Kultum Ramadhan: Amal Paling Utama, Cinta dan Benci karena Allah
Sabtu, 7 Maret 2026 | 16:09 WIB
Seringkali kita mencintai seseorang karena fisik, harta, atau jasa mereka kepada kita. Kita pun membenci seseorang karena mereka menyakiti perasaan atau kepentingan pribadi kita. Namun, dalam Islam, ada standar yang lebih tinggi dari sekadar perasaan manusiawi, yaitu mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.
Dalam hadits, Rasulullah saw menegaskan bahwa:
أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ الْحُبُّ فِي اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِي اللَّهِ
Artinya “Amal yang paling utama adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Mengapa urusan hati ini dianggap sangat penting dan disebut sebagai amal yang paling utama? Syekh Muhammad Abdurrauf Al-Munawi menjelaskan bahwa cinta salah sasaran bisa berujung pada syirik khafi atau syirik tersembunyi.
Jika kita mendukung seseorang yang jelas-jelas zalim hanya karena kita menyukainya, atau kita membenci kebenaran hanya karena dibawa oleh orang yang kita benci, maka saat itu hati kita sedang menghamba pada hawa nafsu, bukan kepada Allah.
اَلشِّرْكُ أَخْفَى فِي أُمَّتِي مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ عَلَى الصَّفَا فِي اللَّيْلَةِ الظَّلْمَاءِ وَأَدْنَاهُ أَنْ تُحِبَّ عَلَى شَيْءٍ مِنَ الْجَوْرِ أَوْ تُبْغِضَ عَلَى شَيْءٍ مِنَ الْعَدْلِ، وَهَلِ الدِّينُ إِلَّا الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
Artinya “Syirik itu lebih tersembunyi di tengah umatku daripada rayapan semut di atas batu hitam pada malam yang gelap gulita. Sekecil-kecilnya syirik adalah engkau mencintai sesuatu yang mengandung kezaliman atau engkau membenci sesuatu yang mengandung keadilan. Bukankah agama itu tidak lain hanyalah cinta karena Allah dan benci karena Allah?”
Dalam syarahnya, Imam Al-Munawi menjelaskan bahwa agama Islam itu tidak lain hanyalah prinsip cinta dan benci karena Allah. Karena hati itu harus bergantung kepada sesuatu yang dicintai.
Maka, barangsiapa yang bukan Allah semata yang menjadi kekasih dan sembahannya, niscaya hatinya akan menghamba kepada selain-Nya. Dan itulah yang disebut syirik yang nyata. Oleh karena itulah, cinta karena Allah adalah hakikat dari agama itu sendiri. (Imam Munawi, Faidhul Qadir, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2018] juz IV, halaman 223)
Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah salah satu ulama besar yang terkenal sebagai pimpinan para kekasih Allah. Beliau mengingatkan kita bahwa standar cinta dan benci seorang Muslim seharusnya jelas dan objektif: bukan karena suka atau tidak suka secara pribadi, tapi karena seseorang taat atau bermaksiat kepada Allah.
Lebih dari itu, Syekh Abdul Qadir menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai panduan. Dengan meneladani ajaran suci ini, kita bisa menilai orang lain secara adil dan bijaksana, cinta pada kebaikan, dan menjauh dari keburukan, tanpa terpengaruh emosi semata.
إِيَّاكُمْ أَنْ تُحِبُّوا أَحَدًا أَوْ تَكْرَهُوهُ إِلَّا بَعْدَ عَرْضِ أَفْعَالِهِ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، كَيْ لَا تُحِبُّوهُ بِالْهَوَى وَتُبْغِضُوهُ بِالْهَوَى
Artinya “Janganlah sekali-kali kalian mencintai seseorang atau membencinya, kecuali setelah kalian menyandarkan (menilai) perbuatan-perbuatannya kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah; agar kalian tidak mencintainya karena hawa nafsu dan tidak pula membencinya karena hawa nafsu.” (Abul Huda Muhammad bin Hasan As-Shayadi, Qiladatul Jawahir [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2014] halaman 464).
