Pesan Al-Qur'an: Tetaplah Istiqamah, Meskipun Hidup Terasa Berat
Sabtu, 6 Juni 2026 | 12:00 WIB
"Nabi pernah ditanya, 'Apa yang paling berat dalam hidup ini?'" demikian Prof. Quraish Shihab mengisahkan dalam acara Shihab dan Shihab.
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Bukankah seorang Nabi menghadapi begitu banyak ujian? Nabi dihina, diusir dari kampung halamannya, diperangi, bahkan nyawanya terancam berkali-kali.
Namun, jawaban Rasulullah justru mengarah pada hal lain. Sesuatu yang tampaknya sederhana, tetapi ternyata sangat berat untuk dijalankan.
Rasulullah menjawab;
اسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
Artinya: "Istiqamahlah sebagaimana engkau diperintahkan."
Perintah Allah itu ada dalam Surat Hud ayat 112, yang lengkapnya berbunyi:
اسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ ١١٢
fastaqim kamâ umirta wa man tâba ma‘aka wa lâ tathghau, innahû bimâ ta‘malûna bashîr
Artinya; "Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
Barangkali, apa yang disampaikan oleh Al-Qur’an, dan juga dijelaskan oleh Nabi ini mendapatkan kontekstualisasinya. Ada banyak orang yang bersemangat pada hari pertama. Namun, tidak banyak yang masih bertahan hingga hari keseratus.
Mereka datang dengan mimpi besar. Ingin menghafal Al-Qur'an. Menulis buku. Menyelesaikan kuliah. Membangun usaha. Memperbaiki diri. Target disusun rapi. Jadwal dibuat. Rencana diumumkan ke mana-mana.
Lalu waktu berjalan. Kesibukan datang. Kegagalan menyapa. Hasil yang diharapkan tak kunjung terlihat. Perlahan semangat mulai berkurang. Satu demi satu target ditinggalkan. Apa yang dulu diperjuangkan mati bukan karena mustahil dicapai, melainkan karena tidak cukup lama untuk dipertahankan.
Mengapa perintah istiqamah dalam ayat ini terasa begitu berat? Imam Qurthubi dalam Tafsir Al-Jami’ li Ahkami Al-Qur’an memberikan penjelasan yang menarik. Menurutnya, istiqamah adalah
al-istimrâr fî jihatin wâhidah min ghairi akhdzin fî jihati al-yamîn wa al-syimâl,
Yakni terus berjalan pada satu arah tanpa menyimpang ke kanan maupun ke kiri. Karena itu ia kembali menegaskan, fastaqim 'alâ imtitsâli amrillâh, beristiqamahlah dalam melaksanakan dan menaati perintah Allah.
Dari sini kita dapat memahami mengapa istiqamah bukan perkara yang mudah. Pasalnya, sepintas istiqamah sering dipahami hanya sebagai konsistensi dalam beribadah atau keteguhan dalam memegang prinsip.
Pemahaman itu tidak keliru, tetapi belum sepenuhnya menangkap kedalaman maknanya. Sebab istiqamah bukan sekadar bertahan dalam sebuah aktivitas, melainkan kemampuan untuk terus berada di jalan yang benar sebagaimana diperintahkan Allah.
Di situlah letak beratnya. Banyak orang mampu berjalan. Banyak pula yang sanggup bertahan. Namun, tidak semua mampu memastikan bahwa langkah yang ditempuh tetap berada di jalur yang benar. Seseorang bisa saja begitu bersemangat, tetapi salah arah.
Bisa pula begitu teguh memegang prinsip, tetapi prinsip yang dipertahankannya justru menjauhkan dirinya dari tujuan. Karena itu, istiqamah bukan hanya soal konsisten berjalan, melainkan konsisten berjalan di jalan yang benar.
Simak keterangan Imam Qurthubi berikut;
قوله تعالى : فاستقم كما أمرت الخطاب للنبي - صلى الله عليه وسلم - ولغيره . وقيل : له والمراد أمته ; قاله السدي . وقيل : " استقم " اطلب الإقامة على الدين من الله واسأله ذلك . فتكون السين سين السؤال ، كما تقول : أستغفر الله أطلب الغفران منه . والاستقامة الاستمرار في جهة واحدة من غير أخذ في جهة اليمين والشمال ; فاستقم على امتثال أمر الله
Artinya; Firman-Nya: "Maka beristiqamahlah sebagaimana engkau diperintahkan." Khithab (seruan) ini ditujukan kepada Nabi SAW dan juga kepada selain beliau. Ada yang berpendapat bahwa seruan itu ditujukan kepada beliau, tetapi yang dimaksud adalah umat beliau; demikian pendapat As-Suddi.
