Nasional

Sambut Muktamar ke-35 NU, MA IPNU Gelar Diskusi Panel Undang Bakal Calon Ketum PBNU

Jumat, 7 Agustus 2026 | 20:30 WIB

Sambut Muktamar ke-35 NU, MA IPNU Gelar Diskusi Panel Undang Bakal Calon Ketum PBNU

Silatnas MA IPNU dan Diskusi Panel bakal calon ketua umum PBNU di Jakarta, Jumat (7/8/2026). (Foto: Birrul)

Jakarta, NU Online

 

Presidium Pusat Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU) menggelar Silaturahmi Nasional (Silatnas) 2026 di Hotel The Grove Suites by Grand Aston, Jakarta Selatan pada Jumat (7/8/2026).

 

Salah satu agenda utama forum tersebut adalah diskusi panel yang menghadirkan 11 tokoh yang masuk dalam bursa bakal calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 NU.

 

Diskusi panel mengusung tema “Kepemimpinan NU yang Adaptif terhadap Perubahan Sosial: Revitalisasi Spirit Al-Muhafadhah ‘ala al-Qadim al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah.”

 

Forum tersebut menjadi ruang bagi para tokoh untuk menyampaikan visi strategis dan gagasan mengenai arah kepemimpinan NU dalam memasuki abad kedua.

 

Tokoh yang hadir dalam diskusi panel tersebut yakni KH Nasaruddin Umar, KH Zulfa Mustofa, KH Yusuf Chudlori, KH Abdul Ghaffar Rozin, KH Abdussalam Shochib, KH Masykuri Abdillah, Hery Haryanto Azumi, KH Ali Masykur Musa, dan KH Marsudi Syuhud..

 

Ketua Presidium Pusat MA IPNU Prof H M Asrorun Ni’am Sholeh mengatakan, seluruh nama yang muncul di publik sebagai bakal calon pimpinan PBNU menunjukkan komitmen untuk berdiskusi bersama alumni IPNU.

 

“Alhamdulillah, 11 nama yang muncul di publik, baik yang sudah keliling bersilaturahmi maupun yang mendatangi langsung pengurus cabang, semuanya berkomitmen untuk hadir dan berdiskusi,” tuturnya.

 

Ni’am mengatakan, sebagian tokoh hadir secara langsung dalam forum tersebut, sementara lainnya mengikuti diskusi secara daring. Di antaranya KH Marsudi Syuhud dan Hery Haryanto Azumi yang hadir langsung, serta KH Abdul Ghaffar Rozin yang bergabung melalui Zoom karena sedang berada di luar kota.

 

Menurutnya, Muktamar ke-35 NU tidak semestinya hanya dipandang sebagai ajang kontestasi figur. Lebih dari itu, Muktamar menjadi momentum untuk mempertemukan dan menguji gagasan mengenai masa depan NU.

 

“Muktamar bukan sekadar soal kandidasi, tapi kontribusi pemikiran dan ide bagi NU abad kedua. Jika kita ingin melihat NU Abad Kedua gemilang, itu berada di tangan kesiapan kader-kader muda hari ini,” tegasnya.

 

Sementara itu, Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar ke-35 NU Prof Mohammad Nuh mengapresiasi inisiatif MA IPNU yang menghimpun para tokoh yang masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU dalam satu forum.

 

Prof Nuh mengingatkan seluruh pihak agar menjaga keutuhan dan marwah organisasi di tengah dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU.

 

“Muktamar ke-35 ini adalah muktamar pertama di tahun yang pas memasuki abad kedua NU. Kompetisi harus disikapi dengan adem dan sejuk. Pastikan ‘harga muktamar’ dan marwah organisasi jauh lebih mahal daripada harga orang per orang atau kepentingan calon,” imbaunya.