Dialog IPPNU Jatim bertajuk Buka Suara Gen Z & NU: Mengapa Kita Mulai Berjarak? di Rumah Rekanita IPPNU Jatim, di Tambakrejo, Jombang, Jumat (29/8/2026). (Foto: dok IPPNU Jatim)
Jombang, NU Online
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, menjadi momentum bagi Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Timur untuk memperkuat kedekatan NU dengan generasi Z (Gen Z). Upaya tersebut diwujudkan melalui ruang dialog yang membahas keresahan, kebutuhan, serta pola komunikasi yang relevan bagi generasi muda, Jumat (29/8/2026).
Dialog bertajuk “Buka Suara Gen Z & NU: Mengapa Kita Mulai Berjarak?” tersebut menjadi bagian dari upaya PW IPPNU Jawa Timur menghadirkan ruang komunikasi yang lebih terbuka bagi generasi muda. Kegiatan ini berlangsung di Rumah Rekanita IPPNU Jatim, di Tambakrejo, Jombang, Jumat (29/8/2026).
Ketua PW IPPNU Jawa Timur, Aprilia Nur Azizah mengatakan, kegiatan tersebut dilatarbelakangi keresahan terhadap adanya jarak antara Gen Z dengan NU. Menurutnya, momentum Muktamar ke-35 dapat menjadi kesempatan untuk membuka ruang perjumpaan dan dialog dengan generasi muda.
“Kami ingin membuka ruang dialog agar anak muda bisa menyampaikan pandangan, keresahan, dan kebutuhannya secara terbuka,” ujarnya.
Menurut Aprilia, Gen Z memiliki posisi penting dalam keberlanjutan NU karena merupakan bagian dari generasi penerus organisasi. Karena itu, komunikasi dengan generasi muda perlu dibangun secara berkelanjutan agar mereka tetap merasa dekat dan memiliki NU.
“Gen Z adalah generasi penerus NU. Kalau komunikasi tidak dibangun sejak sekarang, dikhawatirkan semakin banyak anak muda yang merasa NU tidak lagi dekat dengan kehidupan mereka,” jelasnya.
Ia menegaskan, istilah mulai berjarak tidak berarti Gen Z telah meninggalkan NU. Jarak tersebut lebih berkaitan dengan pola komunikasi, cara berpikir, serta bagaimana NU dan organisasi kepelajaran menghadirkan diri di ruang yang dekat dengan kehidupan anak muda.
“Mulai berjarak bukan berarti Gen Z meninggalkan NU sepenuhnya. Tetapi ada jarak dalam komunikasi, cara berpikir, dan cara organisasi menghadirkan diri di ruang yang dekat dengan anak muda,” terangnya.
Aprilia menjelaskan, Gen Z membutuhkan ruang yang lebih terbuka dan relevan dengan kehidupan mereka. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi IPPNU dan NU untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi identitasnya.
Kegiatan yang terbuka bagi pelajar se-Nusantara dan masyarakat umum tersebut diharapkan menjadi ruang perjumpaan antargenerasi. Terlebih, Rumah Rekanita juga menjadi salah satu ruang berkumpul kader IPPNU dari berbagai daerah selama momentum Muktamar ke-35 NU di Pesantren Tambakberas Jombang.
“Yang akan kami bahas adalah bagaimana membangun komunikasi dan menemukan titik temu antara Gen Z dengan NU, termasuk soal organisasi, digitalisasi, budaya, dan kebutuhan anak muda saat ini,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Aprilia menilai NU dan IPPNU perlu hadir di ruang-ruang yang menjadi bagian dari kehidupan Gen Z. Menurutnya, membangun kedekatan dengan generasi muda tidak cukup hanya dengan mengajak mereka mendekat kepada organisasi.
“NU dan IPPNU harus mau mendengar, beradaptasi, dan hadir di ruang-ruang Gen Z. Bukan hanya mengajak Gen Z mendekat, tetapi juga bagaimana NU bisa mendekati mereka dengan cara yang relevan,” tuturnya.
Ia berharap momentum Muktamar ke-35 NU tidak hanya menjadi perhelatan organisasi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat keterlibatan generasi muda. Melalui ruang dialog seperti ini, Gen Z diharapkan semakin berani menyampaikan gagasan sekaligus menemukan kembali kedekatannya dengan NU.
“Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti sebagai diskusi. Anak muda bisa semakin berani bersuara, merasa memiliki NU, dan tetap membawa nilai-nilai ke-NU-an dalam kehidupan mereka,” pungkasnya.