Salah satu krisis yang dihadapi manusia modern sekarang bukan kurangnya informasi, melainkan kurangnya pengendalian diri (self control). Manusia seakan berada di bawah alam sadar atas segala aktivitas mereka. Terus-menerus menjawab notifikasi, mengejar peluang, membalas komentar, dan lain-lain.
Kondisi ini disebabkan perubahan sosial yang begitu cepat, tekanan ekonomi, kompetisi akademik dan profesional, paparan media yang intensif menyebabkan manusia terjangkit penyakit psikologis yang kompleks. Rasa cemas, stres, hingga krisis makna hidup.
Tulisan ini hendak menghadirkan bagaimana respon dari psikologi Islam dalam menyikapi ragam penyakit tersebut dan bagaimana peran puasa sebagai self control manusia.
Islam Melihat Kesehatan Mental
Dalam perspektif psikologi Islam, manusia tidak hanya dipahami sebagai makhluk biologis dan psikologis. Ia juga memiliki dimensi spiritual. Dalam diri manusia terdapat hati (qalb), jiwa (nafs), akal, dan ruh yang saling berinteraksi membentuk kepribadian. Mental yang bermasalah bukan sekadar gangguan psikologis, tapi juga adanya keguncangan internal yang berakar pada nilai ketuhanan. (Miskahuddin, Pendidikan Puasa dan Kesehatan Mental dalam Perspektif Psikologi Islam, Jurnal An-Nur, 2025, halaman 624).
Baca Juga
Melawan Serakahnomic dengan Puasa
Iyang diartikan jiwa tidak berdiri dalam makna tunggal. Ia bisa berubah, bisa berada dalam pengaruh kendali (muthmainnah) atau bahkan malah hilang kendali (ammarah). Ketika dalam kondisi stabil, manusia akan memperoleh ketenangan batin dan arah hidup jadi jelas. Tapi, jika sebaliknya, manusia jadi cenderung agresif, lepas kontrol, mudah marah dan sebagainya.
Nafs dalam hubungannya dengan akal juga harus seimbang. Orang yang nafsnya lebih dominan daripada akal cenderung punya sifat merusak. Karena akal yang punya kendali evaluasi malah dibuat tunduk kepada nafs. Akal pun dalam peranannya tidak berdiri sendiri, ia harus dibimbing oleh wahyu. Kombinasi ini menjadikan seseorang cerdas rasional juga spiritual.
Hati (qalb) berfungsi menopang kesadaran dan moral manusia. Ia ibarat raja dalam anatomi tubuh manusia. Ketika hati baik, maka seluruh tubuh (perilaku) akan menjadi baik. Ketika ia terganggu dengan penyakit hasad, sombong, dan riya maka akan merusak seluruhnya.
Puasa Sebagai Self Control
Dalam hal ini, pesan penting dari ibadah puasa itu hadir. Umat Islam diwajibkan puasa sebulan penuh di bulan Ramadan sebagaimana tertuang dalam Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Shiyam secara bahasa berarti imsak (menahan diri). Sementara dari segi istilah atau syar’i ialah menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang dapat membatalkan puasa dari terbit fajar di waktu subuh hingga matahari terbenam pada waktu azan magrib.
Berdasarkan ayat, umat terdahulu juga dikenakan syariat puasa. Sebagaimana yang dilakukan oleh Siti Maryam dengan cara puasa berbicara. Namun, semuanya tetap punya kesamaan, yakni menahan diri.
فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا ۚفَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًاۙ فَقُوْلِيْٓ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّا
Artinya: “Makan, minum, dan bersukacitalah engkau (Maryam). Jika engkau melihat seseorang, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar puasa (bicara) untuk Tuhan Yang Maha Pengasih. Oleh karena itu, aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.” (QS Maryam: 26).
Puasa Media Pendidik Jiwa
Ibadah puasa tidak terbatas pada praktik menahan lapar dan dahaga, melainkan suatu sistem pendidikan ruhani yang komprehensif dan terstruktur. Ada keterlibatan dimensi biologis, psikologis, spiritual, dan sosial. Di sinilah posisi puasa menjadi tazkiyat nafs (penyucian jiwa) sekaligus latihan psikologis untuk membentuk manusia menjadi pribadi yang bertakwa dan sehat secara mental.
Imam Al-Ghazali memetakan orang berpuasa itu dalam tiga level tingkatan. Mulai dari level terendah hingga mereka yang berpredikat tertinggi. Awam, lalu khusus, hingga khususul khusus.
