagi pemuda Lamkawe, tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan identitas yang harus terus dijaga.