Nasional

Mufti Agung Palestina Kabarkan Kondisi Terkini Masjidil Aqsa dan Merebaknya Isu Agama Ibrahimiah

Senin, 28 September 2026 | 21:00 WIB

Mufti Agung Palestina Kabarkan Kondisi Terkini Masjidil Aqsa dan Merebaknya Isu Agama Ibrahimiah

Mufti Agung Palestina Syaikh Mohammad Ahmad Mohammad Hussein saat di Masjid Istiqlal, Jumat (25/9/2026). (Foto: NU Online/Suwitno)

Jombang, NU Online

Mufti Agung Palestina Syaikh Mohammad Ahmad Mohammad Hussein mengabarkan kondisi terkini Masjid Al-Aqsa di Palestina selama pendudukan Israel.


"Bukan rahasia lagi bagi siapa pun di dunia Islam saat ini bahwa Masjidil Aqsa berada di bawah penjajahan Israel, dan penjajah Israel berusaha keras untuk mengubah peninggalan bersejarah Al-Aqsa serta menguasainya," ungkap Syaikh Hussein saat menyampaikan orasi ilmiah dalam acara Muhadhoroh 'Ammah di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, pada Ahad (27/9/2026).


Imam Besar Masjidil Aqsa tersebut menceritakan tindakan ilegal Israel yang merusak kelestarian serta kesucian kompleks Al-Aqsa. Ia mengungkapkan bahwa pihak Israel terus berupaya membatasi akses ibadah umat Islam demi agenda-agenda tertentu. 


"Mereka melarang dan menjauhkan para jamaah dari shalat dan akses ke Masjidil Aqsa demi mencapai tujuan-tujuan jahat yang tertanam di benak penjajah tersebut (semoga Allah melindungi kita darinya), yaitu merobohkan Masjidil Aqsa dan mendirikan Haykal Sulaiman (Solomon's Temple) yang mereka klaim berada di tempat tersebut," ujarnya.


Selain kondisi fisik masjid, Syekh Hussein juga mengabarkan adanya isu gerakan atau narasi ideologis baru seperti isu "Agama Ibrahimiah" (Abrahamic Religion). Menurutnya, konsep tersebut merupakan salah satu propaganda yang dibuat Israel untuk mengaburkan akidah tauhid dan melemahkan hak historis umat Islam.


"Oleh sebab itu, mereka menyerukan antara lain isu 'Agama Ibrahimiah'. Isu agama ini, pada kenyataannya, telah ditanggapi secara tegas oleh Majelis Fatwa Tertinggi di Palestina melalui pernyataan resminya," ucap Syaikh Hussein.


"Hal tersebut merupakan salah satu metode Zionis untuk mencapai tujuan penjajahan atas Masjidil Aqsa, mendirikan sinagoge di dalam kompleks masjid, hingga merusak agama tauhid yang kita anut sebagai umat Islam," lanjutnya.


Syekh Hussein kemudian menyitir sebuah Ayat yang menyatakan bahwa agama Nabi Ibrahim adalah agama hanifiyyah (ajaran yang lurus).


"Al-Qur'an telah menegaskan: Nabi Ibrahim bukanlah seorang Yahudi maupun Nasrani, melainkan seorang yang lurus dan berserah diri (muslim)," paparnya.


​Syekh Hussein lantas menekankan pentingnya sejarah spiritual Masjidil Aqsa yang kedudukannya sangat sentral dalam perjalanan awal syariat Islam. Ia mengingatkan kembali jejak sejarah Al-Aqsa sebagai pusat peribadatan dan titik penting peristiwa agung para nabi. 


​"Masjidil Aqsa adalah kiblat pertama yang dituju oleh Nabi SAW setelah hijrah selama 16 atau 17 bulan, hingga kiblat dipindahkan ke kiblat kedua dan abadi, yaitu Masjidil Haram," ujarnya.


Ia kemudian melanjutkan penjelasannya mengenai keutamaan Al-Aqsa yang menjadi lokasi penghubung peristiwa penting Isra dan Mikraj Rasulullah saw.


​"Masjidil Aqsa juga merupakan tempat persinggahan akhir dari mukjizat Isra dan titik awal peristiwa Mikraj, yaitu perpindahan dari tanah Al-Quds menuju langit yang tinggi," tambahnya.


​Menurut Syekh Hussein, hubungan erat secara historis dan spiritual tersebut dinilainya menjadi alasan utama mengapa setiap Muslim di berbagai penjuru dunia terus menaruh perhatian dan doa bagi keselamatan tempat suci tersebut beserta para penjaganya.


​"Oleh karena itu, keterikatan nyata antara negeri-negeri Muslim yang ditegaskan melalui ikatan akidah dan ibadah ini senantiasa terngiang di benak setiap muslim yang peduli, untuk mendoakan kebaikan, keteguhan, dan perlindungan bagi Masjidil Aqsa, para penjaganya, serta orang-orang yang bersiap siaga di sana," tutur Mufti Agung Palestina tersebut.


​Syekh Hussein lantas mengimbau seluruh elemen masyarakat dan para pemimpin dunia Islam untuk tidak tinggal diam melihat kondisi Al-Aqsa saat ini. 


​"Di saat yang sama, hal ini menuntut seluruh umat Islam baik rakyat maupun para pemimpinnya di timur dan barat bumi untuk bangkit menjalankan kewajiban sesuai dengan kondisi yang mendesak di Masjidil Aqsa," tegasnya.


Terpisah, Syekh Hussein mengapresiasi peran penting ulama dan lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang terus konsisten melahirkan generasi penuntut ilmu. 


"Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Jam'iyyah Nahdlatul Ulama di Indonesia. Saya menyapa para santri dari lembaga pendidikan yang bersejarah ini, yang menampung lebih dari 6.000 santri. Angka ini sejujurnya membuat kita sangat optimis dan mendorong kita untuk mendoakan kebaikan bagi para santri serta pengelola lembaga ini," ujar Syaikh Mohammad A.M. Hussein.


Ia menegaskan bahwa posisi ilmu dan ulama memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam ajaran Al-Qur'an maupun Hadis.


Syekh Hussein berharap forum-forum ilmiah dan silaturahmi antarnegara Islam dapat terus memupuk kepedulian nyata bagi perjuangan rakyat Palestina.


"Semoga diskusi ilmiah ini membawa manfaat bagi kita semua, serta menjadi kontribusi nyata dalam melayani isu-isu umat Islam, yang terdepan dan utamanya adalah isu Palestina. Sekali lagi, terima kasih," pungkasnya.