Salah satu di antaranya adalah pengetahuan untuk melakukan penafsiran terhadap teks Al-Quran.
Imam Abu Ishak As-Syirazi dalam Al-Luma’ fî Ushûlil Fiqih (Jakarta: Darul Kutub Al-Islamiyyah, 2010) halaman 4 menyebutkan bahwa secara definitif.
Ilmu dimaknai sebagai berikut:
Artinya, “Ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan apa adanya (kenyataan), sedangkan kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa ilmu ialah meyakini sesuatu sesuai dengan apa yang memuaskan hati seseorang. Definisi ini keliru karena bisa saja seorang pendosa meyakini bahwa ia berbuat benar.”
As-Syirazi yang merupakan penganut Madzhab Teologis Asyariyyah berusaha menyinkronkan pengetahuan dan kenyataan, berbeda dengan kaum Mu’tazilah yang mengkaitkan pengetahuan dan keyakinan, yang tentu saja keliru sebagaimana kasus seorang pendosa yang bisa saja ia meyakini apa yang dilakukannya benar. Namun, akal sehat manusia tentu saja menyatakan bahwa nyatanya tidaklah demikian.
Dalam memilah ilmu, As-Syirazi membuat kategorisasi sebagai berikut:
Artinya, “Ilmu terbagi atas dua, yakni qadim dan muhdits. Ilmu qadim ialah pengetahuan Allah yang berkaitan dengan keseluruhan pengetahuan. Ilmu muhdits ialah ilmu yang diberikan kepada makhluk. Terbagi menjadi dua yakni dlaruri dan muktasab. Ilmu dlaruri ialah ilmu yang didapat tanpa proses karena ia datang secara spontanitas seperti pengetahuan yang didapat dari hasil rasa panca indera, yakni pendengaran, penglihatan, perabaan, penciuman, dan perasaan. Ilmu muktasab ialah ilmu yang hadir sesudah proses pemikiran dan pencarian dalil seperti pengetahuan tentang ketidakkekalan alam, wajib keberadaan Sang Pencipta, kebenaran risalah Rasul, kewajiban shalat beserta jumlah rakaatnya, dan pengetahuan lainnya yang tidak bisa didapatkan kecuali dengan proses pemikiran dan pencarian dalil.”
Dari pernyataan di atas bisa kita pahami bahwa di balik sifat kemahatahuan Allah, terdapat potensi yang Allah berikan kepada manusia untuk berpikir dan menghasilkan pengetahuan yang didapat dari proses pencarian dalil dan pemikiran.
Sebagai contoh, akal kita tidak mungkin menerima jika Allah memiliki tangan karena memiliki tangan adalah sifat makhluk. Sementara Allah mustahil sama dengan makhluk (mukhalafatu lil hawadits). Oleh karena itu kita melakukan proses pentakwilan bahwa yang dimaksud dengan tangan di situ adalah kekuasaan.
Menelan mentah-mentah teks Al-Quran tanpa proses berpikir bisa jadi akan berakibat melemahnya keimanan kita. Oleh karena itu, jangan berputus asa terhadap kemampuan akal yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Wallahu a’lam. (Muhammad Ibnu Sahroji)