Ramadhan

Kultum Ramadhan: Menjadi Manusia yang Bermanfaat bagi Sesama

Jumat, 6 Maret 2026 | 15:31 WIB

Kultum Ramadhan: Menjadi Manusia yang Bermanfaat bagi Sesama

Kultum Ramadhan (Freepik)

Manusia hidup di dunia ini memegang berbagai peran penting. Salah satunya adalah sebagai makhluk sosial, artinya manusia tidak bisa hidup sendiri, kita saling bergantung, membutuhkan, dan berinteraksi dengan orang lain. 


Di sisi lain, manusia juga makhluk individu, karena setiap orang memiliki tubuh dan jiwa yang unik. Hal ini membuat setiap manusia berbeda satu sama lain, dengan kepribadian dan ciri khas masing-masing.

 

Sebagai makhluk sosial, setiap orang memiliki potensi untuk membantu satu sama lain. Bahkan, tidak terbatas hanya dengan sesama manusia, tetapi dengan makhluk Allah swt yang lain seperti hewan, tumbuhan, dan lain sebagainya. Saling membantu atau menolong, khususnya dalam kebaikan ini, diperintahkan oleh Allah swt dalam Al-Qur'an:


وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ


Artinya, "Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya." ( Al-Maidah ayat 2).

 

Dengan memiliki kesadaran sebagai makhluk sosial tersebut, seseorang akan menjadikan hidupnya agar menjadi bermanfaat, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Orang-orang yang hidupnya bermanfaat untuk orang lain disebut oleh Rasulullah saw sebagai sebaik-baik manusia:


خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ


Artinya, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (HR Ahmad, Thabrani, dan Daruquthni).

 

Lalu bagaimana caranya agar kita menjadi orang yang bermanfaat? Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam kitab Syarah Nashaihul Ibad menjelaskan kebermanfaatan ini dapat diwujudkan dengan beberapa cara.


(خَصْلَتَانِ لَا شَيْءَ أَفْضَلُ مِنْهُمَا الْإِيْمَانُ بِاللّٰهِ وَالنَّفْعُ لِلْمُسْلِمِيْنَ) بِالْمَقَالِ أَوْ بِالْجَاهِ أَوْ بِالْمَالِ أَوْ بِالْبَدَنِ


Artinya, “Ada dua perkara yang tiada sesuatu pun melebihi keunggulannya, yaitu: Iman kepada Allah dan berbuat manfaat untuk kaum muslimin. (yang diwujudkan) dengan ucapan atau dengan kedudukan atau dengan harta atau dengan badan. (Syekh Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi bin Ali al-Jawi al-Bantani, Syarah Nashaihul Ibad, [Surabaya, Maktabah Muhammad bin Ahmad Nabhani Wa Auladihi: tt] hal 3-4)


Dalam konteks di bulan Ramadhan ini, semestinya kita dapat memfokuskan diri kita pada hal yang bermanfaat dalam hidup, yang dapat kita lakukan dengan ucapan, kedudukan, harta, ataupun badan kita.


Lisan kita dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan kebaikan semisal untuk berdakwah ataupun mengajarkan ilmu. Tak hanya bagi yang mengajarkan ilmu, bahkan ketika kita belajar dengan niat untuk mengajarkan ilmu itu kepada orang lain, akan mendapatkan pahala yang sangat besar. Seperti yang disampaikan dalam hadits:


مَنْ تَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ لِيُعَلِّمَ النَّاسَ أُعْطِيَ ثَوَابَ سَبْعِيْنَ صِدِّيْقًا

 

Artinya, “Orang yang belajar satu bab dari ilmu untuk diajarkan kepada orang lain, maka diberikan pahala 70 orang yang shiddiq”. (HR Ad-Dailami)


Kemudian, kebermanfaatan juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan potensi kedudukan, pangkat, atau jabatan yang kita miliki. Semakin tinggi pangkat atau jabatan seseorang, mestinya dia akan memiliki potensi yang lebih besar untuk menebar kebaikan.


Sebagai contoh, seorang rakyat biasa dibandingkan dengan seorang kepala desa atau bahkan presiden sebuah negara, tentu akan memiliki pengaruh yang berbeda. Seorang presiden, ia dapat membuat kebijakan yang dapat memberikan manfaat untuk jutaan rakyatnya. Sebaliknya, bila ia salah dalam membuat kebijakan, juga dapat menyengsarakan jutaan rakyat yang ia pimpin.


Maka, jabatan atau kedudukan ini menjadi penting dalam konteks untuk menebar manfaat atau kebaikan agar bisa lebih luas dan banyak dirasakan oleh orang lain. Menurut Imam Mawardi dalam kitab Adabud dunya waddin  halaman 217, pengaruh dari pemerintah atau pemimpin dapat menjadi salah satu penanda kebaikan dan keteraturan dunia ataupun sebuah negara.


Hal ketiga, kita dapat kita lakukan dengan harta yang kita miliki. Di bulan Ramadhan ini, kita dapat membantu saudara-saudara kita yang mungkin kesusahan dalam menyiapkan makanan untuk berbuka puasa, dengan menyediakan makanan atau sekadar minuman untuk mereka.

 

Selain itu, semisal ada kegiatan pembangunan masjid, mushola atau madrasah di lingkungan kita, maka kita dapat ikut berpartisipasi dengan menyumbangkan sebagian dari harta yang kita miliki. Dan tentu masih banyak hal yang dapat kita lakukan dengan cara memanfaatkan harta yang kita miliki untuk membantu orang lain.


Terlebih bila kita melaksanakannya di bulan Ramadhan ini, maka akan memiliki nilai yang utama, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah:


 اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ


Artinya, "Wahai Rasulullah saw, sedekah apa yang nilainya paling utama?" Nabi saw, menjawab: "Sedekah di dalam bulan Ramadhan" (HR at-Tirmidzi).


Lalu bagaimana bagi orang-orang yang merasa dia tidak memiliki cukup harta atau kedudukan di masyarakat. Bisa jadi orang tersebut juga tidak memiliki kompetensi dalam keilmuan untuk menyampaikan ilmu kepada orang lain lewat perkataannya.


Bagi orang-orang yang demikian, dapat memberikan manfaat kepada orang lain dengan anggota badan yang ia miliki. Tangan untuk membantu menggelar tikar atau karpet sajadah di masjid atau majelis taklim untuk kegiatan shalat ataupun pengajian, dan anggota badan lainnya yang dapat kita gunakan untuk memberi kebermanfaatan.


Bila masih merasa tidak mampu melakukan semuanya, maka setidaknya kita dapat memanjatkan doa untuk kebaikan orang-orang yang ada di sekitar kita dan seluruh kaum muslimin. Dengan demikian tidak ada alasan, bagi kita untuk tidak menjadi orang yang bermanfaat. 


Demikianlah kultum Ramadhan tentang hidup yang bermanfaat dan khususnya dalam konteks pelaksanaannya di bulan Ramadhan ini. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bermanfaat dan dicintai oleh Allah. Amin ya Rabbal ‘alamin.

-------------
Ajie Najmuddin, Pengurus MWCNU Banyudono Boyolali