Nikah/Keluarga

Memarahi Istri di Depan Anak: Kesalahan yang Sering Tidak Disadari Orang Tua

Ahad, 4 Januari 2026 | 17:16 WIB

Memarahi Istri di Depan Anak: Kesalahan yang Sering Tidak Disadari Orang Tua

Memarahi Istri di Depan Anak (freepik)

Rumah tangga seringkali diibaratkan sebagai madrasah pertama bagi anak. Di sana, ayah ibarat kepala sekolahnya dan ibu adalah guru utamanya. Namun, apa jadinya jika sang kepala sekolah justru meruntuhkan wibawa sang guru tepat di hadapan murid-muridnya?ย 

 

Fenomena suami yang menghukum, membentak, atau merendahkan istri di depan anak bukanlah sekadar bumbu rumah tangga, melainkan sebuah kesalahan pendidikan yang dampaknya bisa merusak fondasi mental anak hingga dewasa.

 

Dalam Islam, suami berhak menegur istri, begitu pula sebaliknya, istri berhak menegur suami. Namun, yang penting adalah cara dan tempat teguran itu diberikan. Teguran bisa menjadi ibadah jika disampaikan dengan bijak, tapi bisa berdampak buruk jika dilakukan sembarangan, apalagi di depan anak.

 

Oleh karena itu, peneguran sebaiknya tidak dilakukan di hadapan anak. Dengan begitu, di mata anak, ayah tetap terlihat sebagai pelindung, dan ibu tetap menjadi sumber kasih sayang yang tulus dan tak ternoda.

 

Lebih jauh lagi, dalam laman Hallo.doc, dari sisi psikologis, perilaku kekerasan atau pertengkaran yang terjadi di depan anak bisa menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain:

 

Pertama, ย memicu stres. ย Menurut penelitian, pertengkaran orang tua yang disaksikan oleh anak bisa menyebabkan peningkatan produksi hormon stres. Akibatnya, proses belajar dan perkembangannya di sekolah bisa terganggu, bahkan dapat menimbulkan berbagai gejala fisik, seperti sakit kepala dan sakit perut.

 

Kedua, merasa cemas dan berisiko depresi. Melihat kedua orang tuanya sering 8bertengkar bisa membuat anak lebih mudah cemas, bahkan depresi. Ini berkaitan dengan pikiran negatif yang berkembang di dalam pikiran anak dan kekhawatirannya apabila pertengkaran ini akan berujung pada perceraian kedua orang tuanya.

 

Ketiga, menjadi lebih nakal. Anak bisa merasa kurang diperhatikan kalau orang tua hanya sibuk dengan konflik rumah tangganya. Alhasil, anak akan mencari perhatian dengan caranya sendiri, misalnya dengan melakukan kenakalan di rumah atau mencari keributan dengan teman-temannya di sekolah.

 

Keempat, tak kalah penting, merasa sulit bersosialisasi dengan orang lain. Anak-anak yang sering menyaksikan orang tuanya bertengkar cenderung kesulitan menjalin hubungan dengan orang lain. Ia bisa saja merasa malu jika teman-temannya tahu bahwa kedua orang tuanya sering bertengkar. Akhirnya, anak akan sulit berteman.


Kewajiban Orang Tua Mendidik Anak dengan Kasih Sayang


Dalam pandangan Islam, anak adalah amanah dari Allah swt. Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mendidiknya dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, menegur dengan keras, bahkan memukul istri di depan anak adalah perbuatan yang bertentangan dengan syariat.ย 

 

Dalam hadits dijelaskan, ada dua kewajiban utama orang tua terhadap anak sebagai bentuk tanggung jawab awal, pertama memberikan nama yang baik. Kedua memberikan pendidikan karakter atau adab. Rasulullah saw bersabda:ย 

 

โ€‹ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุณูŽุนููŠุฏู ูˆูŽุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ู‚ูŽุงู„ูŽุง: ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู - ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ -: ยซู…ูŽู†ู’ ูˆูู„ูุฏูŽ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽุฏูŒุŒ ููŽู„ู’ูŠูุญู’ุณูู†ู ุงุณู’ู…ูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽุฏูŽุจูŽู‡ูยป

 

Artinya โ€œDari Abu Sa'id (al-Khudri) dan Ibnu Abbas, mereka berdua berkata: Rasulullah SAW bersabda: 'Barangsiapa yang dikaruniai seorang anak, maka hendaklah ia membaguskan namanya dan membaguskan adabnya (pendidikan karakternya).โ€™โ€ (HR. Al-Baihaqi)

 

Dalam kajian ilmu fikih, hukum mendidik anak adalah wajib. Sebagaimana disampaikan oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami:ย 

 

(ูŠูุคูŽุฏู‘ูุจูู‡ู) ูˆูุฌููˆุจู‹ุง ุจูุชูŽุนู’ู„ููŠู…ูู‡ู ุทูŽู‡ูŽุงุฑูŽุฉูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽูู’ุณู ู…ูู†ู’ ูƒูู„ู‘ู ุฑูŽุฐููŠู„ูŽุฉู ูˆูŽุชูŽุญูู„ู‘ููŠู‡ูŽุง ุจููƒูู„ู‘ู ู…ูŽุญู’ู…ููˆุฏูย 

 

Artinya โ€œ(Orang tua) wajib mendidiknya (anak) dengan cara mengajarkan penyucian jiwa dari setiap sifat tercela (keji) dan menghiasinya dengan setiap sifat yang terpuji.โ€ (Ibnu Hajar,ย Tuhfatul Muhtaj, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2016] juz VIII, halaman 526)

 

Imam Al-Ghazali memberikan penjelasan mengenai dampak buruk secara psikologis bagi anak jika melihat tindakan kekerasan. Jika anak melihat ayahnya mencaci atau melontarkan kata kasar kepada ibunya, maka anak akan "tertular" perilaku tersebut. Melindungi anak bukan hanya dari teman yang buruk di luar rumah, tapi juga di dalam rumah.

