Sirah Nabawiyah

Sejarah Runtuhnya Kekuasaan Islam di Andalusia Spanyol

Kamis, 30 Juli 2026 | 12:00 WIB

Sejarah Runtuhnya Kekuasaan Islam di Andalusia Spanyol

Ilustrasi bendera Spanyol. Sumber: Canva

Menangislah seperti perempuan, atas sebuah kerajaan yang tidak mampu engkau pertahankan sebagaimana laki-laki mempertahankannya.” Demikianlah kalimat yang disampaikan oleh Aisyah al-Hurra (dalam literatur Spanyol lebih dikenal dengan nama Aixa) kepada putranya, Sultan Abu Abdillah Muhammad XI as-Shagir (Boabdil), ketika menyaksikan putranya menitikkan air mata saat menyerahkan kota Granada (Gharnathah) kepada Raja Ferdinand, sebagaimana dicatat oleh Syekh Ali at-Thanthawi dalam kitab Rijalun min at-Tarikh, halaman 323.


Dalam kisahnya, setelah Granada dipastikan jatuh ke tangan Raja Ferdinand, Sultan Abu Abdillah as-Shagir keluar meninggalkan kota yang selama ini menjadi benteng terakhir kekuasaan Islam di Andalusia bersama para pengikutnya. Dengan langkah yang sangat berat dan hati yang remuk, ia menanti kedatangan para penakluk untuk secara resmi menyerahkan kunci kota.


Setelah penyerahan itu selesai, ia berhenti sejenak, kemudian menoleh untuk terakhir kalinya ke arah Granada. Di hadapannya terbentang kota yang selama berabad-abad menjadi simbol kejayaan Islam, yang kini harus ditinggalkan untuk selamanya. Pemandangan itulah yang mengguncang jiwanya hingga tak kuasa menahan air mata. Di saat itulah sang ibu, Aixa al-Hurra, berkata kepadanya:


اِبْكِ مِثْلَ النِّسَاءِ مُلْكًا لَمْ تُحَافِظْ عَلَيْهِ مِثْلَ الرِّجَالِ


Artinya, “Menangislah seperti perempuan, atas sebuah kerajaan yang tidak mampu engkau pertahankan sebagaimana laki-laki mempertahankannya.” (Ali at-Thanthawi, Rijalun min at-Tarikh, [Jeddah: Dar al-Manarah, 1990 M], halaman 323).


Kejadian ini terjadi pada tahun 1492 Masehi, atau bertepatan dengan tahun 897 Hijriah. Granada, yang saat itu merupakan benteng terakhir kekuasaan umat Islam di Andalusia, harus runtuh dan berakhir dengan kekalahan umat Islam dari pasukan Kristen yang dipimpin oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Dengan berakhirnya Granada, maka berakhir pula sejarah kekuasaan Islam di wilayah Andalusia.


Sebab Runtuhnya Kekuasaan Islam Andalusia

Sebagaimana kejayaan kekuasaan Islam di Andalusia yang tidak diraih secara tiba-tiba, begitu juga dengan runtuhnya kekuasaan Islam di wilayah tersebut. Ia tidak runtuh secara tiba-tiba, tetapi berlangsung sejak lama karena dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan, baik faktor yang berasal dari dalam tubuh umat Islam itu sendiri, maupun tekanan yang datang dari luar.


Oleh sebab itu, membahas perihal sebab-sebab runtuhnya Andalusia tidak cukup hanya sebatas melihat sejarah runtuhnya Granada yang menjadi benteng terakhir Andalusia pada tahun 897 H/1492 M, tetapi juga harus menelusuri berbagai persoalan yang telah menggerogoti fondasi wilayah tersebut sebelum keruntuhan itu terjadi.


Mengutip penjelasan Syekh Muhammad Ali as-Shalabi, salah satu faktor yang menjadi penyebab runtuhnya Andalusia adalah hilangnya persatuan di kawasan Afrika Utara yang selama ini menjadi penyokong kekuatan Islam di Andalusia. Ketika Maghrib dilanda kekacauan dan perpecahan, putuslah bantuan dan suplai yang dibutuhkan oleh umat Islam di sana.


Selain itu, kemewahan dan kenikmatan duniawi telah memabukkan para penguasa dan rakyatnya, sehingga lupa bahwa di balik semua itu terdapat musuh yang sedang mengintai dan mempersiapkan serangan. Tidak hanya itu, keengganan untuk berjuang dan kecenderungan bermalas-malasan telah melemahkan semangat mereka, sehingga ketika perang datang, mereka sudah tidak lagi memiliki ketangguhan seperti para pendahulunya.


Perpecahan dan perselisihan antara umat Islam sendiri juga menjadi faktor utama di balik runtuhnya Andalusia. Mereka saling bermusuhan, saling menuduh, dan lebih suka memperebutkan kekuasaan kecil daripada bersatu menghadapi musuh bersama.