أما صَوْمُ الْعُمُومِ فَهُوَ كَفُّ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ عَنْ قضاء الشهوة كما سبق تفصيله وَأَمَّا صَوْمُ الْخُصُوصِ فَهُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانوِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ وأما صوم خصوص الخصوص فصوم القلب عن الهضم الدَّنِيَّةِ وَالْأَفْكَارِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللَّهِ عز وجل بالكلية
Artinya: “Puasa orang awam ialah yang menahan perut dan kemaluan dari memenuhi keinginan syahwat, adapun puasanya orang yang khusus yaitu orang yang menahan telinga, mata, lisan, tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sementara tingkatan yang paling khusus adalah orang yang mampu menahan hatinya dari keinginan duniawi secara menyeluruh.” (Ihya’, [Dar Al-Ma’rifah: Beirut], juz I, halaman 234).
Apa yang diungkap oleh Imam Al-Ghazali sejalan dengan pandangan psikologi modern. Praktik puasa sebagai penguat mental dapat diraih ketika seseorang memusatkan penuh perhatian terhadap pengendalian diri dari hal-hal yang dilarang dan berusaha agar anggota tubuh, mental dan raganya dapat terkontrol.
Dalam psikologi modern, kemampuan menunda kepuasan dikenal sebagai delay of gratification, yaitu kemampuan menahan dorongan sesaat demi tujuan yang lebih besar. Puasa secara tidak langsung melatih kemampuan ini. Melihat praktik puasa menahan berbicara kisah Maryam dan perintah puasa dalam Al-Qur’an, kita diajarkan untuk memiliki stabilitas emosi, ketahanan stres, tidak terganggu apapun yang datangnya dari luar.
Selain itu, yang tak kalah penting, puasa juga membangun disiplin batin. Sebagai ibadah yang sifatnya privasi, puasa melatih kesadaran penuh untuk jujur kepada diri sendiri dan juga memperkuat kesadaran akan pengawasan Allah semata.
Hal itu terlihat dalam hadis Nabi saw:
إذا أصبَحَ أحدُكم يومًا صائمًا، فلا يرفُثْ ولا يَجهَلْ، فإنِ امرؤٌ شاتَمَه أو قاتَلَه، فلْيَقُل: إنِّي صائِمٌ، إنِّي صائِمٌ
Artinya: "Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah ia berbuat keji berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, 'Aku sedang berpuasa'." (HR Muslim).
Puasa menjadi perisai kita dalam menghadapi dunia modern yang selalu memaksa sibuk bereaksi, bukan berefleksi. Lewat puasa, ketika dituntut untuk tidak menanggapi semua hal meskipun punya hak. Ketika celaan datang, kita punya hak membela harga diri kita yang dihinakan. Tapi, puasa mencegah kita untuk melakukannya.
Alhasil, puasa dapat dipahami sebagai latihan disiplin diri yang terstruktur dan dilakukan secara berkala setiap tahun, sehingga berkontribusi terhadap penguatan ketahanan psikologis dalam jangka panjang.
Belajar dari Rasa Lapar
Hal penting berikutnya yang sudah jamak diketahui adalah menahan makan dan minum. Dari azan subuh hingga Magrib, seseorang harus berada dalam rasa lapar. Sekilas seperti menyakitkan. Tapi justru ini memberi makna positif dalam pengelolaan stress.
Dalam psikologi ada istilah meaning focused coping. Individu di saat mampu memberi makna spiritual terhadap pengalaman yang sulit, cenderung punya mental tangguh.
Rasa lapar yang ditahan sementara, lalu dimaknai positif bahwa itu tidak berlangsung lama karena akan tergantikan dengan berbuka, punya dampak baik pada tumbuhnya optimisme dan harapan yang sangat berpengaruh terhadap mental seseorang. (Miskahuddin, 630).
Puasa punya pengaruh sebagai self control psikis seseorang yang menjalankannya. Keseimbangan antara akal, hati, ruh, dan jiwa berkembang semakin baik lewat menjalankan syariat puasa. Tentunya ini tidak akan didapatkan ketika level puasa hanya menahan lapar dahaga. Melainkan bertekad kuat untuk mampu menjaga jiwa dan raga dari segala hal-hal yang Allah larang.
Pada akhirnya, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan tahunan bagi manusia untuk menguasai dirinya sendiri. Di tengah dunia yang terus mendorong manusia bereaksi cepat terhadap segala hal, puasa mengajarkan satu kemampuan yang semakin langka berhenti sejenak, menahan diri, dan mengendalikan jiwa. Wallahu a'lam.
Ustadz Muhammad Izharuddin, Alumni STKQ Al-Hikam Depok, Mahasiswa Magister PTIQ Jakarta