Ada pula yang berpendapat bahwa makna "istaqim" (beristiqamahlah) adalah: mohonlah kepada Allah agar Dia meneguhkanmu dalam agama dan mintalah hal itu kepada-Nya. Dengan demikian, huruf sin pada kata tersebut adalah sin ath-thalab (huruf yang menunjukkan makna permintaan), sebagaimana ucapanmu: "Astaghfirullāh" (aku memohon ampun kepada Allah), yakni aku memohon ampunan kepada-Nya.
Istiqamah adalah menempuh satu arah secara terus-menerus tanpa menyimpang ke kanan maupun ke kiri. Maka beristiqamahlah dalam melaksanakan dan menaati perintah Allah. (Imam Qurthubi, Tafsir Al-Jami' li Ahkami Al-Qur'an, [Beirut: Darul Fikr, tt], jilid IX, halaman 95).
Sementara itu, Imam Baghawi dalam Ma‘alim at-Tanzil menjelaskan hal yang serupa. Menurutnya, makna ayat ini adalah beristiqamahlah dalam agama Islam, amalkanlah, dan ajaklah manusia kepadanya sebagaimana engkau diperintahkan. Adapun kalimat wa man tâba ma‘aka berarti orang-orang yang beriman bersama Nabi juga harus beristiqamah.
Di sini terlihat bahwa istiqamah bukan hanya urusan individu semata. Ia juga urusan sosial. Bukan hanya soal menjaga diri, tetapi juga menjaga arah gerak umat. Sebab apabila satu umat kehilangan istiqamah, maka yang hilang bukan cuma keteguhan pribadi, tetapi juga ketepatan jalan bersama.
Simak keterangan lengkap Imam Baghawi ini;
قوله عز وجل : ( فاستقم كما أمرت ) أي : استقم على دين ربك ، والعمل به ، والدعاء إليه كما أمرت ( ومن تاب معك ) أي : ومن آمن معك فليستقيموا
Artinya, "Firman Allah Yang Mahamulia: 'Maka beristiqamahlah sebagaimana engkau diperintahkan.' Maksudnya, beristiqamahlah di atas agama Tuhanmu, mengamalkannya, dan mengajak manusia kepadanya sebagaimana yang telah diperintahkan kepada kamu. 'Dan orang-orang yang bertobat bersamamu.' Maksudnya, orang-orang yang beriman bersamamu juga hendaklah beristiqamah." (Imam Baghawi, Ma’alimul Tanzil, [Riyad: Darul Thaibah, 1411 H], Jilid IV, halaman 203).
Menariknya, kita akan menemukan dalam psikologi sebuah konsep yang dekat dengan makna istiqamah. Konsep itu disebut grit. Psikolog Angela Duckworth dalam Grit: Perseverance and Passion for Long-Term Goals mendefinisikan grit sebagai ketekunan dan gairah terhadap tujuan jangka panjang.
Menurutnya, orang yang memiliki grit akan terus bekerja keras menghadapi tantangan dan mempertahankan usahanya selama bertahun-tahun meskipun harus berhadapan dengan kegagalan, kesulitan, dan masa-masa ketika kemajuan tampak berhenti.
Bagi orang yang memiliki grit, pencapaian bukanlah lari cepat 100 meter. Ia adalah maraton panjang yang membutuhkan ketahanan. Ketika kebosanan membuat orang lain berbalik arah, mereka justru tetap berjalan. Ketika kegagalan membuat sebagian orang menyerah, mereka memilih untuk bertahan.
Bukankah gambaran ini sangat dekat dengan makna istiqamah? Karena itu, keberhasilan sering kali tidak ditentukan oleh siapa yang paling berbakat, melainkan oleh siapa yang paling lama bertahan. Banyak orang kalah bukan karena tidak mampu, tetapi karena berhenti terlalu cepat. Mereka meninggalkan ladang tepat sebelum masa panen tiba.
Lebih jauh, Umar bin Al-Khaththab r.a. pernah berkata, istiqamah adalah tetap teguh menjalankan perintah dan larangan Allah, serta tidak menyimpang darinya sebagaimana liciknya seekor rubah yang berkelok-kelok. Perkataan Umar ini menyentak. Sebab istiqamah ternyata bukan hanya soal rajin. Ia juga soal waspada. Bukan hanya soal tekun, tetapi juga soal tidak licin dan tidak berkelok-kelok. (Tafsir Maa’limul Tanzil, halaman 203).