 

โ€‹ูˆูŽูŠูู…ู’ู†ูŽุนู ู…ูู†ู’ ู„ูŽุบู’ูˆู ุงู„ู’ูƒูŽู„ูŽุงู…ู ูˆูŽููุญู’ุดูู‡ูุŒ ูˆูŽู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽุนู’ู†ู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽุจู‘ูุŒ ูˆูŽู…ูู†ู’ ู…ูุฎูŽุงู„ูŽุทูŽุฉู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุฌู’ุฑููŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ู„ูุณูŽุงู†ูู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽุ› ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูŠูŽุณู’ุฑููŠ ู„ูŽุง ู…ูŽุญูŽุงู„ูŽุฉูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู‚ูุฑูŽู†ูŽุงุกู ุงู„ุณู‘ููˆุกู. ูˆูŽุฃูŽุตู’ู„ู ุชูŽุฃู’ุฏููŠุจู ุงู„ุตู‘ูุจู’ูŠูŽุงู†ู ุงู„ู’ุญููู’ุธู ู…ูู†ู’ ู‚ูุฑูŽู†ูŽุงุกู ุงู„ุณู‘ููˆุกู.

 

Artinya โ€œDan (anak) harus dicegah dari perkataan yang sia-sia dan perkataan kotor, dari melaknat serta mencaci maki, dan (dicegah) dari bergaul dengan orang yang biasa mengucapkan hal-hal tersebut. Sebab, hal itu (perkataan buruk) niscaya akan menular dari teman-teman yang buruk.

 

Adapun fondasi utama dalam mendidik anak-anak adalah menjaganya dari teman-teman yang buruk.โ€ (Imam Ghazali,ย Ihyaโ€™ Ulumiddin, [Semarang: karya thaha putra, t.th] juz III, halaman 71)ย 

 

Al-Ghazali juga menjelaskan, dalam psikologi Islam, karakter anak secara otomatis "mencuri" atau menyerap energi, sikap, dan cara bicara orang lain, termasuk kedua orang tuanya tanpa disadari.

 

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฎู’ู„ูŽุงู‚ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉูŽ ุชูŽุงุฑูŽุฉู‹ ุชูŽูƒููˆู†ู ุจูุงู„ุทู‘ูŽุจู’ุนู ูˆูŽุงู„ู’ููุทู’ุฑูŽุฉู ูˆูŽุชูŽุงุฑูŽุฉู‹ ุชูŽูƒููˆู†ู ุจูุงุนู’ุชููŠูŽุงุฏู ุงู„ู’ุฃูŽูู’ุนูŽุงู„ู ุงู„ู’ุฌูŽู…ููŠู„ูŽุฉู ูˆูŽุชูŽุงุฑูŽุฉู‹ ุจูู…ูุดูŽุงู‡ูŽุฏูŽุฉู ุฃูŽุฑู’ุจูŽุงุจู ุงู„ู’ููุนูŽุงู„ู ุงู„ู’ุฌูŽู…ููŠู„ูŽุฉู ูˆูŽู…ูุตูŽุงุญูŽุจูŽุชูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู‡ูู…ู’ ู‚ูุฑูŽู†ูŽุงุกู ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ูˆุฅุฎูˆุงู† ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุญู ุฅูุฐู ุงู„ุทู‘ูŽุจู’ุนู ูŠูŽุณู’ุฑูู‚ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุทู‘ูŽุจู’ุนู ุงู„ุดู‘ูŽุฑู‘ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง

 

Artinya โ€œSesungguhnya akhlak yang baik itu terkadang terbentuk melalui watak asli dan fitrah (pembawaan lahir), terkadang melalui pembiasaan terhadap perbuatan-perbuatan yang baik, dan terkadang dengan cara menyaksikan (melihat) orang-orang yang memiliki perbuatan baik serta bersahabat dengan mereka, yang mana mereka adalah teman-teman yang baik dan saudara-saudara yang saleh.

 

Hal itu dikarenakan watak seseorang itu dapat 'mencuri' (menular) dari watak orang lain, baik dalam keburukan maupun kebaikan sekaligus.โ€ (Ihyaโ€™ Ulumiddin, juz III, halaman 60)ย 

 

Dengan demikian, menegur istri dengan pukulan dan kata-kata kasar di depan anak, merupakan sikap yang salah. Hal ini, tanpa disadari, dapat berdampak buruk pada psikis dan perkembangan anak.ย 

 

Semoga Allah swt selalu melindungi dan menuntun kita dalam menjaga akhlak, terutama saat di depan anak. Wallahu aโ€™lam.ย 

---------------
Muhammad Zainul Millah. Wakil Katib PCNU Kab. Blitar.