Perjalanan 50 Jam, Ujian Awal Dai Penggerak 3T ke Singkut Jambi
Selasa, 15 September 2026 | 18:30 WIB
Dai Penggerak 3T menaiki kapal yang membawa mereka ke Jambi, akhir Agustus 2026 (NU Online Institute)
Sarolangun, NU Online
Perjalanan menuju lokasi penugasan menjadi ujian pertama bagi Putri Milenia Gusdian sebelum memulai tugasnya sebagai dai di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Singkut, Kabupaten Sarolangun, Jambi.
Bersama rekan dakwahnya,Rif'atus Syamsiyah, Putri berangkat dari Terminal Bawen, Semarang, pada 19 Agustus 2026 sekitar pukul 19.00 WIB. Mereka menempuh perjalanan menggunakan bus dan kapal menuju lokasi penugasan.
"Semula, perjalanan diperkirakan berlangsung sekitar 24 jam. Namun, kenyataannya mereka harus menempuh perjalanan jauh lebih lama. Secara keseluruhan, perjalanan menuju Singkut memakan waktu lebih dari 50 jam," tutur Putri kepada NU Online, Senin (14/9/2026).
Memang, bagi Putri, perjalanan darat sejauh itu bukan pengalaman yang sepenuhnya baru. Sebelumnya, ia pernah menggunakan bus dan kapal untuk perjalanan mudik Lebaran. Namun, perjalanan kali ini terasa berbeda karena menjadi bagian dari langkah awalnya menjalankan tugas dakwah di daerah penempatan.
"Sejujurnya, saya merasa kapok melakukan perjalanan darat sejauh ini karena cukup melelahkan dan memiliki banyak risiko," kata Putri.
Perjalanan panjang itu semakin menguji kesiapan dirinya ketika pada malam pertama, tablet miliknya hilang setelah bus berhenti untuk makan. Kehilangan tersebut membuat Putri sempat mempertanyakan kembali keputusannya untuk menjalani penugasan sebagai dai. Ia berangkat dengan berbagai bayangan tentang apa yang akan dilakukan di lokasi dakwah. Namun, sebelum tiba di tempat tujuan, ia sudah berhadapan dengan keadaan yang tidak diharapkan.
Ia pun bertanya kepada dirinya sendiri apakah tetap ingin melanjutkan perjalanan ketika kenyataan yang dihadapi tidak seperti yang dibayangkan. Namun kemudian, Putri menyadari bahwa kehilangan itu menjadi bagian dari proses belajar. Menjadi dai, menurutnya, tidak hanya membutuhkan kesiapan untuk menyampaikan ilmu atau menjalankan program dakwah.
Ada kesediaan untuk tetap hadir ketika perjalanan terasa melelahkan, keadaan tidak nyaman, bahkan ketika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
"Kehilangan tablet tersebut akhirnya menjadi salah satu pengingat bagi saya bahwa perjalanan ini sejak awal bukan semata-mata tentang tempat yang akan saya datangi, tetapi juga tentang niat dan kesiapan diri untuk menjalani apa pun yang ditemui di dalamnya," ujarnya.
Tiba di Kampung Santri
Setelah menempuh perjalanan lebih dari dua hari, Putri dan Rifa akhirnya tiba di Singkut. Keduanya disambut perwakilan asatiz dari pondok tujuan, perwakilan santri, serta dai senior yang telah lebih dahulu berada di wilayah masyarakat Suku Anak Dalam (SAD).
Setelah tiba di Pondok Pesantren Nurul Jadid, keduanya juga disambut Gus Fahrur, putra Abah Imam selaku pemilik pesantren.
Putri tidak langsung menarik kesimpulan tentang kondisi tempat penugasannya. Setelah perjalanan panjang, ia memilih mengamati lingkungan, mengenali karakter santri dan masyarakat, serta memahami pola kehidupan di tempat tersebut.