Bahkan lebih parahnya, sebagian dari mereka lebih memilih menjalin hubungan dengan orang Kristen dan membuat perjanjian dengan mereka di masa-masa kekuasaan penuh intrik antara Islam dan Kristen. Mereka meminta bantuan kepada kerajaan Kristen untuk melawan sesama Muslim, tetapi ketika saudara Muslim lainnya membutuhkan pertolongan, mereka memilih diam tanpa memberi bantuan.


Sementara itu, kaum Kristen yang mereka percayai justru memiliki niat yang buruk. Mereka dengan licik mengkhianati setiap perjanjian yang telah ditandatangani dan melanggar sumpah dengan mudah. Dan ketika umat Islam lengah, mereka menyerang dengan kekuatan penuh, puncaknya ketika umat Islam kehilangan kekhilafahan Umayyah di Cordoba, sehingga umat Islam tidak memiliki otoritas pusat yang mampu mempersatukan pasukan Muslim.


Selain itu, faktor lain yang menjadi penyebab runtuhnya Andalusia adalah tidak optimalnya peran para ulama dalam membimbing rakyat dan penguasa. Akibatnya, rakyat terbiasa dengan kepasrahan untuk tunduk di bawah dominasi kerajaan Kristen. Kemudian, buruknya tatak kelola pemerintahan, serta kebijakan pajak yang membebani umat juga faktor utama dalam keruntuhan tersebut.


Seluruh faktor tersebut saling berkaitan antara satu dengan lainnya, hingga pada akhirnya mengantarkan Andalusia pada babak terakhir secara perlahan, mulai dari runtuhnya kekhilafahan Umayyah di Cordoba, runtuhnya kerajaan-kerajaan kecil, hingga terakhir kekalahan Granada di bawah kepemimpinan Sultan Abu Abdillah as-Shagir menjadi akhir dari sejarah Andalusia di Spanyol.


Beberapa penjelasan faktor-faktor runtuhnya Andalusia ini sebagaimana dicatat oleh Syekh Muhammad Ali as-Shalabi, simak penjelasannya berikut ini:


كانت هناك أسباب عديدة ساهمت في سقوط الأندلس، من أهمها: تفكك وحدة الشمال الإفريقي، الانغماس في الشهوات، والركون إلى الدعة والترف، الاختلاف والتفرق بين المسلمين، موالاة النصارى والثقة بهم والتحالف معهم، التخاذل عن نصرة من يحتاج إلى نصرة، غدر النصارى ونقضهم للعهود، إلغاء الخلافة الأموية وظهور عصر الطوائف، عدم قيام العلماء بدورهم المطلوب، الرضا والخضوع والذل تحت حكم النصارى والطاعة لهم، سوء سياسة الولاة، وإرهاق الأمة بالجبايات


Artinya, “Terdapat banyak faktor yang berkontribusi di balik runtuhnya Andalusia. Di antara yang paling penting adalah terpecahnya persatuan kawasan Afrika Utara; tenggelam dalam hawa nafsu; kecenderungan hidup bermalas-malasan dan bermewah-mewahan; perselisihan dan perpecahan antara kaum Muslimin; menjalin loyalitas, kepercayaan, dan aliansi dengan orang Kristen, enggan memberi pertolongan kepada pihak yang membutuhkan bantuan;
 

Dihapuskannya Khilafah Umayyah dan munculnya era kerajaan-kerajaan kecil; tidak optimalnya para ulama dalam menjalankan peran yang semestinya; sikap rela, tunduk, dan hina di bawah kekuasaan kaum Kristen serta menaati mereka, buruknya kebijakan penguasa, serta membebani rakyat dengan berbagai pajak.” (As-Shalabi, Tarikh Daulatail Murabithin wal Muwahhidin, [Oman: Markaz al-Kitab, 2024 M], halaman 502).


Selain beberapa faktor yang telah disebutkan di atas, faktor lain yang tidak kalah besar pengaruhnya terhadap runtuhnya kekuasaan Islam di Andalusia adalah terjadinya kezaliman politik dalam menjalankan amanah di kalangan para penguasa.


Sebagaimana dicatat oleh Dr. Husain Abdul Hakim dan beberapa peneliti lainnya dari Maroko, para penguasa saat itu tidak menjalankan amanah politik dengan adil. Alih-alih mengayomi seluruh rakyat secara merata, mereka justru lebih mengutamakan kepentingan suku, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Ini bisa dibuktikan dengan fakta bahwa mereka memberikan banyak pemberian dan hadiah kepada orang-orang dari golongan mereka sendiri, sementara yang lain diperlakukan tidak adil. Simak penjelasan berikut ini:


كان الظلم السياسي سببا من ضمن الأسباب الكثيرة التي أدت إلى سقوط الأندلس... فقد كان كل حاكم يميل إلى قبيلته وعصبته على حساب باقي القبائل الأخرى، ويميزهم بالهبات والعطايا


Artinya, “Ketidakadilan politik adalah salah satu sebab dari sekian banyak sebab yang menjurus pada runtuhnya Andalusia... Setiap penguasa cenderung memihak pada kaum dan kelompoknya sendiri, dengan mengorbankan kepentingan kelompok lain, serta mengistimewakannya dengan pemberian dan hadiah-hadiah.” (Husain Abdul Karim, at-Tarikh Yu’idu Nafsahu, [Mesir, t.t], halaman 122).


