Nasional

Pesan Perpisahan di Media Sosial Jadi Alarm, LKNU: Jangan Hadapi Krisis Mental Sendirian

Senin, 7 September 2026 | 14:00 WIB

Pesan Perpisahan di Media Sosial Jadi Alarm, LKNU: Jangan Hadapi Krisis Mental Sendirian

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

Jakarta, NU Online

Pesan bernada perpisahan di media sosial tidak semestinya dipandang sekadar sebagai unggahan biasa. Ketika seseorang mulai menulis tentang keputusasaan, menggambarkan hidup dalam kondisi gelap, atau menyampaikan pesan seolah-olah menjadi ucapan terakhir, publik perlu melihatnya sebagai tanda yang membutuhkan perhatian serius.


Hal itu mengemuka setelah sebuah unggahan di media sosial X dari akun @Steve_ADF menjadi perhatian. Pemilik akun menuliskan pesan bernada perpisahan dan mengungkapkan dirinya tengah menghadapi krisis mental. Dalam unggahan tersebut, ia juga menyampaikan terima kasih kepada sejumlah orang yang disebut telah memberikan dukungan selama dirinya berada dalam kondisi sulit.


Kasus tersebut memperlihatkan bahwa krisis mental dapat muncul di tengah kehidupan anak muda dan kelompok usia produktif. Sekretaris Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LKNU) dr Citra Fitri Agustina mengingatkan bahwa persoalan bunuh diri bukan isu yang bisa dianggap sepele.


“Angka kejadian bunuh diri itu di dunia itu makin banyak, kalau dari data WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) itu ada sekitar 700 ribu kasus di tingkat dunia, dan biasanya sebelumnya sudah didahului dengan percobaan-percobaan yang gagal,” ujarnya kepada NU Online pada Ahad (6/9/2026) malam.


Citra mengungkapkan bahwa Indonesia menghadapi persoalan serupa, terutama pada kelompok usia produktif.


“Di Indonesia itu datanya memang banyak di kelompok usia produktif, 30-59 tahun. Kasus yang tadi, yang bersangkutan kira-kira usia di 30 tahun ya. Kelompok Remaja juga ada masalah, juga ada kerentanan,” tuturnya.


Menurutnya, tekanan sosioekonomi maupun perasaan menanggung beban yang terlalu berat dapat menjadi faktor yang mendorong seseorang mengakhiri hidup. Karena itu, lingkungan terdekat perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku.


“Memang biasanya kalau orang-orang mau mengakhiri hidup ini, sudah mulai ada tanda. Misalnya pada remaja mungkin ada tulisan-tulisan di media sosial, atau gambar-gambar, atau konten-konten yang kayanya putus asa,” ujarnya.


Untuk mencegah tindakan bunuh diri, Citra menekankan pentingnya membangun ketahanan mental. Seseorang perlu belajar menghadapi tekanan dan menerima bahwa tidak semua keadaan berjalan sesuai rencana.


Saat kepanikan meningkat, ia menyarankan latihan pernapasan. “Tarik nafas kira-kira empat detik, menahan dulu, jadi kita merasakan paru-paru terisi udara ya, habis itu baru kita keluarkan, terus kita tahan lagi, kita tarik nafas lagi, ya mungkin itu bisa menenangkan atau merendahkan ketegangan kita kayak tadi,” jelasnya.


Langkah berikutnya adalah membangun jaringan pertolongan. “Membuka kontak-kontak darurat, atau minimal kita bisa berbagi, bercerita sama orang-orang yang kita percaya,” ujar Psikiater Rumah Sakit Yarsi itu.


Citra juga mengingatkan anak muda agar tidak mengabaikan tidur, pola makan, dan kesehatan fisik. Jika tekanan semakin berat, akses terhadap psikolog, psikiater, atau dokter perlu dilakukan dengan keterbukaan.


“Ketiga, berkegiatan, berkomunitas karena kalau kita punya teman, kita akhirnya punya cerita,” katanya.


Ia menegaskan, membangun relasi sosial bukan berarti setiap orang harus menjadi ekstrovert. “Saya tidak berharap semua orang harus extrovert, tidak. Mau se-introvertnya orang, pastipunya teman kok,” tegasnya.


Citra mengingatkan pentingnya menyadari bahwa seseorang tidak menjalani kehidupan seorang diri.


Ia menambahkan, perhatian kecil dari orang lain dapat menjadi pengingat bahwa seseorang masih memiliki hubungan dengan lingkungan sekitarnya.


“Jangan lupa bersyukur di segala apapun pencapaian kita kecil, kecilnya, atau apapun pemberian dari orang, itu juga kita syukuri. Jadi kita jangan pernah berpikir bahwa kita itu hidup sendiri,” pungkasnya.