Ia dan Rifa kemudian ditempatkan di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Selama bertugas, keduanya tinggal di kamar ndalem bersama para mbak-mbak ndalem. Lingkungan sekitar pondok ternyata memiliki karakter yang berbeda dari bayangan tentang daerah 3T yang selama ini kerap identik dengan persoalan akses geografis.
"Akses dari pondok menuju masyarakat relatif mudah. Jalan yang ditempuh hampir seluruhnya lurus dan medan tidak terlalu sulit. Pasar terdekat berjarak sekitar tiga kilometer dari pondok," kata Putri.
Wilayah sekitar pondok bahkan dikenal masyarakat setempat sebagai "Kampung Santri". Sejumlah lembaga pendidikan pesantren berdiri di kawasan tersebut. Tepat di sebelah Pondok Pesantren Nurul Jadid terdapat Pondok Modern Syifaurrahmah.
Nurul Jadid sendiri memiliki karakter yang lebih sederhana dan cenderung salafiyyah. Sementara Syifaurrahmah memiliki corak pendidikan yang berbeda.
Keberadaan dua pesantren dengan karakter berbeda dalam satu kawasan menjadi hal menarik untuk diamati. "Begitu pula dengan masyarakat sekitar yang dinilainya sudah cukup aktif dalam berbagai kegiatan pengajian dan aktivitas keagamaan," ungkapnya.
Kondisi tersebut membuatnya melihat bahwa medan dakwah di Singkut tidak selalu berkaitan dengan persoalan keterjangkauan geografis. Tantangannya justru terletak pada bagaimana membaca kebutuhan dakwah di lingkungan yang aktivitas keagamaannya sudah berjalan.
Dakwah dari Hal-Hal Sehari-hari
Setelah mulai menjalankan tugas, Putri dan Rifa menemukan tantangan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari santri.
Komunikasi, kebersihan, ketertiban mengikuti pendidikan umum dan diniyah, serta kedisiplinan menjalankan salat berjamaah menjadi sejumlah hal yang mereka perhatikan.
Di lingkungan pondok, Putri menemukan persoalan kebersihan yang menurutnya berkaitan erat dengan pembiasaan santri. Ia beberapa kali menjumpai ludah santri, muntahan, kotoran kucing, serta sampah dan kotoran lain di area yang seharusnya dijaga kebersihannya, termasuk di sekitar masjid.
"Persoalan serupa juga terlihat dalam pengelolaan sampah. Tempat pembuangan sampah berada di sekitar area kelas dan belum menggunakan wadah yang memadai maupun sistem pemilahan. Sampah pun masih ditemukan berserakan," lanjutnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dakwah tidak selalu harus dimulai dari persoalan besar. Nilai-nilai keagamaan yang telah diajarkan perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Kebersihan, kedisiplinan, keteraturan mengikuti pendidikan, hingga salat berjamaah menjadi bagian dari proses tersebut.
"Persoalannya bukan hanya bagaimana memberikan nasihat, tetapi bagaimana nilai yang diajarkan dapat menjadi kebiasaan yang hidup dalam keseharian santri," katanya.
Dari perjalanan lebih dari 50 jam hingga menghadapi berbagai persoalan keseharian di pesantren, Putri perlahan menemukan bahwa tugas dakwah yang dijalaninya tidak berhenti ketika sampai di lokasi.
Perjalanan panjang itu justru menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa dakwah membutuhkan kesediaan untuk tinggal, melihat, mendengar, dan kemudian ikut mendampingi.
"Dakwah bukan sekadar datang membawa materi, tetapi hadir bersama santri dalam kehidupan mereka sehari-hari," cerita Putri.
Catatan Redaksi: Program Dai Penggerak 3T merupakan wujud nyata khidmat jamiyah Nahdlatul Ulama untuk menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah ke pulau-pulau terluar Indonesia.
Program ini didukung oleh dana infak atau donasi yang dihimpun melalui NU Online Super App. Bagi masyarakat yang ingin turut berkontribusi, silakan klik https://filantropi.nu.or.id/galang-dana/mari-hadirkan-dai-penggerak-di-pelosok-nusantara.