Siswa SMPN 92 Jakarta Diduga Bunuh Diri, KPAI Soroti Ketahanan Mental Anak
Kamis, 1 Oktober 2026 | 17:00 WIB
Jakarta, NU Online
Seorang siswa kelas 9 SMP Negeri 92 Jakarta berinisial FS ditemukan meninggal dunia di pinggir Kali Poncol Atas, Pulogadung, Jakarta Timur, DKI Jakarta, Selasa (29/9/2026). Peristiwa tersebut mendapat perhatian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), terutama terkait pentingnya deteksi perubahan perilaku dan penguatan ketahanan mental anak.
Ketua KPAI Aris Adi Leksono menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa atas kejadian tersebut. Ia menilai perubahan perilaku anak perlu menjadi perhatian orang-orang terdekat maupun pihak sekolah agar persoalan yang dihadapi anak dapat diketahui dan ditangani lebih dini.
“Kami cukup prihatin dan turut belasungkawa atas kejadian tersebut. Ini satu hal yang menunjukkan bahwa kelengahan dalam deteksi perubahan perilaku anak bisa berakibat fatal hingga anak mengakhiri hidup,” ujarnya kepada NU Online, Kamis (1/10/2026).
“Apalagi problem ekonomi mestinya bisa diantisipasi oleh orang-orang terdekatnya, oleh pihak sekolah, sehingga bisa dibantu bagaimana kemudian masalah ekonominya bisa diatasi,” lanjutnya.
Menurut Aris, kejadian tersebut juga menunjukkan masih besarnya pekerjaan rumah terkait situasi mental dan ketahanan anak usia SMP.
“Kejadian ini juga membuktikan bahwa ada PR yang besar menyangkut situasi mental anak-anak kita, situasi pencapaian resiliensi atau ketahanan anak-anak kita di usia SMP dan berbagai kompleksitas tantangannya,” ucapnya.
Aris menyampaikan bahwa anak-anak menghadapi berbagai kompleksitas, termasuk pengaruh digital dan pergaulan, yang dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam mengendalikan diri dan emosi.
“Pengaruh digital, pengaruh pergaulan, itu yang kemudian membuat mereka tidak kemudian tumbuh resiliensi dan tidak memiliki self-control untuk memilah mana yang baik, mana yang buruk. Cenderung tidak mampu mengontrol emosionalnya, emosionalnya tidak stabil,” katanya.
Ia menekankan pentingnya dukungan dari lingkungan sekitar anak, termasuk perhatian, empati, dan kepekaan terhadap perubahan perilaku.
“Dalam situasi seperti ini sebenarnya support buat anak jadi penting. Perhatian, empati dari orang-orang di sekitarnya, kepedulian melihat perubahan perilakunya ini jadi sangat penting untuk kemudian mengantisipasi hal yang fatal semacam itu,” ujarnya.
Polisi Lakukan Pemeriksaan
Sementara itu, Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polres Metro Jakarta Timur I Made Budi mengatakan FS diduga mengakhiri hidupnya.
Setelah menghubungi pihak sekolah, Kepala SMPN 92 Jakarta membenarkan bahwa FS merupakan siswa kelas 9. Pada hari kejadian, korban diketahui tidak mengikuti ujian.
“Korban adalah siswa SMPN 92 kelas 9 yang pada hari ini tidak mengikuti ujian. Di lokasi kejadian di pinggir kali, posisi korban sudah tidak bernyawa,” kata Budi.
Polisi menemukan sejumlah barang di sekitar lokasi kejadian, termasuk tas dan selembar tulisan yang ditujukan kepada kedua orang tua serta teman-temannya. Berdasarkan pemeriksaan awal, polisi menyebut tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
“Terdapat selembar tulisan yang pesan tersebut ditujukan kepada kedua orang tua, dan kepada teman-temannya, dan satu buah pisau dan tidak didapati luka akibat kekerasan,” pungkasnya.