Setiap kebaikan yang diberikan kepada orang lain pada hakikatnya akan berbalik kepada diri pelakunya. Orang yang gemar berbagi pada waktunya akan merasakan manfaat dari apa yang ia berikan, sedangkan mereka yang enggan memberi cenderung tidak memperoleh kebaikan dari orang lain. Sejatinya, kebaikan yang diterima seseorang merupakan hasil dari perbuatan baiknya sendiri.
Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad Saw menjelaskan siapa yang mengajak kebaikan, maka akan mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya, beliau bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
Artinya : Diriwayatkan dari Abi Hurairah sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda : "Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun." (HR. Muslim)
Imam An-Nawawi menjelaskan orang yang mengajak kepada kebaikan akan memperoleh pahala tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga pahala dari perbuatan baik para pengikutnya. Sebaliknya, orang yang menyesatkan orang lain akan memikul dosa dari kesalahan para pengikutnya, baik itu kesesatan berupa ucapan maupun tindakan.
Hal ini berlaku tidak hanya untuk ibadah semata, tetapi juga mencakup pengajaran ilmu, bahasa, dan berbagai bidang lainnya. Dengan kata lain, setiap perbuatan, baik kebaikan maupun keburukan, yang diprakarsai sendiri atau diteruskan dari orang lain, akan menjadi tanggung jawab moral bagi yang menyebarkannya.
Pesan ini mengingatkan kita bahwa setiap ajakan, baik berupa nasihat, pengajaran, atau teladan, memiliki konsekuensi spiritual yang besar. Menyebarkan kebaikan berarti menebar pahala berlipat, sementara menebar kesesatan sama artinya menanggung dosa kolektif dari mereka yang mengikuti. (Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj [Mesir: Darul Hadits, 1349 H], Juz XVI, halaman 228)
Pada dasarnya Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Maka pembahasan kali ini termasuk bagian dari landasan utama Islam. Lalu bagaimana cara mengejawantahkan Ihsan atau kebaikan agar berdampak luas bukan untuk diri kita saja, khususnya pada bulan Ramadhan ini.
Dalam bab Ihsan atau kebaikan, Syekh Izzuddin bin Abdissalam pada Kitab Syajaratul Ma'arif menjelaskan tentang ragam kebaikan yang berdampak luas yang bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.
الإِحْسَانُ المُتَعَدِّي يَتَعَلَّقُ بِالْقٌلُوْبِ وَالأَبْدَانِ، فَإِحْسَانُ القُلُوْبِ بِإِرَادَةِ كُل نَفْعِ لِلْعِبَادِ، فَإِنَّ الْإِرَادَةَ سَبَبٌ لِذَلِكَ، وَكَذَلِكَ بِالصَبْرِعَن المُظَالِمِ، وبِأَن تُحِبَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ، بِأَنْ تُوَقِّرَ مَا يُسْتَحَقُّ التُوَقِّيرَ
Artinya, “Ihsan yang berdampak luas itu berhubungan dengan hati dan raga, ihsan hati adalah dengan kemauan untuk senantiasa memberikan manfaat pada semua hamba. Sebab kemauan merupakan sebab untuk itu.
Demikian pula sikap sabar atas semua kezhaliman, dan hendaknya engkau mencintai setiap muslim sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri dan hendaknya engkau menghormati orang yang memang berhak untuk dihormati.” (Syekh Izzuddin bin Abdissalam, Kitab Syajaratul Ma'arif wal-Ahwal wa Shalihil Aqwal wal-A'mal [Beirut : Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah. 1424 H] halaman 115)
Lalu, Syekh Izzuddin bin Abdissalam menambahkan beberapa macam kebaikan yang secara badan atau ragawi harus dilakukan, di antaranya adalah :
1. Membantu melakukan orang lain berbuat taat
Hal ini bisa dilakukan dalam majelis yang dibuat selama bulan Ramadhan, baik itu majelis tadarus Al-Qur-an, majelis menjelang buka puasa atau kultum ba’da subuh. Dari kegiatan itu akan selaras dengan perkataan Syekh Izzuddin bin Abdissalam;
تَعْلُيْمُ أَسْبَابِ العِبَادَاتِ وَأَرْكَانُهَا وَشَرَائِطُهَا وَسُنَّتُهَا وَآدَبُهَا، وَمَا يٌوجِبُ نَقَصَهَا وَجُبْرَانَهَا، وَمَا يَقْتَضِي إِفْسَادَهَا وَبُطْلَانَهَا
Artinya, “Mengajarkan sebab-sebab ibadah, rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, Sunnah-sunnahnya, serta adab-adabnya dan apa yang mengakibatkan tidak sempurnanya, bagaimana menambalnya dan apa yang membuat ibadah itu rusak dan batal.” (Syekh Izzuddin bin Abdissalam, Syajaratul Ma'arif, [Beirut : Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah. 1424 H] halaman 119)
Melalui majelis bulan Ramadhan pastinya seseorang akan saling membantu melakukan ketaatan, agar ibadah mereka secara syariat benar dan diterima oleh Allah SWT.
2. Membantu hal yang bermanfaat duniawi atau ukhrawi
Seperti halnya, membantu memfasilitasi orang yang beritikaf di masjid, memberi makanan berbuka puasa, membantu ekonomi orang lain seperti sedekah dan zakat. Dipertegas juga dalam QS. Al-Maidah ayat 2 Allah SWT berfirman;
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Artinya, “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS.Al-Maidah ayat 2)
3. Berakhlak baik
Di era digital saat ini, akhlak mulia dapat diwujudkan dengan menjaga tutur kata, menjauhi ujaran kebencian, menyebarkan informasi yang benar, dan memberi tanggapan yang menyejukkan. Sikap ini membangun citra diri yang baik, menciptakan ruang digital yang sehat, serta menghindarkan seseorang dari konflik sosial dan masalah hukum.
Seperti Sabda Nabi Muhammad SAW tentang tidak diperbolehkan ujaran kebencian dan adu domba mencari kesalahan orang lain.
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Artinya, “Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dustanya perkataan. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, memata-matai, berkompetisi tidak sehat, saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR. Bukhari dan Muslim)
Walhasil, bulan Ramadhan mengajarkan bahwa kebaikan merupakan investasi jangka panjang yang mungkin tidak kembali dalam bentuk yang sama, tetapi hadir sesuai kebutuhan kita. Di tengah kehidupan masyarakat, Ramadhan mengajak untuk tetap bersikap lembut, karena menanam kebaikan hari ini adalah jalan paling tenang dan pasti menuju keberkahan di masa depan. Wallahu a’lam.
---------
Muhammad Syaf’ul Iktafi, Alumni Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah Salatiga