Nasional

Orasi Budaya, Alissa Wahid Soroti Demokrasi, Pembentukan Nilai, dan Budaya Konsumtif

Jumat, 2 Oktober 2026 | 19:30 WIB

Orasi Budaya, Alissa Wahid Soroti Demokrasi, Pembentukan Nilai, dan Budaya Konsumtif

Alissa Wahid dalam orasi budaya di Jogja Art and Books Fest, Yogyakarta, Kamis (1/10/2026). (Foto: dok Gusdurian)

Jakarta, NU Online

Direktur Jaringan Gusdurian Alissa Wahid mengatakan terdapat nilai-nilai negatif di lingkungan masyarakat yang dapat menghambat kemajuan Indonesia. Menurutnya, persoalan tersebut terlihat dalam praktik demokrasi, keadilan, kesetaraan, hingga pola konsumsi masyarakat.


“Di lingkungan masyarakat kita ada nilai-nilai negatif yang menghambat kemajuan kita,” kata Alissa dalam orasi budaya di Jogja Art and Books Fest, Yogyakarta, Kamis (1/10/2026).


Ia menyoroti praktik demokrasi yang dinilainya masih berbelit-belit dan didominasi elite. Alissa mempertanyakan sejauh mana masyarakat benar-benar terlibat dalam menentukan kebijakan dan keputusan politik.


“Demokrasi yang berbelit-belit, dominasi elite. Memangnya kita sekarang ikut menentukan siapa Polri baru? Enggak kan?” ujarnya.


Menurut Alissa, masyarakat memang memiliki keterwakilan secara prosedural melalui lembaga legislatif. Namun, ia mempertanyakan apakah keterwakilan tersebut benar-benar dirasakan oleh masyarakat.


“Secara prosedural kita dianggap ikut menentukan karena yang menentukan Dewan Perwakilan Rakyat. Masalahnya, apakah masyarakat merasa terwakili?” katanya.


Kondisi tersebut, lanjut Alissa, memunculkan pertanyaan mengenai kualitas demokrasi yang berjalan di Indonesia.


“Itu demokrasi ada, tetapi sebuah pertanyaan, demokrasinya semu atau secara substansi kita memang dikadali oleh sistem politik kita,” ujarnya.


Fenomena Warga Memilih ke Luar Negeri

Alissa kemudian menyinggung sejumlah gerakan masyarakat yang muncul pada 2025, seperti Indonesia Gelap dan Pergi Aja Dulu. Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan adanya warga yang memilih mencari kehidupan di luar Indonesia.


“Tahun 2025 banyak gerakan Indonesia Gelap, Pergi Aja Dulu. Warga Indonesia memilih jalan untuk keluar dulu karena enggak semua punya mental seperti orang yang masih bertahan di Indonesia,” katanya.


Ia juga menceritakan sejumlah orang yang dikenalnya, termasuk anak-anak yang sejak kecil tumbuh atau mendapat pendidikan di negara maju. Ketika orang tua mereka kembali ke Indonesia, sebagian anak tersebut justru memilih tetap tinggal di negara tempat mereka dibesarkan.


“Saya punya banyak kenalan, anaknya besar di negara maju karena orang tuanya pendidikan di sana, tapi setelah orangtuanya pulang anaknya memilih untuk tetap di sana,” ujarnya.


Bagi Alissa, fenomena tersebut perlu dilihat dari proses pembentukan budaya dan nilai yang berlangsung di tengah masyarakat. Ia mempertanyakan siapa yang membentuk kondisi ketika keadilan dan kesetaraan masih belum terwujud.


“Kalau melihat budaya yang seperti ini, siapa yang membentuk? Kalau keadilan masih demikian jauh, kesetaraan belum terwujud, ini siapa yang membentuk?” katanya.


Menurutnya, masyarakat perlu menyadari bahwa dalam menjalani kehidupan sehari-hari terdapat proses pembentukan nilai dan cara berpikir yang berlangsung secara terus-menerus.


“Kita selama ini sadar tidak sedang ada pembentukan itu. Apakah kita sadar dalam menjalani sehari-hari kita sedang dibentuk?” ujarnya.


Soroti Budaya Konsumtif

Alissa juga mengaitkan persoalan tersebut dengan krisis lingkungan dan budaya konsumsi masyarakat. Ia merujuk pemikiran Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ mengenai kondisi bumi yang salah satunya dipengaruhi oleh perilaku manusia.


“Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ menyatakan bahwa kondisi planet bumi saat ini karena kita diri kita sendiri. Kita yang serakah, yang membuat konsumsi terus-menerus sehingga ekonomi terus berjalan,” kata Alissa.


Menurutnya, kesejahteraan masyarakat selama ini kerap diukur dari tingkat konsumsi. Padahal, pola konsumsi berlebihan dapat mendorong eksploitasi sumber daya alam.


“Kesejahteraan kita ini dari berapa konsumsi, itu yang disebut sebagai alat ukur,” ujarnya.


Alissa mengatakan Paus Fransiskus telah mengingatkan mengenai dampak eksploitasi sumber daya alam dan keserakahan manusia terhadap lingkungan.


“Paus Fransiskus mengingatkan bahwa over sumber daya alam, keserakahan manusia. Makanya beliau minta kita tobat ekologis,” katanya.