Kiat Agar Konsisten Istiqamah dalam Hidup
Karena itu, agar senantiasa istiqamah, kata Profesor Quraish Shihab, diperlukan pengetahuan. Kita tidak mungkin mengetahui titik tengah apabila tidak mengetahui batas kanan dan kiri. Kita tidak bisa menentukan siapa yang berdiri tepat di tengah sebuah shaf kecuali setelah mengetahui jumlah orang yang berdiri di dalamnya. Harus diketahui terlebih dahulu mana sisi kanan dan mana sisi kiri, barulah posisi tengah dapat ditentukan.
Demikian pula dalam kehidupan beragama. Seseorang bisa saja merasa sedang membela agama, padahal yang dibelanya hanyalah emosi. Ia merasa sedang menjaga kemurnian ajaran, padahal sesungguhnya sedang bergerak menjauh dari keseimbangan yang diajarkan dalam Islam. Tanpa ilmu, seseorang mudah mengira dirinya berada di tengah, padahal telah lama berjalan di pinggir.
Namun, selesaikah persoalannya dengan ilmu? Ternyata tidak. Istiqamah bukan hanya persoalan pengetahuan, tetapi juga memerlukan pelbagai kiat agar senantiasa istiqamah, yakni harus memiliki pengendalian diri (self-control). Angela Duckworth dan James J. Gross dalam jurnal berjudul "Self-Control and Grit: Related but Separable Determinants of Success" mengatakan bahwa pengendalian diri adalah kemampuan untuk mengatur perhatian, emosi, dan perilaku ketika menghadapi godaan.
Sebab banyak penyimpangan lahir bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena ketidakmampuan mengendalikan emosi. Ada orang yang begitu bersemangat beribadah hingga melampaui batas. Ada yang begitu berapi-api membela agama hingga kehilangan akal sehat. Ada yang begitu keras mengoreksi orang lain hingga lupa mengoreksi dirinya sendiri.
Karena itulah Allah tidak hanya memerintahkan istiqamah.
Ayat ini juga diakhiri dengan peringatan yang sangat penting:
وَلَا تَطْغَوْا
"Wa lâ tathghau."
"Janganlah kalian melampaui batas."
Mungkin inilah yang dimaksud Prof. Quraish Shihab ketika menjelaskan beratnya perintah istiqamah. Untuk tetap berada di jalan yang lurus, diperlukan dua hal sekaligus: kejelasan ilmu dan kematangan emosi. Ilmu menjaga seseorang dari kesesatan berpikir, sedangkan pengendalian diri menjaga seseorang dari sikap melampaui batas.
Inilah titik yang sering dilupakan. Tidak semua penyimpangan lahir dari sikap meremehkan agama. Sebagian justru lahir dari semangat beragama yang berlebihan. Orang mengira semakin keras sikapnya, semakin tinggi pula kualitas keimanannya. Semakin ketat pandangannya, semakin dekat pula dirinya kepada Tuhan.
Padahal Islam tidak mengajarkan kebengisan atas nama kebenaran. Islam mengajarkan jalan lurus. Jalan yang jernih. Jalan yang seimbang. Jalan yang tidak menyepelekan perintah Allah, tetapi juga tidak melampaui batas dalam menegakkannya.
Allah berfirman;
وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُۚ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖۗ ذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ١٥٣
Artinya; "Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) sehingga mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya. Demikian Dia perintahkan kepadamu agar kamu bertakwa."
Istiqamah pada akhirnya bukan soal seberapa banyak seseorang memulai perjalanan. Bukan pula seberapa lantang ia mengumumkan tujuannya. Istiqamah adalah soal bertahan di jalan yang telah ditetapkan Allah, ketika jalan itu tidak lagi menarik, tidak lagi mudah, dan tidak lagi disukai oleh hawa nafsu.
Di titik itu, istiqamah bukan lagi sebatas teori. Ia menjadi ujian harian. Dan di situlah manusia benar-benar diuji: bukan pada awal langkahnya, melainkan pada kesanggupannya untuk tidak keluar dari garis yang telah ditentukan. Sebab di jalan Allah, yang berat bukan memulai. Yang berat adalah tetap lurus sampai akhir.
Ustadz Zainuddin Lubis, Redaktur Keislaman NU Online.