Mendidik Anak Menjaga Kebersihan Rumah saat Menyambut Tamu
NU Online ยท Kamis, 26 Maret 2026 | 12:00 WIB
Syifaul Qulub Amin
Kolomnis
Hari Raya Idul Fitri sangat erat kaitannya dengan suasana silaturahmi. Ketika mengunjungi kerabat dan sanak saudara, kita sering bernostalgia, mengobati rasa rindu, atau sekadar mengobrol tentang kondisi-kondisi yang sedang dialami dalam beberapa waktu terakhir.
Pada momen ini, tentu saja menjaga kebersihan rumah sangat penting karena kedatangan tamu. Selain karena alasan tersebut, Islam sejak awal telah menekankan kebersihan dan kesucian sebagai sifat yang disukai oleh Allah, sebagaimana tertera dalam firman-Nya:
ุฅูููู ุงูููููู ููุญูุจูู ุงูุชูููููุงุจูููู ููููุญูุจูู ุงููู
ูุชูุทููููุฑูููู
Artinya, โSesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat, dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.โ (QS. Baqarah [2]: 222).
Berdasarkan ayat di atas, menjaga kebersihan rumah beserta lingkungannya saat kedatangan tamu memiliki dua sisi kemuliaan. Pertama, kemuliaan menjaga kebersihan itu sendiri. Kedua, upaya kita membersihkan tempat tinggal dengan niat menyambut tamu juga merupakan kemuliaan, terlebih Rasulullah pernah bersabda mengenai silaturahim:
ุนู ุงุจู ูุฑูุฑุฉ ูุงูุ ูุงู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุ ู
ู ูุงู ูุคู
ู ุจุงููู ุงูููู
ุงูุฃุฎูุฑ ูููุตู ุฑุญู
ูุ ู
ู ูุงู ูุคู
ู ุจุงููู ููููู
ุงูุขุฎุฑ ููููุฑู
ุถููู
Artinya: "Diceritakan dari Sahabat Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW bersabda: 'Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia menyambung tali silaturahmi. Siapa saja beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya'.โ (HR Imam Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, demi memaksimalkan penghormatan kepada tamu dan sebagai pembiasaan, para orang tua memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan dan membiasakan anak-anaknya menjaga kebersihan rumah, terutama saat momen silaturahmi, saat banyak tamu.
Rasulullah SAW bersabda:
ุชูููุธููููููุง ุจูููููู ู ูุง ุงูุณูุชูุทูุนูุชูู ู ููุงููู ุงูููู ุชูุนูุงููู ุจูููู ุงูุงูุณููุงูู ู ุนูููู ุงูููุธูุงููุฉู ูููููู ููุฏูุฎููู ุงููุฌููููุฉู ุงููุงู ููููู ููุธููููู
Artinya: โBersihkanlah dirimu dengan segala kemampuan yang kamu miliki, karena sesungguhnya Allah SWT mendasarkan Islam pada kebersihan, dan tidak akan masuk surga kecuali setiap orang yang bersih.โ (HR Imam Thabrani).ย
Langkah-langkah Penting Mengajarkan Anak Membiasakan Membersihkan Rumah
Langkah awal yang perlu dilakukan orang tua adalah memberikan teladan nyata dalam menjaga kebersihan. Anak tidak cukup hanya diberi perintah, tetapi perlu melihat langsung bagaimana kebiasaan itu dipraktikkan dalam keseharian. Misalnya, mencuci tangan sebelum makan, menyikat gigi sebelum tidur, serta memotong kuku agar tidak menjadi sarang kuman.
Dari kebiasaan sederhana ini, orang tua dapat menjelaskan alasan di balik pentingnya menjaga kebersihan diri. Kebersihan tidak hanya soal penampilan, tetapi juga sangat berkaitan dengan kesehatan tubuh. Anak perlu memahami bahwa tubuh yang kotor lebih mudah terserang penyakit sehingga aktivitas seperti belajar dan bermain bisa terganggu.
Karena itu, penanaman nilai kebersihan tidak cukup melalui nasihat semata, tetapi harus diperkuat dengan keteladanan. Anak pada dasarnya adalah peniru ulung yang merekam setiap perilaku orang tuanya. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh KH Ahmad Ghazali Lanbulan dalam salah satu karyanya:
ูุงูุชุฑุจูุฉ ุฃููุงุน :ุงูุฃููู ุงูุชุฑุจูุฉ ุจุงููุฏูุฉ ูุงูุฃุณูุฉ ุงูุญุณูุฉุ ููู ุฃุดุฏูุง ุชุฃุซูุฑุง
Artinya: โPendidikan itu bermacam-macam. Pertama, pendidikan dengan memberi tauladan atau uswatun hasanah. Metode pertama ini adalah yang paling efektif (dibandingkan metode lainnya).โ (KH Ahmad Ghazali Lanbulan, Al-Jauharul Farid Syarh alal Manhajis Sadid, [Madura: PP Al-Mubarok, 1436 H], hlm. 27).