Imam Al-Ghazali memberikan rumus untuk menguji hati kita. Tanyakan pada diri sendiri, andai tidak karena iman kepada Allah, apakah saya akan tetap mencintai orang ini? Jika jawabannya tidak, berarti cinta kita murni karena Allah.
Begitu juga jika rasa cinta kita kepada seseorang bertambah seiring dengan bertambahnya ketaatan orang tersebut kepada Allah, maka tambahan rasa cinta itu adalah bukti cinta karena Allah.
وَحَدُّهُ هُوَ أَنَّ كُلَّ حُبٍّ لَوْلَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ لَمْ يُتَصَوَّرْ وُجُودُهُ فَهُوَ حُبٌّ فِي اللَّهِ، وَكَذَلِكَ كُلُّ زِيَادَةٍ فِي الْحُبِّ لَوْلَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ لَمْ تَكُنْ تِلْكَ الزِّيَادَةُ فَتِلْكَ الزِّيَادَةُ مِنَ الْحُبِّ فِي اللَّهِ، فَذَلِكَ وَإِنْ دَقَّ فَهُوَ عَزِيزٌ.
Artinya “Batasan (definisi) cinta karena Allah adalah: setiap cinta yang sekiranya tanpa adanya iman kepada Allah dan hari akhir niscaya keberadaan cinta itu tidak akan ada, maka itulah yang disebut cinta karena Allah.
Demikian pula setiap pertambahan rasa cinta yang sekiranya tanpa adanya iman kepada Allah niscaya pertambahan itu tidak akan terjadi, maka pertambahan cinta tersebut termasuk cinta karena Allah. Hal yang demikian itu, meskipun nampaknya halus, namun ia sangatlah mulia dan langka.” (Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin [Semarang: Karya Thaha Putra, t.th] juz II, halaman 162).
Lantas apa tolak ukurnya? Banyak orang mengaku mencintai sesamanya karena Allah, namun benarkah demikian? Imam Yahya bin Mu'adz memberikan rumusan yang sangat dalam sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani:
قَالَ يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ: حَقِيقَةُ الْحُبِّ فِي اللهِ أَلَّا يَزِيدَ بِالْبِرِّ وَلَا يَنْقُصَ بِالْجَفَاءِ
Artinya “Hakikat cinta karena Allah adalah: Cinta itu tidak bertambah karena orang tersebut berbuat baik kepada kita, dan tidak berkurang karena dia bersikap kasar kepada kita.” (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, [Beirut: Darul Ma’rifah, t.th] juz I, halaman 62).
Artinya, jika kita menyukai seseorang hanya saat dia royal dan membencinya saat dia tidak memberi dan berbuat kasar, maka itu adalah cinta karena dunia, bukan karena Allah.
Mulla Ali al-Qari dalam Mirqat al-Mafatih (Beirut: Darul Fikr, 2016) juz I, halaman 198, menjelaskan bahwa cinta dan benci karena Allah adalah amal batin yang menjadi jalan menuju hakikat makrifat.
Mengapa? Karena cinta adalah pengikat hati. Jika hati sudah terikat kepada Allah, maka seluruh anggota tubuh akan mengikuti (taat). Itulah mengapa disebutkan bahwa cinta dan benci karena Allah adalah “Tali iman yang paling kuat.”
Demikian pula dengan membenci karena Allah (al-bughdu fillah). Membeci karena Allah bukan berarti menyimpan dendam dan permusuhan, melainkan membenci demi kebaikan agama orang lain.
Imam Al-Khadimi dalam Bariqah Mahmudiyyah (Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2011) juz III, halaman 194, menjelaskan bahwa jika kita menjauhi seseorang karena urusan dunia lebih dari tiga hari, itu terlarang. Namun, jika menjauhi karena kemaksiatan, untuk pendidikan, atau karena urusan akhirat, maka hal itu diperbolehkan bahkan dianjurkan sebagai bentuk penjagaan iman.
Maka, mari kita periksa lingkaran pertemanan kita. Apakah kita mencintai sahabat kita karena Allah karena ketaatannya, ataukah hanya karena keuntungan duniawi?
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang saling mencintai karena-Nya, sehingga kelak kita mendapat naungan-Nya di hari kiamat. Amiin.
--------
Muhammad Zainul Millah, Wakil Katib PCNU Kab. Blitar.