Dalam penjelasan lanjutannya, Husain Abdul Karim menjelaskan bahwa penyebab diskriminatif inilah yang kemudian memicu kecemburuan, memperluas perpecahan, dan melahirkan konflik berkepanjangan yang dalam beberapa kesempatan bahkan berujung pada peperangan dan pertumpahan darah antarsesama Muslim.


Lebih parahnya lagi, para penguasa tidak berupaya untuk menghentikan perseteruan tersebut, mereka bahkan membiarkan permusuhan dan peperangan itu terus terjadi di antara kaum muslimin di Andalusia. Akibatnya, persatuan politik semakin rapuh, kekuatan militer terus melemah, dan Andalusia kehilangan kemampuan untuk menghadapi ancaman dari luar hingga akhirnya runtuh.


Kemudian, faktor lain yang juga turut menjadi penyebab runtuhnya kekuasaan Islam di Andalusia adalah tercerai-berainya para penguasa dan hilangnya persatuan politik di antara mereka. Akibatnya, masing-masing penguasa lebih sibuk mempertahankan wilayah kekuasaannya sendiri daripada memikirkan kepentingan umat secara keseluruhan.


Setiap penguasa yang berhasil menguasai suatu daerah akan mengangkat dirinya sebagai raja yang berdiri sendiri, sehingga Andalusia terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang saling bersaing antara satu dengan yang lainnya.


Penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Syekh Muhammad Khadir Husain, seorang ulama berkebangsaan Aljazair yang pernah menjabat sebagai Grand Syekh Al-Azhar Mesir pada tahun 1952-1954 M. Dalam salah satu karyanya mengatakan:


ومن أسباب سقوط الأندلس: تفرق أمرائها وعدم اتحادهم فتسمى كل من ملك شيئا ملكا


Artinya, “Salah satu sebab runtuhnya Andalusia adalah tercerai-berainya para penguasanya dan tidak adanya persatuan di antara mereka, sehingga setiap orang yang berhasil menguasai suatu wilayah akan mengangkat dirinya sebagai raja.” (Mausu’atul A’mal al-Kamilah, [Syiria: Dar Nawadir, t.t.], jilid XXIII, halaman 110).


Pelajaran dari Runtuhnya Kekuasaan Islam Andalusia

Dari beberapa penjelasan di atas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa runtuhnya kekuasaan Islam di Andalusia menjadi pelajaran penting untuk direnungi bersama. Salah satunya adalah bahwa peradaban besar tidak hanya dibangun oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh persatuan umat. Ketika prinsip persatuan ini mulai dihiraukan bahkan ditinggalkan, maka muncullah perpecahan dan ambisi pribadi setiap orang. Pada momen inilah kehancuran suatu bangsa dan peradaban akan segera tiba.


Oleh sebab itu, salah satu pesan utama yang sangat ditekankan Al-Qur’an kepada umat Islam adalah persatuan dan menghindari perpecahan, karena di dalam persatuan itulah kekuatan besar bisa terwujud. Allah swt berfirman:


وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَائِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ


Artinya, “Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang sangat berat.” (Ali ‘Imran, [3]: 105).


Selain persatuan, kita juga bisa mempelajari betapa pentingnya kokohnya akidah, kemajuan ekonomi, serta kepemimpinan yang adil dalam membangun dan mempertahankan suatu bangsa dan peradaban. Hilangnya prinsip-prinsip itulah yang menjadi salah satu penyebab lain dari runtuhnya kekuasaan Islam di Andalusia.


Selain itu, perpecahan politik, hilangnya solidaritas, lunturnya semangat perjuangan, hingga buruknya tata kelola pemerintahan juga menjadi faktor utama di balik runtuhnya Andalusia, yang kemudian dimanfaatkan oleh musuh-musuh dari luar untuk menyerang dan menghabisi umat Islam.


Pada akhirnya, kisah runtuhnya kekuasaan Islam di Andalusia hendaknya tidak hanya dikenang sebagai air mata kesedihan saja, tetapi juga direnungi dan diambil hikmahnya. Karena sejarah tidak hanya cerita masa lalu, melainkan guru yang dapat menuntun setiap manusia untuk tidak melakukan kesalahan yang sama di momen berikutnya.


Selama umat Islam mampu menjadikan sejarah sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki diri, bangsa, dan peradaban, selama itu pula tragedi yang pernah menimpa Andalusia tidak akan terulang kembali. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Ustadz Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop Bangkalan Jawa Timur.