Memberi teladan yang baik (uswatun hasanah). Metode inilah yang paling efektif dalam mengedukasi anak-anak kita tentang hal apa pun, termasuk soal kebersihan diri dan lingkungan rumah. Inilah langkah pertama yang bisa dilakukan oleh para tua.ย
Kebiasaan menjaga kebersihan diri menjadi pintu masuk untuk mengedukasi anak tentang pentingnya kebersihan rumah dan sekitarnya. Anak perlu diarahkan bahwa lingkungan yang bersih merupakan kelanjutan dari diri yang bersih. Dengan begitu, terbentuk kesadaran bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama, bukan sekadar urusan pribadi.
Hal ini penting karena kebersihan lingkungan sangat berkaitan dengan kesehatan. Lingkungan yang kotor dapat menjadi sumber berbagai penyakit yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, menjaga kebersihan rumah bukan hanya soal kerapian, tetapi juga upaya menjaga kualitas hidup.
Rasulullah SAW pun telah berpesan agar menjaga kebersihan lingkungan rumah. Dalam riwayat Imam at-Thabrani dalam kitab Muโjamul Ausath disebutkan:
ุทููููุฑููุง ุฃูููููููุชูููู
ู
Artinya: โBersihkanlah pekarangan rumah kalian,โ (HR Imam at-Thabrani).
Langkah berikutnya, para orang tua bisa berbagi tanggung jawab soal kebersihan rumah, termasuk melibatkan anak-anak kita. Mereka bisa diberi tanggung jawab. Tentu disesuaikan dengan usianya.ย
Selain itu, yang paling penting, jangan sampai menjadi beban bagi mereka. Mulai dengan yang paling sederhana dan gampang, misalnya, bertugas membuang sampah plastik kecil yang berserakan di kamarnya.
Orang tua tidak perlu khawatir tentang sempurna atau tidaknya anak-anak menjalankan tugasnya. Tujuan diberi tanggung tersebut yang terpenting adalah menumbuhkan karakter positif dan kebiasaan hidup bersih. Syukur alhamdulillah jika dari kebiasaan itu tumbuh karakter bertanggung jawab.
ย
Untuk mewujudkan hal tersebut, orang tua perlu memberikan uswatun hasanah secara konsisten dan bertahap. Keteladanan tidak cukup sekali-dua kali, tetapi harus diulang hingga menjadi kebiasaan yang melekat.ย
Alih-alih sekadar menyuruh, orang tua sebaiknya menunjukkan langsung bagaimana cara membersihkan meja atau merapikan mainan dengan benar. Praktik sederhana seperti ini jauh lebih efektif daripada instruksi verbal semata. Yang terpenting bukan banyaknya, tetapi konsistensi dalam melakukannya.
Membentuk kebiasaan memang tidak mudah, tetapi bukan hal yang mustahil. Sayyid Abdullah al-Haddad dalam Kitabul Hikam menyatakan:
ุงูุนุงุฏุฉ ุฅุฐุง ุฑุณุฎุช ูุณุฎุช
Artinya: "Kebiasaan ketika sudah tertancap niscaya ia akan menghilangkan (kebiasaan yang lain)." (Sayyid Abdullah al-Haddad, Kitabul Hikam, [Darul Hawi, 1998], hlm. 9).
Pesan ini menegaskan bahwa kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten akan menggantikan kebiasaan lama yang kurang baik. Termasuk pola hidup bersih yang perlahan akan mengikis kebiasaan hidup tidak bersih.
Selain keteladanan, orang tua juga perlu memberikan nasihat yang baik. Bentuknya bisa berupa teguran dan pengingat ketika anak mulai lalai. Nasihat ini berfungsi sebagai penguat agar anak tetap menjaga komitmen terhadap kebiasaan yang telah diajarkan.
Nasihat baik menjadi penting karena anak belum memiliki konsistensi yang stabil. Mereka membutuhkan pengingat agar tetap berada pada jalur kebiasaan positif. Karena itu, orang tua selayaknya tidak boleh bosan untuk terus mengingatkan dengan cara yang baik.
Walhasil, momen Idul Fitri dapat dijadikan kesempatan untuk menanamkan pola hidup bersih kepada anak. Selain sebagai ajaran dalam Islam, menjaga kebersihan rumah juga merupakan bentuk penghormatan kepada tamu. Dengan demikian, pendidikan kebersihan tidak hanya bernilai praktis, tetapi juga memiliki dimensi spiritual. Wallahu aโlam.
Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil, Perumus LBM PP Nurul Cholil dan Editor Website PCNU Bangkalan.
Terpopuler
1
Jalur Banda Aceh-Medan Macet Panjang, Ansor Imbau Pemudik Utamakan Keselamatan
2
Prabowo Klaim Pemulihan Aceh Hampir 100 Persen, NU Aceh Tamiang: 70 Persen Warga Masih Mengungsi
3
Raih Lima Keutamaan Ini dengan Laksanakan Puasa Syawal
4
DPR Ingatkan Mutu Pendidikan di Tengah Wacana PJJ untuk Efisiensi Energi
5
Khutbah Jumat: Keutamaan Silaturahmi dan Saling Memaafkan
6
Khutbah Jumat: Berbagi Tanpa Pamer, Peduli Tanpa Sekat
Terkini
Lihat Semua